Tekanan internasional semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pemerintah yang menyatakan keprihatinan tentang kecanduan media sosial, masalah kesehatan mental, perundungan siber, dan paparan dini anak-anak terhadap konten seksual atau kekerasan.
Keputusan Australia untuk menjadi negara pertama yang melarang anak-anak di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial populer pada Desember lalu telah menimbulkan efek domino, mendorong banyak negara Eropa dan Asia untuk mempertimbangkan langkah serupa.
Korea Selatan berpendapat bahwa larangan komprehensif bukan hanya masalah hukum tetapi juga melibatkan faktor sosial, budaya, dan teknologi. Seorang pejabat dari Komisi Komunikasi dan Informasi menyatakan bahwa belum ada "peta jalan spesifik" karena dibutuhkan konsensus yang luas; RUU yang membatasi pengguna di bawah usia 16 tahun masih terhenti karena semakin kaburnya batasan antar platform dan kemudahan pemalsuan usia.
Kehati-hatian Korea Selatan berakar dari pelajaran masa lalu. Pada tahun 2011, negara tersebut menerapkan "undang-undang penutupan" yang melarang remaja bermain gim daring di malam hari, tetapi peraturan tersebut dicabut setelah satu dekade karena pelanggaran privasi, kerugian bagi industri gim, dan ketidakefektifannya. Hal ini membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam menerapkan tindakan keras.
Sementara pemerintah masih mempertimbangkan, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kaum muda. Survei tahun 2025 oleh Korea Press Foundation menunjukkan bahwa lebih dari 70% remaja menggunakan media sosial, dengan sekitar setengahnya menggunakannya setiap hari. Banyak yang melihatnya sebagai "jendela ke dunia " untuk mengikuti tren dan terhubung dengan teman-teman, meskipun mereka mengakui sulit untuk mengontrol waktu penggunaan layar mereka.
Alih-alih pelarangan, banyak anak menginginkan investasi signifikan dalam pendidikan keterampilan digital dan literasi media melalui kelas-kelas praktis yang sesuai dengan usia mereka.
Dalam konteks ini, pendekatan hati-hati Korea Selatan mungkin bukan pertanda lambat, melainkan upaya untuk menemukan solusi yang lebih berkelanjutan yang tidak hanya melindungi remaja dari aspek negatif media sosial, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri di dunia digital yang semakin kompleks.
Sumber: https://baovanhoa.vn/the-gioi/tim-kiem-giai-phap-ben-vung-207948.html







Komentar (0)