Sesuai dengan pedoman Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, penilaian rubrik diterapkan pada Bagian II - Penulisan Mata Pelajaran Sastra, termasuk pertanyaan komentar sosial 2 poin dan pertanyaan analisis sastra 4 poin. Sementara itu, Bagian I - Pemahaman Bacaan masih dinilai berdasarkan kunci jawaban dan pedoman penilaian khusus.

Pedoman penilaian rubrik untuk bagian Menulis pada ujian Sastra menunjukkan bahwa penilaian tidak hanya didasarkan pada berapa banyak poin yang disertakan siswa dalam jawabannya, tetapi dibagi menjadi kelompok kriteria tertentu.
Untuk esai komentar sosial, esai tersebut dievaluasi berdasarkan aspek-aspek seperti isi pengetahuan, kemampuan analitis dan argumentatif, bentuk, dan bahasa.
Untuk esai analisis sastra, esai tersebut juga dinilai berdasarkan kemampuan untuk memahami isu, menganalisis teks, membuat hubungan, mengembangkan ide yang ada, menyusun argumen, dan menyajikan informasi secara efektif.
Sederhananya, rubrik adalah tabel yang menjelaskan tingkat pencapaian suatu tugas. Suatu tugas dianggap lebih tinggi nilainya jika tugas tersebut secara tepat mengidentifikasi masalah, mengembangkan argumen secara menyeluruh, menyajikan penalaran yang kuat, memberikan bukti yang tepat, mengungkapkan ide dengan jelas, dan memenuhi persyaratan formal.
Sebaliknya, esai yang kurang substansi, dengan argumen yang tidak terstruktur, susunan kalimat yang canggung, atau gagal memenuhi persyaratan presentasi akan diberi peringkat lebih rendah.
Inti dari rubrik penilaian adalah membantu para penguji memiliki kerangka acuan yang sama saat menilai makalah. Dalam bidang Sastra, jika sebuah esai hanya digambarkan sebagai "bagus," "emosional," atau "kurang mendalam," evaluasi dapat dengan mudah bergantung pada persepsi masing-masing penguji.
Ketika rubrik penilaian diberikan, penguji harus membandingkan karya tersebut dengan kriteria tertentu: seberapa baik kandidat memahami masalah tersebut, bagaimana mereka mengembangkan ide-ide mereka, apakah argumen mereka logis, dan apakah penyampaian mereka jelas.
Metode penilaian ini sangat cocok untuk pertanyaan terbuka dalam ujian Sastra. Misalnya, dengan pertanyaan komentar sosial "Bagaimana kita bisa memiliki Steve Jobs dari Vietnam?", kandidat dapat mendekati topik dari berbagai perspektif: pendidikan , keluarga, lingkungan kreatif, kebijakan perusahaan rintisan, kemampuan belajar mandiri, dedikasi, atau aspirasi untuk menciptakan nilai baru. Pendekatan yang berbeda ini tetap dapat dievaluasi dengan baik jika esai tersebut memahami persyaratan pertanyaan dengan benar, memiliki argumen yang logis, dan diungkapkan secara persuasif.
Dengan kata lain, rubrik tersebut tidak mengurangi keterbukaan mata kuliah Sastra, tetapi justru membantu menilai keterbukaan tersebut menggunakan kriteria yang lebih jelas. Kandidat tidak dipaksa untuk menulis sesuai dengan satu templat tunggal, tetapi mereka juga tidak dapat menulis secara sembarangan. Kreativitas dalam esai harus disertai dengan pemahaman bacaan, keterampilan organisasi, argumentasi, dan penggunaan bahasa.
Ini juga merupakan perbedaan penting dibandingkan dengan belajar dan menulis esai menggunakan contoh model. Ketika esai dievaluasi berdasarkan kriteria, siswa tidak bisa hanya menghafal ide-ide yang sudah ada untuk dimasukkan ke dalam karya mereka. Mereka perlu membaca persyaratan dengan benar, mengidentifikasi masalah, memilih pendekatan yang tepat, menggunakan bukti, dan mempertahankan sudut pandang mereka sendiri.

Pada prinsipnya, rubrik dapat digunakan dalam berbagai jenis penilaian terbuka, tidak hanya dalam bidang Sastra. Ini dapat mencakup esai, presentasi, proyek pembelajaran, produk penelitian, atau tugas pembelajaran lainnya yang membutuhkan penilaian keterampilan presentasi, penalaran, dan kreativitas.
Namun, dalam Ujian Kelulusan SMA tahun 2026, mata pelajaran yang paling menonjol adalah Sastra, karena merupakan ujian berbasis esai dengan tingkat keterbukaan yang tinggi di bagian Menulis.
Bagi para guru, sistem penilaian rubrik juga menandai pergeseran dalam pengajaran Sastra dari fokus pada esai model ke pengembangan keterampilan membaca, berpikir, dan menulis.
Bagi para kandidat, ini menunjukkan bahwa esai yang baik bukan hanya tentang "mencapai sasaran," tetapi juga tentang memiliki struktur yang koheren, argumen yang beralasan, ekspresi yang jelas, dan menunjukkan pemikiran pribadi.
Pada konferensi pers yang memberikan informasi tentang ujian kelulusan SMA tahun 2026, Bapak Nguyen Ngoc Ha, Wakil Direktur Departemen Manajemen Mutu (Kementerian Pendidikan dan Pelatihan), mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun pertama mata pelajaran Sastra akan dinilai menggunakan rubrik.
Menurut Bapak Ha, mengingat sifat unik dari bidang Sastra, esai para kandidat mungkin memiliki banyak pendekatan dan ekspresi yang berbeda. Oleh karena itu, penilaian menggunakan rubrik akan memberikan dasar yang lebih jelas bagi penguji untuk melakukan evaluasi, membatasi kecenderungan untuk memberi nilai berdasarkan perasaan subjektif.
Sumber: https://baovanhoa.vn/doi-song/vi-sao-mon-ngu-van-cham-theo-rubric-239334.html






