Program F-35 AS dilaporkan sedang mempersiapkan peningkatan sistem enkripsi penting pada jet tempur generasi kelima untuk menangkal ancaman serangan siber menggunakan komputer kuantum.
F-35 menghadapi tantangan baru.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran di kalangan militer AS tentang perkembangan pesat teknologi kuantum China, bidang yang telah dianggap Beijing sebagai prioritas strategis nasional selama bertahun-tahun.
Menurut sumber militer, sistem yang membutuhkan peningkatan adalah In-Line File Encryption Device, yaitu komponen perangkat keras dan perangkat lunak yang bertanggung jawab untuk mengenkripsi, mengautentikasi, dan melindungi kode operasional di dalam F-35.
Ini dianggap sebagai "perisai digital" yang melindungi berbagai data jet tempur rahasia, seperti sistem tempur, tautan data, dan perangkat lunak kendali.
Pengintegrasian algoritma anti-kuantum diperkirakan akan memerlukan perubahan signifikan pada platform kriptografi F-35 saat ini.

Pesawat tempur F-35. Foto: Military Watch
Apakah AS khawatir tentang teknologi Tiongkok?
Komputer kuantum dianggap memiliki potensi untuk menciptakan lompatan besar dalam kemampuan pengolahan data dibandingkan dengan komputer tradisional. Di bidang militer, teknologi ini berpotensi memengaruhi peperangan siber, kecerdasan buatan, desain senjata, dan bahkan sistem komando dan kendali tempur.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi untuk membobol standar enkripsi saat ini. Sistem keamanan yang aman terhadap superkomputer tradisional dapat didekripsi jauh lebih cepat jika dihadapkan dengan komputer kuantum yang cukup kuat.
Sejak tahun 2019, sebuah studi oleh Sekolah Studi Militer Lanjutan Komando Angkatan Darat AS telah memperingatkan bahwa dampak serangan siber menggunakan komputasi kuantum bisa sangat parah sehingga dapat dibandingkan dengan pencegahan nuklir era Perang Dingin.
Selama bertahun-tahun, Presiden Tiongkok Xi Jinping secara konsisten menekankan peran strategis teknologi kuantum, menyebutnya sebagai "langkah antisipasi" yang dapat menentukan keunggulan kompetitif di arena internasional.
Saat ini, Beijing dianggap sebagai salah satu negara terkemuka di dunia dalam penelitian kuantum. China meluncurkan sistem komunikasi kuantum pertama di dunia pada tahun 2016 melalui satelit Micius, meletakkan dasar bagi internet kuantum di masa depan.

Sebuah jet tempur F-35A Angkatan Udara AS. Foto: Military Watch
Ancaman pesawat siluman
Selain peperangan siber, teknologi kuantum juga diyakini memiliki dampak langsung pada kemampuan bertahan hidup pesawat tempur siluman seperti F-35.
Beberapa pakar militer percaya bahwa radar kuantum, meskipun masih dalam tahap pengembangan yang kompleks, berpotensi untuk secara signifikan mengurangi keunggulan siluman yang menjadi dasar pesawat tempur generasi kelima.
Berbeda dengan radar tradisional, radar kuantum secara teoritis dapat mendeteksi target dengan penampang radar yang sangat rendah dengan memanfaatkan sifat-sifat fisika kuantum.
Meskipun banyak ilmuwan percaya bahwa teknologi ini masih jauh dari penerapan skala besar, investasi besar China di bidang kuantum memaksa AS untuk mempersiapkan diri lebih awal untuk skenario masa depan.

Gambar ilustrasi komunikasi kuantum melalui satelit Micius milik China. (Gambar: Military Watch)
Fakta bahwa F-35 adalah salah satu platform militer AS pertama yang mengadopsi algoritma anti-kuantum menunjukkan bahwa Washington mulai menganggap ini sebagai prioritas keamanan yang sangat penting.
Selama bertahun-tahun, Institut Standar dan Teknologi Nasional AS (NIST) telah mempromosikan pengembangan standar kriptografi kuantum untuk melindungi infrastruktur pertahanan dan sipil dari ancaman di masa depan.
Para pengamat percaya bahwa persaingan AS-China tidak lagi terbatas pada kapal induk, rudal, atau jet tempur, tetapi dengan cepat meluas ke teknologi fundamental seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan komputasi kuantum.
Dalam konteks ini, kebutuhan Washington untuk menyesuaikan sistem keamanan F-35 dipandang sebagai tanda bahwa perlombaan teknologi militer generasi berikutnya memasuki fase yang jauh lebih intens daripada sebelumnya.
Sumber: https://vtcnews.vn/vi-sao-my-gap-rut-nang-cap-tiem-kich-f-35-ar1018683.html







Komentar (0)