Saat itulah hati kita yang jauh dari rumah mulai tergerak, merindukan kembali masa kecil, pada kue beras harum buatan nenek dan ibu kita. Meskipun saya bukan anak kecil lagi, saya masih merasa gembira setiap kali Tết (Tahun Baru Imlek) tiba. Kue beras sederhana dan bersahaja ini telah tertanam dalam ingatan saya, sebuah hadiah yang dapat dibanggakan oleh siapa pun yang jauh dari rumah.
![]() |
| Kue tepung beras membangkitkan kenangan masa kecil. |
Nenekku berkata bahwa dia tidak pernah tahu persis kapan kue beras bercorak ini pertama kali dibuat, tetapi dia melihat kue-kue persegi ini dipajang dengan bangga di altar leluhur selama Tet (Tahun Baru Imlek) ketika dia masih kecil. Bahan-bahannya sesederhana dan sekasar tanah kelahiran kami: tepung beras ketan, tepung tapioka, kacang hijau, dan gula pasir. Sekitar tanggal 25 atau 26 bulan kedua belas kalender lunar, ibuku akan sibuk mempersiapkannya. Dia akan berkeliling lingkungan membeli kacang hijau kering terbaik, merapikan penggiling dan saringan, dan membersihkan cetakan kayu yang telah menunggu sepanjang tahun.
Dalam ingatan saya, Tet (Tahun Baru Vietnam) adalah "seni koordinasi" yang harmonis yang melibatkan seluruh keluarga. Ibu saya dengan cekatan mencuci beras ketan, menggiling kacang, dan dengan hati-hati memanggangnya di atas api sampai beras berubah menjadi kuning kecokelatan dan kacang menjadi renyah tanpa gosong. Tugas membuat sirup gula biasanya diserahkan kepada kakak perempuan saya, karena dia memiliki "sentuhan ajaib" dalam mengendalikan panas untuk mencapai kekentalan yang sempurna. Yang paling istimewa dari semuanya adalah gambaran ayah saya. Kekuatannya terkonsentrasi di tangannya yang kuat, memegang lesung kayu besar untuk menggiling campuran gula sampai menjadi bubuk halus. Pukulan mantapnya seperti ritme waktu yang lambat, memadatkan cinta dan kesabaran ke dalam setiap bubuk halus yang lembut.
Sebelum mencetak kue, ibuku dengan terampil menaburkan lapisan tipis tepung tapioka agar lebih mudah dikeluarkan dari cetakan dan permukaannya lebih halus. Proses ini membutuhkan ketelitian yang luar biasa: adonan harus ditekan dengan kekuatan yang tepat; jika terlalu kencang, kue akan keras, jika terlalu longgar, akan mudah hancur. Cetakan kayu tua itu, bagiku saat itu, menyimpan segudang harapan dan impian. Beberapa bertuliskan karakter "Kebahagiaan" dan "Panjang Umur," yang mendoakan kedamaian; yang lain menggambarkan burung phoenix dan ikan mas, melambangkan kemakmuran dan kelimpahan. Melalui tangan ibuku, setiap kue bukan hanya untuk dimakan, tetapi juga sebuah karya seni, yang merangkum pengabdian tulus yang dipersembahkan kepada leluhur kita.
Di rumah mungil kami pada hari-hari terakhir tahun ini, tepung terigu menempel di pakaian dan rambut kami di mana-mana, tetapi itu adalah kegembiraan yang tak terlukiskan dari suasana liburan Tet tradisional. Kami menunggu bersama-sama kue-kue pertama keluar dari oven. Ibu saya biasanya menyimpan kue-kue ini untuk saya dan saudara perempuan saya, karena beliau berkata, "Kue-kue pertama di musim ini selalu yang paling harum; kalian harus memakannya selagi masih menginginkannya untuk sepenuhnya menghargai kelezatannya." Kue kacang hijau keemasan, masih panas mengepul, dengan gigitan ringan, rasa manisnya perlahan meleleh di lidah saya, masih terbayang dalam ingatan saya hingga sekarang.
Puluhan tahun telah berlalu, kehidupan telah berubah dengan banyaknya makanan mewah impor, tetapi saya sangat senang bahwa desa saya masih menjaga tradisi cetakan kayu kuno itu tetap hidup. Bagi saya, kue beras bukan hanya makanan; kue beras mewakili keringat ibu saya dan kerja keras ayah saya, yang bekerja keras di bawah terik matahari dan hujan untuk dengan hati-hati membudidayakan setiap butir beras ketan yang harum. Di suatu sore menjelang akhir tahun, sambil menyeruput secangkir teh jahe pedas dan menggigit kue beras yang meleleh perlahan di lidah saya, saya merasakan musim semi dan kasih sayang keluarga mekar di hati saya.
Cao Van Quyen
Sumber: https://baodaklak.vn/van-hoa-du-lich-van-hoc-nghe-thuat/van-hoc-nghe-thuat/202602/thuong-nho-banh-in-a905081/








Komentar (0)