
Penyair Le Van Vong: Kehidupan seorang prajurit - Karier di dunia puisi.
Memasuki dunia sastra di usia yang relatif muda, dengan puisi pertamanya yang diterbitkan pada tahun 1969, Le Van Vong muda menorehkan namanya di kancah sastra. Selama lebih dari setengah abad berkarya, ia telah mengumpulkan warisan sastra yang luas, perpaduan antara tekad baja seorang prajurit dan sentimentalitas seorang seniman. Warisan ini terwujud dalam kumpulan puisi ikoniknya: "Hutan dan Angin," "Menuju Cinta," "Tebu Manis untuk Siapa," dan "Epik Angin Puyuh Hijau"... Prosa karyanya tidak terbatas pada puisi; karya-karyanya juga dipenuhi dengan nafas kehidupan, termasuk: "Hutang kepada Dunia," "Ada Seorang Gadis," "Malam Putih," "Lembah Layang-layang," "Tahun-Tahun yang Belum Jauh," dan "Tetesan Hujan Musim Semi." Upaya gigih ini telah diakui dengan penghargaan bergengsi: Hadiah Pertama Asosiasi Sastra dan Seni Kota Ho Chi Minh (1976-1977) untuk kumpulan puisi "Orang-orang Masa Kini" dan Penghargaan 5 Tahun Kementerian Pertahanan Nasional (2000-2005) untuk kumpulan puisi "Tebu Manis untuk Siapa"; Penghargaan Sastra Sungai Mekong pada tahun 2016 dan 2018; dan pada tahun 2023, ia mendapat kehormatan menerima Penghargaan Negara ke-5 untuk Sastra dan Seni.
Bagi penyair Le Van Vong, penciptaan sastra seperti merekam kenangan, pengalaman, kecemasan, dan refleksi melalui lensa seorang prajurit di medan perang. Pada tahun 1975, setelah maju bersama tentara untuk membebaskan Saigon, ia kembali ke kehidupan sipil, tetapi jiwanya tidak pernah benar-benar meninggalkan medan perang. Sastra adalah perwujudan keadaan fisik dan mental rekan-rekannya, sesama prajurit, dan mereka yang berjuang dalam perjalanan panjang, sebuah sentimen yang sangat diperhatikan Le Van Vong sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, karya-karyanya sering digambarkan sebagai sastra seorang prajurit, penuh badai, tetapi bukan badai bom dan peluru, melainkan "badai hati." Menjelaskan hal ini, ia berbagi: “Sepuluh tahun hidup dan berperang telah menjadi sumber inspirasi yang konstan bagi karya-karya saya. Dari puisi yang disarikan dari rasa sakit rekan-rekan yang gugur hingga cerita pendek yang dibentuk setelah setiap pertempuran, semuanya membawa jejak kuat suasana perang. Ini adalah pengalaman pertumpahan darah, yang mengikuti setiap langkah saya dan dengan jelas mencerminkan kecemasan saya di setiap tahap.”
Sumber inspirasi itu adalah daerah pesisir lingkungan Ngoc Son (komune Hai Chau, dulunya distrik Tinh Gia), tempat kenangan masa kecil menggembalakan ternak dan memotong rumput bersama ibunya yang miskin telah meresap dalam diri sang penyair. Di "jalur tanah tersempit di peta Tanah Air," tempat kehidupan keras dengan "pasir di depan, pasir di belakang, pasir di kanan, pasir di kiri...", ia menemukan kekuatan untuk memandang perang dengan mata yang penuh empati dan belas kasihan.
Pada awal tahun 2026, ia menyelesaikan novelnya "Sudut-Sudut Tersembunyi Perang"—sebuah karya yang ditulis dalam bentuk memoar seorang veteran, berlatar di kota kelahirannya. Karya ini merupakan bagian penting yang melengkapi gambaran hidupnya, sebuah penghormatan mendalam kepada tanah airnya dan rekan-rekannya yang telah berbagi hidup dan mati dengannya. Di dalamnya, ia menerangi momen-momen hening yang tersembunyi, di mana kebaikan dan pengorbanan manusia dihormati dengan cara yang paling autentik dan mengharukan.
Perjalanan setengah abad kepenulisan penyair Le Van Vong adalah sebuah perjalanan yang tak pernah berhenti, di mana emosi pribadi selalu beresonansi dengan takdir bangsa. Tersembunyi di balik halaman-halaman manuskripnya yang telah lama ditulis adalah ketabahan seorang prajurit yang muncul dari asap dan api perang, membawa kenangan pertempuran ke setiap halaman yang ditulisnya. Kekayaan spiritual yang telah dikumpulkannya tidak hanya terletak pada jumlah karya yang diterbitkan, tetapi yang lebih penting, pada konvergensi hati seorang prajurit dengan detak jantung seorang penyair, detak jantung yang selalu gelisah tentang kondisi manusia dan sangat terikat pada tanah airnya yang hangus terbakar matahari dan pasir.
Teks dan foto: Minh Quyen
Sumber: https://baothanhhoa.vn/trai-tim-nguoi-linh-nbsp-nhip-dap-thi-nhan-281989.htm






Komentar (0)