Di tengah hiruk pikuk kehidupan saat ini, tradisi ucapan selamat Tahun Baru tetap berakar kuat di hati keluarga dan komunitas, sehingga setiap musim semi, orang-orang masih punya waktu untuk saling menyapa, tersenyum, dan mengucapkan hal-hal terbaik satu sama lain…
![]() |
| Tradisi bertukar ucapan selamat Tahun Baru telah lama menjadi aspek indah dari budaya Tet di Vietnam. |
Idul Adha di pedesaan tidak dimulai dengan petasan seperti di masa lalu, tetapi dengan aroma kue beras ketan yang dimasak dalam panci, bunga aprikot keemasan yang bergoyang tertiup angin, dan salam pertama yang dipertukarkan saat pintu rumah dibuka. Pada pagi hari pertama Idul Adha, sementara embun masih menempel di pagar tanaman kembang sepatu, orang-orang di lingkungan sekitar akan berkumpul untuk saling mengunjungi. Tanpa disuruh, semua orang memilih pakaian terbaik mereka dan melangkah keluar dari rumah mereka dengan senyum lembut seperti matahari pagi.
Tradisi bertukar ucapan selamat Tahun Baru telah lama menjadi aspek indah dari budaya Tet Vietnam. Orang-orang saling mendoakan "kedamaian dan kemakmuran," "semoga semua keinginanmu terwujud," "bisnis sukses," "kesuksesan akademis," dan "uang mengalir masuk seperti air, hanya menetes keluar"... Ucapan-ucapan ini mungkin terdengar familiar, tetapi setiap tahunnya memiliki makna yang berbeda. Karena di balik harapan-harapan itu terdapat tahun yang lalu dengan segala kekhawatiran dan kesulitannya, dan harapan diam-diam yang dipercayakan kepada tahun baru yang akan datang.
Di pedesaan, ucapan selamat Tahun Baru memiliki ciri khas tersendiri; ucapan tersebut tidak berlebihan atau sok mewah, melainkan sederhana dan tulus. "Semoga panen melimpah tahun ini, Paman," "Semoga penjualanmu bagus, Bibi," "Semoga anak-anak belajar giat dan patuh kepada orang tua mereka," "Semoga panjang umur dan sehat selalu, Kakek dan Nenek"... Kata-katanya sederhana, namun hangat, seperti perapian yang menyala di malam Tahun Baru.
Saat kami masih kecil, hal yang paling menyenangkan adalah pergi bersama orang tua untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada mereka. Kami akan pergi dari rumah kakek-nenek dari pihak ayah ke rumah kakek-nenek dari pihak ibu, lalu ke setiap rumah bibi dan paman di lingkungan sekitar. Setiap kali kami melangkah melewati ambang pintu, seluruh keluarga akan menyambut kami dengan ucapan Selamat Tahun Baru, orang dewasa akan tersenyum ramah, dan anak-anak akan dengan malu-malu menunggu amplop uang keberuntungan berwarna merah cerah mereka. Uang kertas baru, yang berbau kertas segar, diberikan kepada kami dengan kedua tangan, disertai dengan nasihat: "Belajarlah dengan giat, anakku." Mungkin, pada saat itu juga, setiap anak merasa dicintai dan memiliki harapan yang diletakkan pada mereka.
Mengucapkan Selamat Tahun Baru bukan hanya tentang bertukar harapan baik, tetapi juga kesempatan bagi orang-orang untuk semakin dekat. Dendam lama dapat sirna ketika orang-orang saling mengunjungi rumah, berbagi secangkir teh di Hari Tahun Baru, dan menyampaikan salam yang tulus. Tet (Tahun Baru Vietnam) melembutkan hati orang-orang.
Tradisi mengucapkan Selamat Tahun Baru juga dikaitkan dengan aspek indah lainnya: rasa hormat kepada para tetua dan perhatian kepada generasi muda. Pada pagi hari pertama Tahun Baru Imlek, anak-anak dan cucu-cucu berkumpul di depan altar leluhur, membungkuk kepada kakek-nenek mereka, dan kemudian bergiliran mendoakan para tetua mereka agar panjang umur. Para kakek-nenek duduk di sana, mata mereka yang ramah menatap anak-anak dan cucu-cucu mereka yang berkumpul. Ucapan "semoga kalian hidup sampai seratus tahun" bukan hanya harapan untuk umur panjang, tetapi juga harapan agar rumah akan selalu dipenuhi dengan tawa dan kehadiran mereka yang telah mendahului kita.
Saat ini, kehidupan telah banyak berubah. Banyak orang bekerja jauh dari rumah dan hanya berkesempatan pulang untuk Tết (Tahun Baru Imlek). Beberapa orang tidak dapat pulang ke kampung halaman karena pekerjaan, dan hanya dapat mengirim ucapan selamat melalui telepon atau pesan singkat. Namun, bagaimanapun caranya, orang-orang tetap berusaha untuk saling mengucapkan selamat Tahun Baru. Karena jauh di lubuk hati, setiap orang memahami bahwa ucapan seperti itu adalah cara untuk menjaga hubungan antarmanusia. Orang-orang tidak berani bermimpi terlalu besar, hanya berharap "kedamaian dan keselamatan." Dua kata "kedamaian dan keselamatan" terdengar sederhana, tetapi itu adalah hal paling berharga yang diharapkan setiap orang untuk dipertahankan. Dan ketika saling mendoakan kedamaian dan keselamatan, orang-orang juga mengingatkan diri sendiri untuk lebih tenang, lebih peduli, dan lebih banyak berbagi.
Di Delta Mekong, mengucapkan Selamat Tahun Baru juga merupakan kesempatan bagi orang-orang untuk "berjalan-jalan di sekitar lingkungan." Dari rumah ke rumah, tawa dan percakapan memenuhi udara, cangkir teh berdentang lembut, dan anak-anak bermain di halaman. Jalan-jalan pedesaan yang biasanya sepi menjadi semarak dengan pakaian baru. Bahkan jembatan kecil di atas kanal pun tampak ikut bersukacita menyambut tahun baru. Oleh karena itu, kebiasaan mengucapkan Selamat Tahun Baru tidak terbatas pada satu rumah tangga saja, tetapi menyebar ke seluruh komunitas, menyalakan suasana musim semi di seluruh pedesaan.
Sebagian orang mengatakan bahwa saat ini, ucapan salam agak "klise," diulang tahun demi tahun. Tetapi jika Anda mendengarkan dengan saksama, Anda akan menemukan bahwa setiap ucapan salam mengandung ungkapan kepedulian yang unik. Ketika kita mendoakan panen yang melimpah bagi seorang petani, itu karena kita memahami betapa kerasnya mereka bekerja sepanjang tahun, di tengah hujan dan terik matahari. Ketika kita mendoakan penjualan yang baik bagi seorang pedagang, itu karena kita tahu bahwa di balik kios kecil itu ada seluruh keluarga yang bergantung padanya. Oleh karena itu, ucapan salam bukanlah kata-kata kosong jika diucapkan dari hati.
Aku masih ingat sosok ayahku, setiap hari pertama Tahun Baru Imlek, mengenakan kemeja putih, rambutnya disisir rapi, mengajakku dan saudara-saudaraku mengunjungi setiap rumah untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru. Ayahku adalah pria yang pendiam, tetapi setiap kali ia menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru, ia akan perlahan dan tulus menyampaikan harapan terbaiknya. Setiap tahun, ia selalu berkata, "Mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada orang lain itu seperti menabur benih keberuntungan. Jika kita mengucapkan kata-kata yang baik, tahun baru akan menjadi tahun yang baik." Pepatah itu tetap melekat dalam ingatanku saat aku tumbuh dewasa, dan setiap kali musim semi tiba, aku mengingatkan diriku untuk menghargai tradisi indah itu.
![]() |
| Ucapan selamat tahun baru telah lama menjadi tradisi yang indah dalam budaya Tet Vietnam (gambar ilustrasi). |
Mengucapkan Selamat Tahun Baru bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga pelajaran tentang kebaikan. Ini mengajarkan kita untuk berbicara terlebih dahulu, untuk menyampaikan harapan baik sebelum mengharapkan imbalan apa pun. Dalam masyarakat modern, di mana orang terkadang menarik diri di balik tembok tak terlihat, ucapan Selamat Tahun Baru dapat menjadi jembatan kecil yang menghubungkan kesenjangan tersebut…
Seiring berjalannya setiap musim semi, orang-orang bertambah tua satu tahun. Kakek-nenek bertambah tua, anak-anak tumbuh dewasa. Tetapi tradisi saling mengucapkan Selamat Tahun Baru tetap ada, seperti benang merah yang membentang sepanjang waktu. Hal itu mengingatkan kita bahwa, tidak peduli bagaimana kehidupan berubah, nilai-nilai fundamental keluarga dan komunitas harus tetap dijaga.
Kemudian, pada pagi hari pertama Tahun Baru Imlek, saat kita melangkah keluar ke beranda dan mendengar semilir angin musim semi yang lembut membelai bunga plum di depan gerbang kita, kita tersenyum. Kita merapikan pakaian, berjalan ke rumah tetangga, mengangkat secangkir teh yang harum, dan mengucapkan salam Tahun Baru yang sederhana. Siapa tahu, mungkin pada saat itu juga, kita menabur benih cinta, dan sepanjang tahun berikutnya, benih itu akan diam-diam tumbuh dan berkembang di hati orang lain…
Teks dan foto: KHANH DUY
Sumber: https://baovinhlong.com.vn/van-hoa-giai-tri/202602/tran-trong-nhung-loi-chuc-dau-nam-4c02d02/








Komentar (0)