1. Teman saya adalah seorang pencinta alam, terutama bunga dan tanaman. Karena itu, ia mendedikasikan sebidang tanah untuk menanam bunga, yang setiap musim menghadirkan bunga-bunga harum dan manisnya sendiri. Baginya, kebun ini dipenuhi dengan cinta, membawa mimpi-mimpi masa kecilnya. Ia sering bercerita bahwa, di masa lalu, keluarganya juga memiliki kebun yang rimbun dan hijau sepanjang tahun, penuh dengan bunga dan buah-buahan yang manis. Di waktu luangnya, ia sering pergi ke kebun untuk membantu ibunya, menyiram, mencabuti gulma, memotong bunga, dan memetik buah.

Berjalan-jalan di taman pada pagi hari, mendengarkan kicauan burung pipit atau menatap sinar matahari keemasan yang baru mulai mengintip di antara pepohonan, mengisi hatinya dengan begitu banyak keyakinan dan cinta akan kehidupan. Melihat orang tuanya bekerja keras dengan tekun, wajah mereka selalu berseri-seri karena keringat, ia selalu bermimpi suatu hari nanti menjadi tukang kebun yang baik hati seperti mereka, atau setidaknya menabung untuk membeli sebidang tanah untuk menanam pohon. Dan kemudian, mimpi itu menjadi kenyataan, seindah taman bunganya yang indah saat ini.
Setiap kali aku mengunjunginya, berjalan santai di taman harumnya, aku merasa begitu kecil di tengah ketenangan dan kesunyian hidup. Terkadang, orang membutuhkan momen seperti ini untuk menemukan kedamaian di tengah ketenangan. Akhir-akhir ini, saat angin sejuk bertiup kencang, taman tetap hijau, diam-diam memelihara bunga-bunga musim baru. Di bawah sinar matahari sore yang miring, hatiku berbinar dengan sebuah pikiran puitis: "Dalam keheningan, aku duduk memadukan mimpi-mimpi merah tua / melukis mimpi-mimpi lama di setiap kanvas / hatiku masih mengingat hari-hari yang telah lama berlalu / hari-hari bunga, mimpi. Dan kau."
2. Tiba-tiba, aku teringat taman yang dipenuhi kenangan masa kecil dan tawa riang teman-teman yang polos. Itu adalah kebun teh hijau subur milik kakek-nenekku. Ada semak teh kuno, batangnya berwarna abu-abu gelap, cabangnya menjulang tinggi, melukis permadani yang semarak di langit biru. Selama setiap panen, nenekku seringkali harus memanjat bangku tinggi untuk mencapai cabang-cabang yang paling jauh.
Kami anak-anak sering memilih dua pohon teh tertinggi dan terdekat untuk membangun "rumah" kami untuk bermain pura-pura. Kami menggunakan dua batang pohon teh sebagai tiang depan, dan dua potong bambu yang dipaku dengan kuat ke kebun untuk bagian belakang. Atapnya terbuat dari daun pisang tua, dan lantainya ditutupi dengan tikar tua. Mainan pura-pura kami adalah seikat buah ara dan murbei yang kami kumpulkan, atau beberapa pisang dan potongan jeruk bali yang diberikan nenek kami. Kami bermain sampai benar-benar asyik, tawa dan celoteh kami memenuhi kebun yang cerah dengan sukacita.
Saat sendirian, aku masih sering pergi ke kebun untuk bermain. Setelah beberapa saat bermain sendiri, aku akan bosan, jadi aku akan membuat tempat untuk berbaring, menatap awan di langit, dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang diajarkan nenekku dengan lembut. Sambil memandang cabang-cabang teh hijau yang rimbun dengan dedaunan yang saling berjalin, aku membiarkan pikiranku mengembara. Gadis kecil berusia tujuh tahun saat itu tak henti-hentinya memikirkan nenek dan gurunya dengan penuh cinta dan kekaguman. Aku bermimpi bahwa ketika dewasa nanti, aku akan menjadi lembut, cakap, dan mampu melakukan apa saja seperti nenekku; dan cantik, baik hati, serta berpengetahuan luas tentang segala hal seperti guruku.
Ketika aku menceritakan hal-hal ini kepadanya, dia sering memelukku, mengelus kepalaku dengan lembut, dan berkata, "Kalau begitu, kamu harus belajar giat, anakku. Ketika kamu dewasa nanti, kamu akan menjadi sesukses gurumu." Kata-katanya sangat menyentuh hatiku, membangkitkan aspirasi hidup dalam jiwa muda yang penuh dengan mimpi dan cita-cita.
3. Pada akhir pekan yang santai, saya mengajak putri saya mengunjungi kebun teman saya. Musim ini, kebun itu memiliki teman-teman baru: beberapa rumpun bunga liar putih yang dibawa dari Da Lat. Beberapa semak mawar, termasuk mawar Sa Pa kuno dan mawar Van Khoi kuno, mulai bertunas. Hamparan krisan menguning di bawah sinar matahari. Di sebelahnya, sepetak tanaman heather putih yang masih alami diselingi dengan warna ungu lembut, berpadu harmonis dengan semilir angin.
Gadis kecil itu melompat-lompat, tawa dan celotehnya memenuhi udara dengan aroma bunga. “Kebun ini sangat indah! Saat aku besar nanti, aku akan membeli kebun dan menanam semua bunga harum ini!” serunya, matanya berbinar gembira. Melihatnya bermain di tengah hijaunya pepohonan yang damai dan ruang yang luas, hatiku dipenuhi dengan cinta akan kehidupan.
Tiba-tiba, putriku berlari ke arahku, meraih tanganku, dan mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah kuketahui: "Bu, apa mimpi Ibu waktu kecil?" Aku tak ingat sudah berapa kali ia menanyakan itu padaku. Setiap kali aku mendengarnya bertanya, kenangan-kenangan itu kembali membanjiri pikiranku. Dan aku merasa semakin menyayangi mimpi-mimpi yang tumbuh di kebun kecil nenekku, di pedesaan yang damai, penuh kehangatan dan kasih sayang keluarga.
Sumber: https://baogialai.com.vn/vuon-thuong-cho-nhung-uoc-mo-post573801.html






Komentar (0)