Seiring merek-merek terus merilis model smartwatch baru yang menggabungkan teknologi canggih, pengguna semakin menikmati kemudahan yang ditawarkannya. Namun, mirip dengan banyak produk teknologi lainnya, smartwatch saat ini diliputi oleh berbagai kesalahpahaman dari konsumen. Prasangka ini membuat orang ragu untuk membelinya atau melebih-lebihkan kemampuannya, membuat perangkat tersebut tampak lebih "canggih" daripada yang sebenarnya. Mari kita jelajahi delapan kesalahpahaman umum di bawah ini untuk menjadi pembeli yang cerdas.
1. Smartwatch adalah perangkat yang sudah ketinggalan zaman dibandingkan dengan smartphone.
Banyak orang menganggap smartwatch hanyalah versi smartphone yang disederhanakan dan memiliki fitur terbatas, karena sebagian besar fungsinya memerlukan koneksi antara kedua perangkat. Mereka bertanya-tanya mengapa mereka harus membeli layar mini hanya untuk melihat notifikasi ketika ponsel mereka sudah memiliki versi yang lengkap.
Sebenarnya, kedua perangkat ini adalah pelengkap yang saling mendukung saat Anda mengemudi atau berjalan di jalanan yang ramai dan tidak nyaman untuk mengeluarkan ponsel Anda. Smartwatch juga memiliki sensor khusus yang bersentuhan langsung dengan kulit untuk mengumpulkan data kesehatan, sesuatu yang sama sekali tidak mampu dilakukan oleh smartphone.
2. Smartwatch adalah perangkat yang kompleks.
Sebagian orang khawatir bahwa ruang layar yang terbatas akan membuat mempelajari cara menggunakan jam tangan pintar menjadi sulit. Fakta bahwa antarmuka watchOS atau Wear OS memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan ponsel semakin meningkatkan kekhawatiran ini.

Banyak orang ragu untuk menggunakan smartwatch karena dianggap rumit dan sulit dioperasikan.
FOTO: PHONG DO
Namun, proses adaptasi ini mirip dengan pengemudi yang beralih dari mobil manual ke mobil otomatis. Antarmuka mereka masih memiliki banyak kesamaan dengan ponsel pintar, dan mengenakan jam tangan secara teratur akan membantu Anda cepat terbiasa dengan menu-menunya.
3. Memakai smartwatch membuat tubuh terpapar radiasi berbahaya.
Karena jam tangan terus-menerus mengirimkan sinyal koneksi dan bersentuhan langsung dengan kulit, beberapa kelompok khawatir bahwa jam tangan tersebut memancarkan radiasi berbahaya. Banyak yang percaya bahwa mengenakan perangkat tersebut siang dan malam akan langsung membahayakan kesehatan jangka panjang. Meskipun jam tangan pintar memang memancarkan radiasi, pemancar frekuensi radio berdaya rendahnya hanya menghasilkan radiasi non-ionisasi. Menurut CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit), jenis radiasi ini sepenuhnya tidak berbahaya pada tingkat rendah, dan semua perangkat harus memenuhi standar keselamatan FCC (Komisi Komunikasi Federal) sebelum dijual.
4. Baterai smartwatch cepat habis dan perlu diisi daya terus-menerus.
Ukuran smartwatch yang kecil berarti baterainya juga kecil, sehingga banyak orang salah mengira bahwa baterai tersebut hanya bertahan dalam waktu singkat. Pengguna khawatir akan ketidaknyamanan karena harus melepas jam tangan untuk mengisi daya beberapa kali sehari.

Apakah penggunaan smartwatch menguras baterai dengan cepat?
FOTO: PHONG DO
Faktanya, pengguna dapat dengan mudah memperpanjang masa pakai baterai dengan mengurangi kecerahan layar, menutup aplikasi latar belakang, atau mematikan GPS. Selain itu, model yang lebih baru seperti Apple Watch Ultra 3 dapat bertahan hingga 72 jam, atau Garmin Enduro 3 hingga 90 hari berkat pengisian daya tenaga surya.
5. Pengukuran pada smartwatch tersebut benar-benar akurat.
Para produsen terus-menerus mengiklankan sensor canggih, yang membuat pengguna secara memb盲盲 percaya pada jumlah langkah, jumlah kalori, dan pengukuran detak jantung. Banyak orang menganggap angka-angka ini sebagai indikator kondisi fisik mereka yang 100% akurat.
Namun, sensor-sensor ini masih memiliki keterbatasan dan seringkali menghasilkan hasil yang kurang akurat dibandingkan dengan peralatan medis khusus. Meskipun demikian, data ini tetap dapat digunakan untuk melacak tren kesehatan secara keseluruhan.
6. Smartwatch selalu menimbulkan risiko keamanan siber yang signifikan.
Integrasi fitur pembayaran tanpa kontak seperti Apple Pay atau Samsung Wallet telah menimbulkan kekhawatiran tentang peretasan. Pengguna khawatir informasi kartu bank dan data lokasi pribadi mereka dapat dengan mudah dicuri. Namun, risiko ini sepenuhnya dapat dikelola dengan memperbarui perangkat lunak secara berkala dan mengatur kata sandi yang kuat atau otentikasi biometrik. Perangkat hanya menjadi benar-benar rentan ketika sudah sangat tua dan tidak lagi menerima pembaruan keamanan dari produsen.
7. Perangkat ini mampu mendiagnosis sendiri masalah kesehatan.
Maraknya aplikasi pelacak detak jantung dan tidur telah menyebabkan banyak orang keliru percaya bahwa jam tangan pintar adalah alat diagnostik. Mereka cenderung mencari grafik abnormal secara online untuk menarik kesimpulan sendiri tentang kesehatan mereka.

Saat ini, smartwatch tersebut sedang mengukur detak jantung.
FOTO: PHONG DO
Para ahli medis menegaskan bahwa jam tangan pintar mengumpulkan banyak informasi tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan klinis oleh dokter. Lonjakan detak jantung tunggal tidak selalu berarti Anda mengidap penyakit yang memerlukan pengujian lebih lanjut dan lebih mendalam.
8. Smartwatch tidak menawarkan nilai yang sepadan dengan harganya.
Melihat harga selangit model-model kelas atas, mulai dari $799 hingga $3.100, banyak orang menganggap ini sebagai pengeluaran yang berlebihan. Mereka percaya bahwa jumlah yang dikeluarkan melebihi nilai sebenarnya yang diberikan oleh perangkat wearable tersebut. Pada kenyataannya, nilai sebuah jam tangan bergantung pada seberapa baik seseorang memanfaatkan fitur-fiturnya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, pasar sekarang menawarkan banyak pilihan yang lebih terjangkau mulai dari $199 hingga $249 dari merek-merek seperti Apple, Samsung, Amazfit, dan Huawei, sehingga lebih mudah diakses oleh konsumen.
Sumber: https://thanhnien.vn/8-hieu-lam-ve-smartwatch-nhieu-nguoi-mac-phai-185260624092121067.htm








