
Perbedaan budaya itu seperti melangkah mundur.
Ada ajang olahraga yang melampaui batas-batas olahraga. Piala Dunia adalah salah satu ajang tersebut. Setiap empat tahun, miliaran orang di seluruh dunia mengarahkan perhatian mereka pada satu bola. Orang mungkin berbeda dalam bahasa, warna kulit, agama, sejarah, dan tingkat perkembangan, tetapi pada saat bola bergulir, perbedaan-perbedaan itu seolah memudar.
Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen berskala lebih besar, tetapi juga acara budaya berskala lebih besar. Tiga negara, tiga sejarah, banyak komunitas imigran, dan lapisan identitas yang saling terkait akan menciptakan permadani multikultural yang dinamis. Jika ditelaah lebih dalam, Piala Dunia menyerupai ritual manusia modern. Ia mencakup simbol, upacara, komunitas, kenangan, dan kepercayaan.
Yang membuat Piala Dunia tetap menarik bukanlah hanya trofi emas, tetapi juga kisah budaya yang dibawa oleh setiap tim. Brasil turun ke lapangan dengan irama samba, dengan gaya yang bebas dan spontan, dengan semangat meriah yang seolah meresap ke setiap sentuhan bola. Argentina tidak hanya membanggakan bintang-bintang hebat, tetapi juga tango, kebanggaan Amerika Selatan, dan lingkungan tempat sepak bola menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jepang dikenang bukan hanya karena disiplin taktisnya, tetapi juga karena citra para penggemar yang memungut sampah setelah pertandingan—tindakan kecil yang berbicara banyak tentang budaya komunitas, harga diri, dan rasa hormat terhadap ruang bersama.
Oleh karena itu, setiap tim tidak hanya mewakili budaya sepak bola mereka sendiri. Mereka mewakili cara hidup, gaya, dan seperangkat nilai. Beberapa tim membangkitkan disiplin. Beberapa tim menginspirasi romantisme. Beberapa tim menunjukkan keberanian. Beberapa tim menggerakkan hati penonton dengan perjalanan mereka mengatasi kesulitan. Terkadang, sebuah tim kecil yang memasuki Piala Dunia membawa aspirasi besar sebuah bangsa yang ingin dilihat oleh dunia .
Dari perspektif itu, Piala Dunia adalah museum hidup identitas. Tetapi ini bukan jenis identitas yang diam di dalam etalase kaca. Ini adalah identitas yang bergerak, bernyanyi, menangis, berbenturan, terlibat dalam dialog, dan menemukan kembali dirinya sendiri.
Di tribun, terlihat kostum tradisional, simbol-simbol rakyat, warna bendera nasional, wajah yang dicat, tarian, gendang, dan lagu-lagu . Di media, terlihat cerita tentang makanan, kota, migrasi, komunitas, kaum muda, keluarga, dan kenangan. Di media sosial, terlihat jutaan fragmen budaya yang dibagikan, diubah, dan disebarluaskan.
Oleh karena itu, Piala Dunia tidak hanya mencerminkan budaya tetapi juga menghasilkan budaya. Itulah sebabnya negara-negara selalu menganggap Piala Dunia dan acara olahraga besar lainnya sebagai kesempatan untuk mempromosikan citra mereka, meningkatkan kekuatan lunak mereka, dan meningkatkan niat baik internasional.
Di dunia yang terglobalisasi, hal ini menjadi lebih signifikan. Globalisasi pernah menyebabkan banyak orang khawatir bahwa identitas akan menjadi tumpul, dan budaya akan menjadi lebih mirip. Tetapi Piala Dunia menunjukkan paradoks positif: Semakin terglobalisasi kita, semakin kita membutuhkan identitas; semakin terhubung kita, semakin banyak negara ingin diakui; semakin terintegrasi kita, semakin setiap negara harus tahu bagaimana menceritakan kisahnya sendiri. Tanpa identitas, integrasi dengan mudah berubah menjadi asimilasi. Tanpa kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, nilai-nilai budaya akan kesulitan menjangkau jauh. Tanpa kekuatan lunak, suatu negara, betapapun suksesnya, akan sulit menciptakan niat baik dan kekaguman yang langgeng.
Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam pernah menekankan semangat bahwa budaya harus memimpin, menumbuhkan karakter, memperkuat kepercayaan diri, dan membentuk keterampilan lunak nasional. Melihat Piala Dunia, pesan itu menjadi sangat relevan. Sebuah bangsa yang kuat bukan hanya bangsa dengan ekonomi yang maju, infrastruktur modern, dan teknologi canggih. Sebuah bangsa yang kuat juga adalah bangsa yang tahu bagaimana membuat dunia memahaminya, mengingatnya, mencintainya, dan ingin mendekat kepadanya. Kekuatan itu berasal dari citra, cerita, simbol, perilaku, emosi, dan keyakinannya.
Sepak bola, dalam hal ini, adalah jalur budaya yang sangat istimewa. Tidak perlu banyak penjelasan teoritis. Ia langsung menyentuh hati. Seorang anak bisa jatuh cinta pada negara asing hanya karena seorang pemain. Orang dewasa bisa mempelajari budaya suatu negara hanya karena mereka menyukai gaya bermain tim tersebut.
Sebuah gol yang membuat jutaan hati berdebar serempak.
Bagi Vietnam, meskipun tim nasional belum lolos ke putaran final Piala Dunia, kami tidak berada di luar ruang budaya tersebut. Masyarakat Vietnam mencintai sepak bola dengan jenis cinta yang sangat istimewa. Malam-malam perayaan di jalanan setelah kemenangan tim U23 Vietnam, tim nasional, dan tim wanita telah menunjukkan betapa kuatnya sepak bola dapat membangkitkan energi komunitas.
Ketika bendera merah dengan bintang kuning menyelimuti jalanan, ketika orang asing saling tersenyum, ketika sebuah gol membuat jutaan hati berdebar serempak, itu bukan hanya kegembiraan olahraga. Itu adalah ekspresi budaya patriotisme, aspirasi, kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dan bangga.
Piala Dunia 2026 juga menawarkan pelajaran berharga bagi Vietnam dalam industri budaya. Pertandingan sepak bola berlangsung selama 90 menit, tetapi nilai yang dihasilkan dapat jauh melebihi waktu tersebut. Sebelum pertandingan, ada liputan media, penceritaan, pengakuan merek, penjualan tiket, hak cipta, suvenir, dan konten digital.
Selama pertandingan, ada pengalaman stadion, suara, pencahayaan, pelayanan, keamanan, ritual, dan emosi komunitas. Setelah pertandingan, ada film dokumenter, buku foto, data penggemar, perjalanan retrospektif, diskusi media, dan memori kolektif. Sebuah peristiwa besar tidak berakhir ketika peluit akhir dibunyikan. Peristiwa itu terus hidup dalam benak publik dan dalam rantai nilai kreatif.
Ini adalah sesuatu yang perlu direnungkan oleh Vietnam. Kita memiliki banyak acara olahraga, festival budaya, program seni, dan kegiatan pariwisata dengan potensi besar, tetapi kita tidak selalu berhasil mengubah acara-acara ini menjadi ekosistem yang terintegrasi. Seringkali, kita menyelenggarakan sesuatu dan kemudian selesai. Audiens yang besar tidak selalu berarti kedalaman. Kemegahan tidak menjamin pengakuan merek. Emosi tidak selalu menghasilkan hasil yang nyata. Liputan media tidak menjamin cerita jangka panjang. Kebanggaan tidak selalu diterjemahkan menjadi nilai ekonomi, pariwisata, kreativitas, atau diplomasi antar masyarakat.
Piala Dunia menunjukkan bahwa industri budaya tidak dimulai dengan slogan, tetapi dengan kemampuan untuk merancang pengalaman. Para penggemar pergi ke pertandingan bukan hanya untuk menonton sepak bola. Mereka pergi untuk merasakan suasana meriah, berfoto, membeli suvenir, makan makanan lokal, mendengarkan musik, bertemu orang-orang yang berbeda, dan berbagi pengalaman mereka di media sosial.
Piala Dunia juga mengingatkan kita akan budaya dukungan. Penggemar bukan hanya konsumen olahraga, tetapi juga aktor budaya. Cara mereka bersorak, merayakan, berdebat, dan bereaksi terhadap kemenangan dan kekalahan semuanya berkontribusi dalam membentuk masyarakat. Penggemar berhak untuk bahagia, tetapi kebahagiaan itu harus disertai dengan tanggung jawab. Mereka berhak untuk sedih, tetapi kesedihan itu tidak boleh menjadi ekstrem. Mereka berhak untuk mencintai tim mereka, tetapi cinta itu tidak perlu dibuktikan dengan meremehkan tim lain.
Lebih jauh lagi, jika suatu hari Vietnam ingin berpartisipasi di Piala Dunia bukan hanya melalui kecintaan para penggemarnya tetapi juga melalui tim nasionalnya, kita harus memulai dengan budaya pengembangan olahraga. Mimpi Piala Dunia tidak bisa dimulai dari babak kualifikasi. Mimpi itu dimulai dari lapangan bermain anak-anak, dari pendidikan jasmani di sekolah, dari sepak bola sekolah, dari nutrisi, kedokteran olahraga, ilmu kepelatihan, manajemen klub, pelatihan pemain muda, etika profesional, hak siar televisi, dan budaya profesional. Fondasi sepak bola yang kuat tidak dapat dibangun di atas emosi yang sementara. Fondasi itu membutuhkan fondasi budaya yang kokoh.
Piala Dunia 2026 dimulai dengan peluit pembukaan, dengan stadion yang meriah, kaki-kaki yang bersemangat, dan harapan besar. Tetapi bagi mereka yang terlibat dalam budaya, bola yang bergulir juga membangkitkan pemikiran yang lebih dalam: Di era globalisasi ini, setiap negara membutuhkan cara untuk hadir dalam benak umat manusia. Beberapa negara hadir melalui teknologi. Beberapa melalui ekonomi. Beberapa melalui seni, kuliner, film, dan musik. Dan ada saat-saat ketika suatu negara hadir melalui sepak bola.
Vietnam juga perlu mempersiapkan diri dengan cara-cara menampilkan diri seperti ini: percaya diri, manusiawi, kreatif, dan dengan identitas yang khas. Ketika budaya menjadi kekuatan lunak, ketika olahraga menjadi bagian dari budaya, ketika penggemar menjadi duta citra nasional, ketika setiap acara dilihat sebagai peluang untuk pembangunan, kita akan melihat bahwa Piala Dunia bukan lagi cerita yang jauh di dunia. Ini akan menjadi cermin bagi Vietnam untuk merefleksikan dirinya sendiri, jalan pembangunannya, dan bagaimana kita melangkah ke dunia dengan bangga, kebaikan, dan keinginan untuk bangkit.
Sumber: https://baovanhoa.vn/the-thao/world-cup-2026-su-kien-van-hoa-toan-cau-236237.html



























































