Sistem nilai pengembangan baru
Di tengah gejolak besar zaman kita – pemanasan global, peristiwa cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, intrusi air asin, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi laut dan samudra – isu lingkungan bukan lagi hanya urusan satu industri, satu sektor, atau satu wilayah. Ini adalah masalah keamanan nasional, keamanan manusia, pembangunan yang adil, etika sosial, dan kelangsungan hidup bangsa.
Dari perspektif budaya, ini berfungsi sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak dapat diukur hanya dengan angka pertumbuhan, struktur konkret, kawasan perkotaan baru, atau target produksi. Pembangunan harus diukur dengan kualitas hidup masyarakat yang sesungguhnya, dengan kemampuan untuk melindungi kehidupan, dengan keseimbangan antara manusia dan alam, serta antara masa kini dan masa depan.

Artikel karya Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menunjukkan pergeseran mendasar dalam pemikiran: dari memandang alam terutama sebagai objek eksploitasi menjadi memandang alam sebagai syarat eksistensi, aset nasional, dan warisan bagi generasi mendatang. Masyarakat modern dan makmur haruslah masyarakat yang tahu bagaimana "memperkaya diri dalam batas-batas ekologis," menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab. Ini bukan hanya usulan tentang pengelolaan lingkungan, tetapi deklarasi budaya tentang model pembangunan Vietnam di abad ke-21.
Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menyebutkan tradisi budaya daerah dan desa di Vietnam, yang mewujudkan semangat harmoni dengan alam. Beliau juga menekankan bahwa di era baru ini, tradisi-tradisi tersebut harus diangkat menjadi sistem nilai modern untuk pembangunan: menghormati alam, melestarikan sumber daya, konsumsi yang bertanggung jawab, produksi yang lebih bersih, teknologi yang lebih ramah lingkungan, tata kelola yang lebih transparan, dan kesetaraan antar generasi yang lebih besar. Ini adalah saran yang sangat penting. Karena transformasi hijau tidak akan berhasil jika hanya menjadi slogan, gerakan, atau beberapa proyek percontohan. Transformasi hijau harus menjadi transformasi budaya. Dari lembaga pemerintah hingga bisnis, dari daerah perkotaan hingga pedesaan, dari sekolah hingga keluarga, dari kebijakan makro hingga perilaku sehari-hari, setiap entitas harus mengubah cara berpikir, hidup, berproduksi, dan mengonsumsi.
Kota hijau membutuhkan lebih banyak pohon daripada sekadar ruang hijau; kota itu membutuhkan budaya perkotaan yang menghormati ruang publik, melindungi sungai dan danau, mengurangi sampah, memprioritaskan transportasi umum, dan tidak mengorbankan lanskap dan kenangan perkotaan demi keuntungan jangka pendek. Bisnis hijau bukan hanya bisnis dengan laporan keberlanjutan yang indah; bisnis tersebut harus mempertimbangkan kepatuhan lingkungan sebagai standar untuk bertahan hidup dan inovasi hijau sebagai syarat untuk daya saing. Warga negara yang hijau bukan hanya seseorang yang mencintai alam secara emosional, tetapi juga seseorang yang tahu cara memilah sampah, menghemat energi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan pantai, melindungi sumber air, dan merawat pohon seolah-olah itu adalah bagian dari masa depan negara.
Oleh karena itu, artikel Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam harus dipahami sebagai seruan untuk bertindak dalam membangun budaya ekologi Vietnam di era baru. Ini adalah budaya yang tidak mempertentangkan pembangunan dengan konservasi, tidak memisahkan ekonomi dari etika, dan tidak menempatkan modernisasi di luar alam. Sebaliknya, ini adalah budaya yang tahu bagaimana menggabungkan kekuatan harmoni tradisional dengan alam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern; yang tahu bagaimana mengubah kecintaan terhadap tanah air menjadi tindakan untuk melindungi setiap sungai, hutan, dan pantai; dan yang tahu bagaimana menganggap lingkungan yang aman sebagai syarat mendasar bagi kebahagiaan rakyat.
Tanggung jawab untuk menciptakan Vietnam yang hijau.
Jika alam adalah ruang hidup suatu bangsa, maka laut adalah bagian yang sangat sakral dari ruang tersebut. Dalam artikel ini, laut tidak hanya dilihat sebagai sumber manfaat ekonomi, tetapi juga sebagai ruang hidup, ruang kedaulatan, ruang budaya, ruang koneksi, dan ruang strategis bagi bangsa Vietnam. Ini adalah pendekatan yang mendalam, karena mengembalikan laut ke tempatnya yang semestinya dalam kesadaran nasional dan strategi pembangunan: laut tidak terpisah dari budaya Vietnam; laut adalah bagian dari identitas Vietnam. Ketika Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menekankan pengembangan ekonomi maritim yang hijau, modern, dan bertanggung jawab, yang terkait dengan perlindungan kedaulatan, mata pencaharian rakyat, dan perdamaian di laut, hal itu tidak hanya membawa makna ekonomi atau keamanan tetapi juga pesan budaya: cinta terhadap laut tidak bisa hanya sekadar emosi; cinta terhadap laut haruslah kemampuan untuk melindungi laut, untuk memperkaya diri secara berkelanjutan dari laut, untuk menghormati hukum internasional, untuk menjaga perdamaian, untuk melindungi mata pencaharian nelayan dan ekosistem laut.
Vietnam adalah negara maritim dan juga negara yang sangat terdampak oleh perubahan iklim. Daerah pesisir di Vietnam Tengah, Delta Mekong, kota-kota pesisir, dan komunitas nelayan menghadapi kenaikan permukaan laut, intrusi air asin, erosi, badai dan banjir, penurunan stok ikan, dan polusi. Tantangan-tantangan ini bukan lagi peringatan yang jauh; tantangan-tantangan ini hadir di setiap musim kekeringan dan salinitas, di setiap atap yang tersapu badai, di setiap hutan bakau yang menyusut, dan di setiap pantai yang dipenuhi sampah setelah musim wisata. Oleh karena itu, pembangunan hijau merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi Vietnam.

Patut dicatat bahwa artikel ini tidak memandang transisi hijau sebagai proses yang semata-mata teknis, melainkan menempatkannya dalam kaitannya dengan kesetaraan dan kemanusiaan. Transisi hijau hanya dapat berhasil jika merupakan proses inklusif yang tidak meminggirkan kaum miskin, pekerja di industri dengan emisi tinggi, masyarakat pesisir, perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan. Ini adalah dimensi budaya yang sangat penting. Masyarakat hijau tanpa kesetaraan tidak dapat menjadi masyarakat yang manusiawi. Ekonomi rendah emisi yang meninggalkan komunitas rentan tidak dapat berkelanjutan. Transisi yang hanya berhasil di atas kertas, tetapi tidak menciptakan mata pencaharian baru, mendukung pelatihan ulang, atau menjamin jaminan sosial, akan sulit diimplementasikan dalam praktik.
Secara khusus, artikel ini menekankan peran sains, data, teknologi digital, dan partisipasi sosial dalam tata kelola lingkungan. Ini adalah aspek pemikiran budaya yang sangat modern. Karena budaya ekologi saat ini tidak dapat hanya mengandalkan niat baik spontan. Budaya tersebut perlu didukung oleh data nasional tentang emisi, kualitas air, kualitas udara, limbah, keanekaragaman hayati, sumber daya laut, erosi, intrusi air asin, dan risiko iklim; dibutuhkan teknologi satelit, kecerdasan buatan, sensor lingkungan, peta digital, model peramalan bencana, dan platform untuk umpan balik publik.
Namun teknologi hanya benar-benar bermakna ketika ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang transparan: warga negara berhak mengetahui kualitas lingkungan tempat mereka tinggal, bisnis memiliki kewajiban untuk transparan tentang dampak lingkungan mereka, dan lembaga pemerintah harus membuat keputusan berdasarkan bukti dan bertanggung jawab kepada rakyat.
Pada tingkat terdalamnya, ini adalah budaya tanggung jawab. Tanggung jawab Negara dalam membangun institusi dan memastikan implementasinya. Tanggung jawab bisnis dalam inovasi hijau dan kepatuhan lingkungan. Tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengintegrasikan tujuan hijau ke dalam perencanaan dan investasi publik. Tanggung jawab sekolah dalam mendidik tentang gaya hidup hijau. Tanggung jawab pers, seniman, dan influencer dalam menyebarkan estetika ekologis dan perilaku konsumen yang bertanggung jawab. Tanggung jawab setiap keluarga dalam memupuk gaya hidup hemat, rapi, bersih, dan indah. Dan tanggung jawab setiap warga negara dalam tindakan kecil namun signifikan: menanam dan merawat pohon, mengurangi produk plastik sekali pakai, menghemat energi, memilah sampah, melindungi sumber daya air, menjaga kebersihan pantai, dan menyebarkan kebiasaan hidup hijau.
Oleh karena itu, pesan dari Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar artikel tentang Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni) dan Hari Samudra Sedunia (8 Juni). Ini adalah pengingat akan jalur pembangunan Vietnam di era baru: untuk melangkah jauh, kita harus berjalan bersama alam; untuk menjadi makmur, kita harus melestarikan lingkungan hidup; untuk menjadi modern, kita harus beradab dalam pendekatan kita terhadap sumber daya; untuk berintegrasi, kita harus bertanggung jawab atas masalah-masalah umum kemanusiaan; untuk menjadi bahagia, kita harus memastikan bahwa setiap warga negara hidup dengan aman, sehat, dan manusiawi di negara yang hijau.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/van-minh-sinh-thai-bat-dau-tu-van-hoa-10419444.html







