Surat edaran ini menggantikan peraturan yang dikeluarkan bertahun-tahun lalu, dalam konteks lingkungan pendidikan yang berubah secara mendalam. Perkembangan media sosial, tekanan untuk berprestasi, harapan yang semakin tinggi dari orang tua dan masyarakat, serta perubahan psikologis siswa menghadirkan tantangan baru bagi para pendidik. Oleh karena itu, kode etik yang sistematis, diperbarui, dan spesifik merupakan kebutuhan yang sangat penting.
Salah satu poin penting dalam Surat Edaran tersebut adalah pergeseran fokus dari standar etika umum ke persyaratan perilaku yang spesifik, dapat diamati, dan dapat dinilai. Guru diharuskan untuk menghormati dan menilai kemampuan siswa secara akurat; memberikan umpan balik, komentar, pujian, dan kritik yang tepat; serta mendengarkan, memberi nasihat, dan mendukung mereka dengan segera. Ini bukan hanya keterampilan pedagogis tetapi juga manifestasi nyata dari filosofi pendidikan yang berpusat pada siswa.
Pada kenyataannya, banyak masalah akademis berakar dari komentar yang tidak bijaksana, perbandingan yang tidak disadari, atau evaluasi yang bias. Ketika Surat Edaran tersebut menekankan persyaratan untuk "penilaian yang akurat dan jujur," hal itu juga berfungsi sebagai pengingat akan tanggung jawab profesional dalam setiap nilai, komentar, dan interaksi sehari-hari. Pandangan yang penuh hormat dapat menginspirasi motivasi. Komentar yang tidak adil dapat menghancurkan kepercayaan siswa.
Surat edaran tersebut juga menetapkan batasan yang jelas: Tidak ada diskriminasi; tidak ada penghinaan, kekerasan, atau pelecehan; tidak ada pemaksaan terhadap siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan sukarela; dan tidak ada kecurangan dalam penerimaan dan penilaian. Peraturan khusus tentang "hal-hal yang tidak diperbolehkan" menunjukkan pendekatan langsung terhadap kekurangan dan keterbatasan yang ada dalam lingkungan pendidikan. Ini merupakan pergeseran dari mengacu pada etika ke penetapan norma perilaku, menciptakan dasar untuk pengawasan dan akuntabilitas.
Surat Edaran ini tidak hanya membatasi guru pada kerangka disiplin ilmu, tetapi juga memperluas peran sosial mereka. Mulai dari membangun lingkungan belajar yang aman dan adil hingga mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam penelitian dan kegiatan masyarakat; dari menyebarkan nilai-nilai humanistik hingga secara proaktif membantah berita palsu tentang pendidikan. Oleh karena itu, citra guru tidak terbatas pada ruang kelas tetapi terkait dengan ruang publik dan tanggung jawab kewarganegaraan.
Kode etik ini dirancang untuk seluruh ekosistem pendidikan: siswa, kolega, administrator, orang tua, dan masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan sebuah realitas: kualitas pendidikan tidak terbentuk dari upaya tunggal seorang guru, tetapi dari hubungan interaktif multidimensi. Ketika guru dituntut untuk bekerja sama dan berbagi tanggung jawab dengan kolega; terbuka terhadap umpan balik dari administrator; transparan kepada orang tua; dan proaktif terhadap masyarakat, inilah tepatnya cara kita membangun budaya organisasi di dalam sekolah.
Agar kode etik guru efektif, diperlukan keterlibatan proaktif dari kepala lembaga pendidikan dalam menyebarluaskan, membimbing, dan mengawasinya; perilaku teladan dari tim manajemen; dan mekanisme transparan untuk menerima dan menangani umpan balik. Pada saat yang sama, standar perilaku yang lebih tinggi harus sejalan dengan peningkatan kondisi kerja, pengurangan beban administratif, dan peningkatan dukungan psikologis profesional bagi guru.
Ketika kode etik menjadi ukuran budaya profesi pengajaran, harapannya bukan hanya untuk mengurangi pelanggaran, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang manusiawi di mana setiap siswa diakui atas kemampuannya dan setiap guru menjalankan profesinya dengan hormat dan bertanggung jawab. Hal ini juga membentuk landasan yang berkelanjutan untuk tujuan pengembangan manusia – tujuan akhir dari semua kebijakan pendidikan.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/thuoc-do-van-hoa-nghe-giao-post766648.html






Komentar (0)