Kita tidak akan meninggalkan laut, kita hanya akan mengubah cara kita berpegang teguh padanya.
Pak Pham Minh Tung, dari desa Thuan An, komune pulau Tam Hai, telah hidup di tepi laut selama lebih dari 60 tahun. Hidupnya dihabiskan dalam pelayaran panjang, terkadang bahkan sampai ke Truong Sa (Kepulauan Spratly). Baginya, laut bukan hanya profesi, tetapi bagian dari hidupnya, bagian dari kenangan penduduk pulau. Namun usia telah memaksa mereka yang bekerja di laut untuk mempertimbangkan kembali mata pencaharian mereka.
Ketika sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk sering pergi jauh ke lepas pantai, Bapak Tung kembali membudidayakan ikan dalam keramba, membeli peralatan penangkapan ikan, dan menggabungkannya dengan penangkapan ikan di sekitar area budidaya untuk "menggunakan keuntungan jangka pendek untuk mendukung tujuan jangka panjang." Sayangnya, ia kekurangan modal yang cukup, sehingga mimpinya sangat sulit untuk diwujudkan.

Menurut Bapak Tung, membangun keramba ikan bukan hanya sekadar memiliki keramba. Dari penebaran hingga panen bisa memakan waktu 6-10 bulan. Selama waktu itu, para petani masih membutuhkan perahu, mesin, jaring, pakan, tenaga kerja, dan penghasilan untuk menopang hidup mereka. Oleh karena itu, beliau berharap dapat mengakses pinjaman yang lebih besar, sekitar 200-300 juta VND, untuk berinvestasi secara lebih sistematis.
Pak Tung berkata, "Orang-orang mungkin sudah tua, tetapi laut tidak"; bagi masyarakat Tam Hai, laut masih ada, tetapi cara berbisnis harus lebih modern. Alat tangkap ikan harus lebih baik, kapal harus lebih aman, dan budidaya perikanan harus lebih maju secara teknologi. Jika mereka kekurangan modal, sangat sulit bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka, meskipun mereka masih memiliki pengalaman dan kemauan untuk tetap melaut."
Kekhawatiran itu bukan hanya dirasakan oleh Bapak Tung. Bagi penduduk komune pulau tersebut, tanpa pendanaan resmi, mereka dengan mudah terpaksa mengambil pinjaman berbunga tinggi dari pemberi pinjaman informal. Namun, sejak diperkenalkannya pendanaan berbasis kebijakan, masyarakat memiliki pilihan yang lebih aman untuk memperoleh peralatan, membeli alat penangkap ikan, membudidayakan ikan dalam keramba, membudidayakan abalone, dan memperluas produksi. Hal ini telah membantu banyak rumah tangga keluar dari kemiskinan, dan kehidupan mereka secara bertahap membaik. Beberapa rumah tangga bahkan memperoleh keuntungan ratusan juta dong setiap tahunnya.
Kredit kebijakan tidak menggantikan upaya masyarakat. Namun, modal ini menciptakan titik awal yang penting: masyarakat memiliki modal yang sah, biaya yang wajar, komunitas yang mendukung, kelompok pemberi pinjaman, dan pengawasan komunitas. Dari situ, pengalaman kerja masyarakat memiliki lebih banyak peluang untuk diubah menjadi pendapatan riil.
Mencoba-coba kandang baru.
Jika Bapak Tung mewakili generasi nelayan yang lebih tua yang ingin mengubah metode mereka untuk terus mencari nafkah dari laut, maka Bapak Le Huynh Xuan Dai mewakili generasi muda yang memilih untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk memulai bisnis dari laut.
Dai sebelumnya meninggalkan Tam Hai untuk bekerja sebagai buruh di Binh Duong, dan untuk sementara waktu ia bekerja di Malaysia memperbaiki mobil. Setelah bertahun-tahun jauh dari rumah, ia kembali ke Tam Hai. Alasannya bukan hanya untuk lebih dekat dengan orang tuanya, tetapi juga karena ia melihat potensi wilayah sungai Truong Giang, di mana budidaya perikanan masih memiliki banyak ruang untuk dikembangkan.
Pada tahun 2023, ia meminjam 100 juta VND dari Bank Kebijakan Sosial untuk berinvestasi dalam keramba HDPE untuk budidaya ikan di luar musim. Ini adalah langkah yang diperhitungkan karena investasi dalam keramba HDPE memungkinkan Bapak Dai untuk memelihara ikan selama musim dingin, membesarkannya di luar musim, dan menjualnya dengan harga yang lebih baik dibandingkan dengan keramba tradisional. Setelah lebih dari dua tahun, ia telah membayar kembali 60 juta VND dari pokok dan bunga. Yang lebih penting, keuangan keluarganya secara bertahap stabil, dan ia memiliki lebih banyak modal untuk mempertimbangkan investasi baru. Bagi Bapak Dai, pinjaman pertama itu bukan hanya uang, tetapi juga dorongan bagi seorang anak muda untuk berani memulai bisnis di kampung halamannya.

Hal yang patut dikagumi dari kisah Bapak Dai adalah pola pikirnya yang berwawasan ke depan. Beliau tidak hanya ingin melakukannya untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin belajar dari pengalaman daerah budidaya perikanan yang sudah maju seperti Phu Yen dan Khanh Hoa untuk membawa pengetahuan tersebut kembali ke Tam Hai. Beliau berharap industri budidaya perikanan di komune pulau ini akan memiliki status yang berbeda, lebih sistematis, dan lebih efektif.
Mengevaluasi model yang diterapkan Bapak Dai, Bapak Ho Tung Chinh, Ketua Asosiasi Petani Komune Tam Hai, mengatakan bahwa model sukses Bapak Dai telah menciptakan efek domino, mendorong lebih banyak anak muda untuk berani kembali, berani berinvestasi, dan berani berinovasi di industri perikanan.
Dari ucapan Bapak Tung, "Orang-orang mungkin sudah tua, tetapi lautnya tidak," hingga keramba ikan HDPE milik Bapak Dai, jelas bahwa laut Tam Hai masih menawarkan peluang. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat memiliki cukup modal, keterampilan teknis, dan kepercayaan diri untuk memanfaatkan peluang tersebut. Dalam perjalanan itu, kredit berbasis kebijakan merupakan dukungan yang diam-diam namun abadi.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/them-dong-luc-bam-bien-ben-vung-10421484.html






