Setiap kali saya mengenang masa kecil saya, yang terlintas dalam pikiran bukanlah televisi yang berisik atau klakson mobil yang meraung-raung, melainkan suara gemerisik kayu bakar kering, suara nasi yang mendidih, dan aroma harum asap dapur yang memenuhi udara.
Dulu, dapur kami hanyalah sebuah bangunan kecil darurat yang terbuat dari bambu dan alang-alang, dengan dinding lumpur dan atap dari daun palem tua. Kompornya terbuat dari tanah liat, dan ibuku menumpuk kayu bakar kering di bawahnya. Setiap kali memasak nasi, ia harus duduk dekat kompor, mengipasi dan mengatur api agar tetap merata. Asap mengepul ke mana-mana, dan mata ibuku merah, tetapi wajahnya selalu berseri-seri dalam cahaya api yang hangat. Aku sering berlarian di sekelilingnya, memungut kayu bakar, menangkap asap dengan tanganku, dan tertawa cekikikan seolah-olah aku baru saja menemukan permainan baru.

Nasi yang dimasak di atas api kayu memiliki aroma yang unik. Aromanya bercampur dengan wangi api, asap, beras yang baru dipanen, dan bahkan keringat asin ibuku. Terkadang, ia sengaja membiarkan sebagian nasi gosong di dasar panci. Nasi gosong itu berwarna cokelat keemasan, renyah, dan mengeluarkan suara renyah yang menyenangkan saat aku mengunyahnya. Di hari-hari musim dingin yang dingin, duduk di dekat kompor, makan nasi panas dengan ikan kering yang direbus dalam saus cabai, mengisi hatiku dengan kehangatan.
Asap dari kompor dapur menemani ibuku dan aku melewati tahun-tahun sulit itu. Makanan yang terdiri dari mi dan kentang; bubur encer yang dimasak ibuku ketika panen gagal; piring-piring sayuran liar yang dipetik terburu-buru setelah hujan sore... Semuanya membawa rasa asin keringat dan rasa manis kasih sayang ibuku.
Saat dewasa, saya meninggalkan desa dan pergi ke kota untuk belajar dan bekerja. Makanan di kamar sewaan saya yang kecil dan sempit membuat saya sangat merindukan aroma asap dapur dari kampung halaman saya. Di hari hujan, duduk sendirian di dekat jendela, saya akan menutup mata dan membayangkan diri saya duduk di dekat dapur tua, ibu saya sibuk mengurus panci nasi yang mendidih, asapnya menyengat mata saya tetapi mengisi hati saya dengan kehangatan.
Suatu kali, ketika saya pulang ke kampung halaman, saya sengaja meminta izin kepada ibu saya untuk menyalakan kompor kayu. Ia berkata, "Sekarang ini, kompor gas dan listrik sangat praktis; siapa yang masih memasak dengan kayu?" Tetapi karena tatapan memohon saya, ia mengalah. Dengan canggung saya mencoba menyalakan api, asapnya menyengat mata saya. Ibu saya duduk di samping saya, mengipasi api dan tertawa, "Lihat betapa sulitnya, anakku?" Namun, di tengah asap dan nyala api yang berkelap-kelip, tiba-tiba saya merasakan kelegaan; semua kekhawatiran saya seolah lenyap begitu saja, hanya menyisakan kenangan masa kecil saya.
Setiap kali aku mengenang masa kecilku, aku teringat kompor kayu bakar, nasi yang dimasak ibuku, dan aroma asap yang menyelimuti jiwaku yang masih muda seperti selimut hangat. Aroma asap itu tidak hanya menempel di rambut dan pakaianku; ia meresap jauh ke dalam dagingku dan detak jantungku. Dan karena itu, tidak peduli seberapa jauh aku bepergian atau seberapa banyak aku berkelana, hanya satu kali bertemu dengan aroma asap kayu sudah cukup membuatku merasa seperti anak kecil lagi, tidak menginginkan apa pun selain bergegas pulang, memeluk ibuku, dan berbagi makanan yang dipenuhi aroma asap dari masa lalu itu.
Sumber: https://baogialai.com.vn/thuong-mui-khoi-bep-post327757.html






Komentar (0)