
Kapal tanker minyak melintasi Laut Karibia (Foto: AP)
Meskipun dunia semakin mendorong transisi ke energi bersih, kenyataannya bahan bakar fosil tetap menjadi pusat ekonomi dan politik internasional. Oleh karena itu, krisis saat ini merupakan ujian sekaligus katalis bagi transisi menuju era pasca-minyak.
Dari krisis menuju inovasi
Perkembangan terkini di Selat Hormuz – jalur pelayaran untuk sekitar seperlima minyak dunia – sekali lagi menunjukkan sensitivitas pasar energi terhadap guncangan geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran telah mendorong harga minyak internasional di atas $100 per barel, dengan efek domino yang berkisar dari biaya transportasi dan produksi hingga inflasi global.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), hampir 40 negara terpaksa menerapkan langkah-langkah darurat untuk mengatasi kenaikan harga energi. Di beberapa negara berkembang, langkah-langkah ini termasuk membatasi konsumsi bahan bakar atau menyesuaikan kegiatan sosial -ekonomi. Sementara itu, di negara-negara dengan perekonomian besar seperti Inggris Raya, tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup menciptakan tantangan yang signifikan.
Dibandingkan dengan tahun 1970-an, pangsa minyak dalam bauran energi global telah menurun secara signifikan, jatuh di bawah 30%. Namun, total konsumsi minyak hampir berlipat ganda karena ekspansi pesat ekonomi global. Hal ini mencerminkan sebuah paradoks: meskipun perannya relatif berkurang, minyak tetap menjadi fondasi yang sangat diperlukan dalam sistem ekonomi modern, khususnya di bidang transportasi dan industri.
Realitanya adalah tidak ada negara yang dapat terhindar dari fluktuasi energi global, termasuk produsen utama. Sifat pasar minyak yang sangat saling terkait berarti bahwa setiap guncangan pasokan akan menyebar, berdampak pada setiap perekonomian. Ini menjelaskan mengapa setiap gangguan di "titik hambatan" seperti Hormuz dapat memicu reaksi berantai di seluruh dunia .
Terlepas dari konsekuensi langsungnya, krisis energi saat ini juga mempercepat transisi ke sumber energi alternatif. Sejarah menunjukkan bahwa guncangan harga minyak seringkali menjadi pendorong signifikan bagi kebijakan dan inovasi teknologi, seperti pengembangan tenaga nuklir dan standar efisiensi bahan bakar setelah krisis tahun 1970-an.

Selat Hormuz – jalur pelayaran untuk sekitar seperlima minyak dunia – telah terganggu akibat konflik di Timur Tengah (Foto: AP).
Saat ini, kondisi untuk transisi telah menjadi jauh lebih menguntungkan. Teknologi energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin, semakin murah dan efisien. Di sektor transportasi, kendaraan listrik menjadi arus utama karena biaya baterai telah turun tajam. Di Eropa, penjualan kendaraan listrik telah meningkat lebih dari 50% dari tahun ke tahun, mencerminkan pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen. Sekitar 45% minyak global digunakan untuk transportasi jalan raya – sektor dengan potensi elektrifikasi terbesar, sehingga secara signifikan mengurangi permintaan minyak jangka panjang.
Di tingkat nasional, banyak pemerintah telah menyesuaikan strategi energi mereka untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menekankan bahwa transisi ke energi terbarukan merupakan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Di Asia, tren ini juga semakin cepat. India meningkatkan pangsa energi surya hingga sekitar 9% dari produksi listriknya, sementara Pakistan menyaksikan lonjakan instalasi panel surya di atap rumah. Yang perlu diperhatikan, Tiongkok muncul sebagai pusat rantai pasokan energi bersih global, dengan keunggulan dalam produksi baterai, panel fotovoltaik, dan kendaraan listrik. Ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya masalah lingkungan tetapi juga terkait erat dengan persaingan ekonomi dan teknologi.
Era pasca-minyak – sebuah tren yang tak terhindarkan?
Konsep "era pasca-minyak" dipahami sebagai periode di mana dunia secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil, bergerak menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Namun, menurut banyak ahli, proses ini akan memakan waktu lama dan tidak akan seragam di seluruh wilayah.
Dalam bukunya *The End of Oil*, penulis Paul Roberts berpendapat bahwa ekonomi modern dibangun di atas minyak, sehingga penggantian total sumber energi ini menjadi tantangan besar. Ketergantungan ini bukan hanya bersifat teknis tetapi juga terkait dengan struktur ekonomi dan geopolitik global.
Realitanya, minyak tetap menjadi alat kekuasaan yang sangat penting dalam hubungan internasional. Negara-negara pengekspor utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berupaya untuk mendiversifikasi perekonomian mereka, tetapi mereka masih sangat bergantung pada pendapatan dari minyak dan gas.
Selain itu, energi terbarukan juga menghadirkan tantangan baru. Rantai pasokan untuk peralatan seperti baterai, turbin angin, dan panel fotovoltaik bergantung pada sumber daya mineral penting dan kapasitas produksi yang terkonsentrasi di beberapa negara. Hal ini dapat menciptakan bentuk ketergantungan baru di masa depan.
Para ahli percaya bahwa, dalam jangka pendek, minyak tetap menjadi senjata ampuh – jika bukan yang paling ampuh – di papan catur geopolitik global. Minyak merupakan target kompetitif strategis dan alat untuk memberikan tekanan dalam hubungan internasional. Namun, peralihan menuju energi bersih tidak dapat dihindari, terutama karena faktor lingkungan, teknologi, dan ekonomi semakin menyatu.
Dr. David Sandalow, seorang analis senior di Pusat Kebijakan Energi Global di Universitas Columbia (AS), percaya bahwa dunia masih cukup jauh dari "era pasca-minyak". Menurutnya, transisi energi biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan berabad-abad, dan minyak akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi global selama bertahun-tahun yang akan datang. Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi apakah era pasca-minyak akan tiba, tetapi lebih tepatnya "kapan dan dengan kecepatan berapa?". Negara-negara yang secara proaktif beradaptasi, berinvestasi dalam teknologi, dan mengembangkan strategi energi jangka panjang akan memiliki keunggulan dalam membentuk tatanan energi baru dunia.
Sumber: https://vtv.vn/the-gioi-da-san-sang-cho-ky-nguyen-hau-dau-mo-100260525193751563.htm







Komentar (0)