Alam semesta mungkin sedang menyusut, menuju "Ledakan Besar" alih-alih ekspansi abadi, demikian hasil studi terobosan yang baru saja diterbitkan oleh para ilmuwan Korea Selatan, yang mempertanyakan teori-teori kosmologi yang telah lama dianut.

Apa itu teori Big Crunch? Bayangkan seperti apa yang terjadi ketika Anda menekan tombol putar ulang pada Big Bang (gambar: Quality Stock Arts/Shutterstock).
Bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa alam semesta terus mengembang, penelitian baru menunjukkan bahwa energi gelap, sebuah kekuatan misterius yang dulunya dianggap mempercepat ekspansi ini, mungkin melemah, menyebabkan penyusutan alam semesta dan pada akhirnya fenomena mengerikan yang dikenal sebagai "Big Crunch."
Profesor Young Wook Lee, kepala tim peneliti di Universitas Yonsei di Seoul, Korea Selatan, menyatakan: "Nasib alam semesta akan berubah."
Dia menjelaskan bahwa alam semesta mungkin "kehabisan gas," yang menyebabkan keruntuhan gravitasi di mana semua galaksi akan terkompresi menjadi satu.
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal bulanan Royal Astronomical Society of the UK, telah menantang teori-teori kosmologi yang telah ada selama beberapa dekade.

Para peneliti menggunakan supernova tipe IA, serupa dengan SN1994d yang terekam di galaksi induknya NGC4526, untuk membantu menentukan bahwa ekspansi alam semesta mungkin telah mulai melambat (gambar: NASA/ESA).
Sebelumnya, diyakini bahwa alam semesta dimulai dengan Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu dan kemudian mengembang perlahan. Namun, pada tahun 1998, para ilmuwan menemukan energi gelap, sebuah kekuatan misterius yang diyakini mempercepat perluasan alam semesta.
Analisis supernova (bintang yang meledak terang) telah menunjukkan bahwa galaksi-galaksi yang jauh bergerak menjauh satu sama lain dengan kecepatan yang semakin cepat, yang berpotensi menyebabkan "Big Rip"—peristiwa dahsyat yang akan menyebabkan atom-atom hancur.
Namun, penelitian baru oleh Profesor Lee dan rekan-rekannya mengusulkan hipotesis yang berbeda: energi gelap berubah dengan cepat, dan alam semesta mungkin kehabisan energi tersebut.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa alam semesta telah memasuki fase perlambatan ekspansi saat ini, dan energi gelap berevolusi jauh lebih cepat dari waktu ke waktu daripada yang diperkirakan sebelumnya," Profesor Lee menekankan.
"Jika hasil ini dikonfirmasi, ini akan menandai pergeseran besar dalam model kosmologi sejak energi gelap ditemukan 27 tahun yang lalu," katanya.

Diagram tersebut menunjukkan bahwa perluasan alam semesta mungkin mulai melambat. Profesor Lee menyatakan, “Penelitian kami menunjukkan bahwa Alam Semesta telah memasuki fase perluasan yang melambat pada saat ini, dan energi gelap berevolusi dari waktu ke waktu jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya” (gambar: Profesor Lee dan kolega).
Untuk mencapai kesimpulan ini, tim peneliti memeriksa kecerahan supernova Tipe IA, yang dijuluki "lilin standar" karena berfungsi sebagai penanda jarak di alam semesta. Jika bintang-bintang yang sekarat ini tampak redup, diyakini bahwa mereka berada sangat jauh, yang menggambarkan perluasan alam semesta akibat energi gelap.
Namun, setelah menganalisis 300 galaksi induk, Profesor Lee dan timnya menemukan bahwa kecerahan supernova lebih erat kaitannya dengan usia bintang sebelum meledak, daripada jaraknya. Secara spesifik, bintang yang lebih tua menghasilkan ledakan yang lebih terang, sedangkan bintang yang lebih muda secara sistematis lebih redup.
Hal ini membantah hipotesis bahwa energi gelap adalah kekuatan yang konstan, dan malah menunjukkan bahwa energi gelap dapat melemah secara bertahap seiring waktu.
Penelitian ini didukung oleh model baru yang disukai oleh Dark Energy Spectrometer (DESI) dan sangat sesuai dengan data dari Cosmic Microwave Background (CMB) dan Baryon Acoustic Oscillations (BAO).
"Analisis kami menunjukkan bahwa alam semesta memasuki fase perlambatan hari ini," tegas Profesor Lee.
Untungnya, bencana antargalaksi ini mungkin tidak akan terjadi selama masa hidup kita. Para kosmolog di Universitas Cornell memperkirakan bahwa kiamat akan terjadi dalam 19,5 miliar tahun mendatang.
Untuk mengkonfirmasi hasil ini, tim peneliti Universitas Yonsei sedang melakukan "eksperimen non-evolusioner" yang berfokus pada supernova di galaksi dengan usia yang serupa.
Kesimpulan akhir kemungkinan akan dikonfirmasi melalui Observatorium Vera C. Rubin di Chili, yang dilengkapi dengan kamera digital paling canggih di dunia dan diharapkan dapat mendeteksi 20.000 galaksi induk baru yang mengandung supernova dalam setengah dekade mendatang.
Sumber: https://dantri.com.vn/khoa-hoc/vu-tru-se-sup-do-trong-vu-co-lon-20260107004832015.htm






Komentar (0)