Dalam masyarakat di mana nilai manusia sering diukur berdasarkan produktivitas, jabatan, atau saldo rekening bank, mengundurkan diri secara sukarela dapat dengan mudah membuat orang lain percaya bahwa Anda menghindari tanggung jawab, tidak berguna, atau malas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren baru telah muncul: "pengangguran bahagia." Alih-alih merasa depresi atau kewalahan, banyak orang memilih untuk secara proaktif mengundurkan diri dari pekerjaan mereka, memilih untuk menganggur, dan menerimanya.

Menurut Kamus Collins, "pengangguran bahagia" adalah funemployment. Frasa ini merupakan gabungan dari kata "fun" (menyenangkan) dan "unemployment" (pengangguran). Frasa ini juga digunakan untuk menggambarkan keadaan benar-benar menikmati waktu luang dari pekerjaan. Sekilas, "pengangguran bahagia" tampak paradoks. Tetapi ini adalah kenyataan bagi banyak orang, terutama kaum muda.
"Pengangguran yang menyenangkan" menggambarkan orang-orang yang secara aktif dan senang menikmati waktu luang mereka setelah meninggalkan pekerjaan. Mereka tidak berusaha mencari pekerjaan baru secepat mungkin. Sebaliknya, individu-individu ini ingin menikmati waktu luang mereka dengan bepergian , berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi, atau sekadar menghabiskan waktu bersama diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Mereka meninggalkan pekerjaan yang stabil, gaji yang layak, dan bahkan status tinggi untuk menemukan kedamaian, ketenangan, dan makna dalam hidup.
Pada kenyataannya, tidak semua orang berhenti kerja karena lelah atau tidak puas dengan pekerjaan mereka. Banyak yang menyadari harga yang harus mereka bayar untuk beberapa puluh juta dong per bulan: kesehatan mereka, waktu bersama keluarga, dan akhir pekan yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Mereka menyadari bahwa mereka hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup.
Saya punya seorang teman yang berusia lebih dari 40 tahun, dan perusahaannya baru saja bergabung. Tak lama lagi, tempat kerjanya juga akan pindah lokasi. Karena itu, dia memilih untuk pensiun dini dan merasa nyaman dengan pilihannya. Dia bercerita, "Sekarang saya punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan anak-anak saya. Karena suami saya sering bekerja jauh dari rumah, saya memprioritaskan anak-anak saya." Jadi, alih-alih khawatir dan merasa sedih, teman saya memilih "pengangguran bahagia." Ini berarti dia secara proaktif berhenti bekerja untuk meluangkan waktu beristirahat dan menyegarkan diri. Tentu saja, untuk mencapai waktu luang ini, dia harus mempersiapkan diri dengan baik secara mental dan finansial .
"Pengangguran yang bahagia" bukanlah kemalasan. Sebaliknya, banyak dari mereka masih bekerja, tetapi dengan cara mereka sendiri: menulis, menanam sayuran, mengajar daring, membuat kerajinan tangan, berjualan daring... Hal-hal yang sebelumnya mungkin dianggap sepele kini telah menjadi sumber penghidupan, baik secara materi maupun spiritual.
Ketika Anda "bahagia saat menganggur," Anda tidak lagi hidup dalam perlombaan untuk meraih prestasi, melainkan dalam perjalanan penemuan diri. Tentu saja, untuk bahagia saat menganggur membutuhkan banyak faktor seperti: cadangan keuangan, dukungan dari keluarga atau komunitas, kemampuan beradaptasi, dan terutama keberanian untuk hidup berbeda. Ini bukanlah jalan yang mudah, tetapi juga bukan mimpi yang mustahil.
Mungkin aspek yang paling menggembirakan dari tren ini bukanlah peningkatan jumlah orang yang berhenti dari pekerjaan mereka, melainkan kesediaan mereka untuk bertanya pada diri sendiri: Untuk apa aku hidup? Di dunia yang terus-menerus mendorong orang untuk berlari lebih cepat dan melakukan lebih banyak, terkadang berhenti sejenak adalah cara untuk maju.
Sumber: https://baogialai.com.vn/that-nghiep-vui-ve-post327390.html






Komentar (0)