Berikut adalah beberapa efek negatif utama yang dapat terjadi pada tubuh Anda jika Anda malas berolahraga:
1. Kurangnya olahraga dapat menyebabkan kekakuan sendi.
Isi
- 1. Kurangnya olahraga dapat menyebabkan kekakuan sendi.
- 2. Kurangnya olahraga meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
- 3. Kelemahan otot
- 4. Penurunan kepadatan tulang
- 5. Kurangnya olahraga memperpanjang waktu pemulihan setelah sakit.
- 6. Meningkatnya tingkat stres
- 7. Dampak pada tingkat energi dan kualitas tidur
- 8. Meningkatnya risiko jatuh.
- 9. Meningkatnya risiko penyakit kronis.
Tanpa olahraga atau gerakan teratur, jaringan di sekitar persendian menjadi kaku dan kurang fleksibel. Kekakuan ini dapat menyulitkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti membungkuk untuk mengikat tali sepatu atau mengangkat benda berat.
Aktivitas fisik teratur membantu meningkatkan mobilitas, memperluas jangkauan gerak, dapat mengurangi rasa sakit, menurunkan risiko cedera, dan mempermudah melakukan tugas sehari-hari.
2. Kurangnya olahraga meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
Ketika Anda kurang berolahraga, kurang aktif, atau banyak duduk, Anda mungkin membakar lebih sedikit kalori daripada yang Anda konsumsi, menyebabkan tubuh Anda menyimpan energi sebagai lemak, sehingga meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Selain itu, metabolisme Anda cenderung beradaptasi dengan tingkat aktivitas Anda, yang menyebabkan peningkatan berat badan secara bertahap, terutama di sekitar perut. Berat badan berlebih ini dapat menjadi signifikan seiring waktu.
Oleh karena itu, menurut American Heart Association (AHA), olahraga teratur, setidaknya 150 menit olahraga intensitas sedang per minggu, dan diet sehat berkontribusi pada pengelolaan berat badan yang efektif.

Kurangnya olahraga dan gaya hidup kurang aktif meningkatkan risiko kelebihan berat badan.
3. Kelemahan otot
Ketika otot tidak dilatih secara teratur, otot akan mulai melemah dan mengalami atrofi. Otot yang lemah tidak dapat menopang persendian dengan baik, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan dan berpotensi cedera. Kelemahan otot umum terjadi pada orang dengan pekerjaan yang kurang aktif seperti pekerja kantoran atau mereka yang banyak bekerja dengan komputer.
Mulai sekitar usia 30 tahun, orang dewasa mulai kehilangan 3 hingga 5% massa otot setiap dekade sebagai konsekuensi alami dari proses penuaan. Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan otot, setiap orang harus berupaya melakukan latihan penguatan yang menargetkan semua kelompok otot utama setidaknya dua kali seminggu.
4. Penurunan kepadatan tulang
Olahraga adalah kunci untuk menjaga tulang tetap kuat, terutama seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, kurangnya olahraga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan kehilangan massa tulang. Seiring waktu, tulang menjadi sangat lemah sehingga rentan terhadap patah tulang, yang menyebabkan cedera serius.
Akademi Ahli Bedah Ortopedi Amerika merekomendasikan latihan beban yang membantu membangun tulang yang lebih kuat, seperti berjalan kaki, jogging, olahraga raket, dan menaiki tangga. Tekanan pada tulang selama aktivitas ini adalah yang membantu memperkuatnya.

Kurangnya olahraga meningkatkan risiko penurunan kepadatan tulang, sehingga memudahkan terjadinya osteoporosis.
5. Memperpanjang waktu pemulihan setelah sakit.
Penyakit dapat membuat olahraga menjadi lebih sulit karena tubuh mengalami kelelahan fisik dan mental. Namun, sains telah menunjukkan banyak manfaat berolahraga selama pemulihan dari penyakit, termasuk:
- Perkuat sistem kekebalan tubuh Anda.
- Meningkatkan kesehatan kardiovaskular
- Memperkuat tulang dan otot.
- Mengurangi rasa lelah...
Oleh karena itu, orang yang berolahraga secara teratur cenderung pulih lebih cepat dari penyakit seperti COVID-19, pneumonia, dan influenza. Sebaliknya, mereka yang tidak berolahraga atau menjalani gaya hidup kurang aktif tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan ini dan akan mengalami waktu pemulihan yang lebih lama.
6. Meningkatnya tingkat stres
Stres akibat gaya hidup kurang gerak adalah stres fisik dan psikologis. Tubuh manusia berevolusi untuk bergerak. Otot, persendian, dan organ dalam kita bergantung pada gerakan teratur agar berfungsi optimal. Ketika ritme alami ini terganggu oleh duduk terlalu lama atau kurang aktif, tubuh mulai bereaksi, menyebabkan kerusakan yang mendalam seiring waktu.
Penelitian di AS menunjukkan bahwa perilaku kurang gerak, seperti duduk di meja selama lebih dari delapan jam sehari, menonton film terus menerus, atau bermain video game dalam waktu lama, menyebabkan perubahan hormonal, khususnya peningkatan kortisol, hormon stres utama tubuh.
Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu tidur, meningkatkan kecemasan, dan memicu peradangan. Efek-efek ini menciptakan lingkaran setan berupa kurangnya aktivitas akibat stres, yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
7. Dampak pada tingkat energi dan kualitas tidur
Olahraga teratur memperkuat jantung dan paru-paru. Seiring waktu, organ-organ ini menjadi lebih efisien dalam mengantarkan oksigen ke otot, sehingga memberi tubuh lebih banyak energi untuk melakukan tugas sehari-hari. Oleh karena itu, kurangnya olahraga atau aktivitas fisik dapat menyebabkan kelemahan otot, sirkulasi darah yang buruk, dan tingkat energi yang rendah.
Selain itu, olahraga berkontribusi pada peningkatan kualitas tidur, memudahkan untuk tertidur dan meningkatkan kualitas tidur. Namun, kurangnya olahraga atau waktu olahraga yang tidak tepat, seperti berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur, akan membalikkan efek tersebut. Hal ini karena aktivitas fisik merangsang tubuh untuk melepaskan endorfin, hormon yang menciptakan perasaan waspada, sekaligus meningkatkan suhu tubuh, sehingga lebih sulit untuk rileks dan lebih mudah untuk tetap terjaga.
8. Meningkatnya risiko jatuh.
Aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan keseimbangan, terutama seiring bertambahnya usia. Tanpa olahraga teratur, kemampuan ini akan menurun, sehingga meningkatkan risiko jatuh.
Jatuh seringkali mengakibatkan cedera serius, seperti patah tulang, cedera kepala, luka-luka, dan bahkan kematian.
9. Meningkatnya risiko penyakit kronis.
Orang dengan gaya hidup kurang aktif dan jarang berolahraga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, sindrom metabolik, penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Sebaliknya, olahraga teratur dapat mengurangi risiko terkena beberapa jenis kanker, termasuk kanker kandung kemih, payudara, usus besar, endometrium, kerongkongan, ginjal, paru-paru, dan lambung.
Cara memulai berolahraga:
Jika Anda baru memulai olahraga, mulailah perlahan dengan jalan kaki singkat dengan kecepatan sedang, cukup untuk memungkinkan Anda mengobrol tanpa kehabisan napas. Pertimbangkan untuk bergabung dengan kelas olahraga kelompok atau bekerja dengan pelatih pribadi untuk panduan lebih lanjut. Jika Anda memiliki kondisi kesehatan atau cedera tertentu, konsultasikan dengan profesional untuk memastikan rutinitas olahraga Anda dipersonalisasi dan aman.
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/9-tac-hai-khi-luoi-tap-the-duc-169260106161819257.htm






Komentar (0)