
Rusia sedang bernegosiasi dengan India mengenai pasokan tambahan sistem rudal pertahanan udara S-400.
Badan Federal untuk Kerja Sama Militer- Teknis (FSMTC) Rusia mengumumkan pada 26 Mei bahwa Rusia dan India sedang mengadakan pembicaraan mengenai pasokan sejumlah sistem rudal pertahanan udara S-400 lainnya ke New Delhi.
Berbicara di sela-sela pembukaan Forum Keamanan Internasional di Moskow, FSMTC mengatakan bahwa India telah menyatakan minatnya pada sistem rudal pertahanan udara canggih ini.
FSMTC menyatakan: “Rusia siap untuk ini. Negosiasi sedang berlangsung.”
Badan tersebut juga menyatakan bahwa sistem S-400 telah "terbukti efektif" dalam konflik militer antara India dan Pakistan pada Mei 2025.
Sebelumnya, kepala FSMTC Dmitry Shugaev menyatakan bahwa kontrak saat ini untuk pasokan sistem S-400 ke India berjalan sesuai jadwal. Ia juga menegaskan bahwa Rusia tidak mengesampingkan kemungkinan pengiriman sistem S-400 lebih lanjut ke New Delhi di masa mendatang.
Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan bahwa India juga tertarik pada sistem pertahanan udara S-500 Rusia yang lebih canggih, yang mampu mencegat target di orbit rendah.

Kementerian Pertahanan India mengatakan rencana tersebut mencakup pembelian lima sistem rudal S-400 tambahan. (Foto: financialexpress)
Pada bulan Maret lalu, Dewan Akuisisi Pertahanan India (DAC) menyetujui proposal pengadaan pertahanan senilai sekitar 25 miliar dolar AS, termasuk sistem pertahanan udara S-400, berbagai pesawat terbang, dan artileri, sebagai bagian dari program modernisasi militer berskala besar.
Dalam pengumuman tersebut, Kementerian Pertahanan India menyatakan bahwa rencana tersebut mencakup pembelian lima sistem S-400 tambahan, di samping lima sistem yang dipesan New Delhi pada tahun 2017.
Hingga saat ini, Rusia telah mengirimkan tiga sistem S-400 ke India berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada tahun 2017. Sistem keempat diharapkan akan dikirimkan sebelum akhir bulan ini, dan sistem terakhir akan dikirimkan sebelum akhir tahun ini.
Selain sistem pertahanan udara, DAC juga menyetujui rencana pembelian pesawat angkut untuk menggantikan model An-32 dan Il-76 era Soviet, beserta berbagai sistem artileri.
Menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), India saat ini merupakan negara dengan pengeluaran militer terbesar kelima di dunia dan importir senjata terbesar kedua secara global, setelah Ukraina.
Lebih dari 60% peralatan militer India berasal dari bekas Uni Soviet atau Rusia. Namun, New Delhi kini juga mempromosikan strategi untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negerinya melalui program "Make in India".
Bich Hong
Sumber: https://baothanhhoa.vn/an-do-dam-phan-mua-them-ten-lua-s-400-cua-nga-bat-chap-suc-ep-tu-my-289020.htm








Komentar (0)