
Kendaraan-kendaraan yang beredar di jalanan New Delhi, India - Foto: REUTERS
Menurut Financial Times, pada 24 Juli, pemerintah India mengumumkan selesainya peningkatan tingkat pencampuran etanol dalam bensin menjadi 20% (E20) – sebuah tonggak penting yang dicapai lima tahun lebih cepat dari target semula (2030), yang menunjukkan komitmen kuat terhadap transisi menuju energi bersih.
Dampak signifikan
Pemerintah India menyatakan bahwa kebijakan pencampuran bensin dengan etanol bukan hanya pencapaian teknis, tetapi juga titik balik strategis dalam transisi energi, menciptakan bioekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Alih-alih hanya bergantung pada tebu dan jagung, pemerintah mendorong penggunaan molase, beras busuk, hasil sampingan pertanian , dan biomassa organik. Pendekatan ini tidak hanya memaksimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia tetapi juga mengurangi emisi metana dari limbah pertanian, membatasi persaingan langsung dengan rantai pasokan makanan, dan meningkatkan keberlanjutan lingkungan.
Secara ekonomi, dampak program bensin campuran etanol (EBP) semakin terlihat jelas. Diperkirakan pada tahun 2025, pembelian etanol dari petani akan menghasilkan lebih dari 1,18 triliun rupee (US$13,46 miliar) untuk daerah pedesaan, sementara kilang minyak akan mencatat pendapatan sekitar 1,96 triliun rupee (US$22,36 miliar).
Angka-angka ini tidak hanya mencerminkan efisiensi keuangan tetapi juga menunjukkan hubungan erat antara transisi energi dan tujuan pembangunan pedesaan.
Program ini juga membawa manfaat signifikan bagi neraca pembayaran nasional: sekitar 19,3 juta ton minyak digantikan melalui pencampuran etanol, sehingga menghemat devisa India hampir 1,36 triliun rupee (US$15,5 miliar).
Dari perspektif lingkungan, etanol lebih unggul daripada bensin tradisional karena angka oktan yang tinggi, memungkinkan pembakaran yang lebih bersih dan efisien. Penerapan EBP secara luas diperkirakan akan membantu India mengurangi 700 juta ton gas rumah kaca pada tahun 2025 – sebuah kontribusi signifikan untuk memenuhi komitmen internasional berdasarkan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.
Selain mengurangi emisi CO2 , bensin campuran juga membantu menurunkan konsentrasi polutan berbahaya seperti karbon monoksida dan hidrokarbon – penyebab utama polusi udara parah di kota-kota besar seperti New Delhi, Kanpur, dan Mumbai.
Menurut media India, tidak berhenti pada pencapaian E20, negara tersebut kini mengejar tujuan yang lebih ambisius: meningkatkan tingkat pencampuran etanol menjadi 30% (E30) pada tahun 2030.
Reaksi campuran
Meskipun dipuji sebagai langkah maju yang besar dalam transisi energi, program pencampuran etanol India masih menghadapi banyak penolakan dari konsumen dan beberapa ahli.
Faktanya, gelombang protes ini muncul dari pengguna kendaraan pribadi, terutama pemilik mobil, yang khawatir bahwa bahan bakar campuran akan mengurangi performa kendaraan, menyebabkan korosi komponen, dan meningkatkan biaya perawatan.
Namun, menurut Asosiasi Produsen Gula dan Bioenergi India (ISMA), kekhawatiran tentang dampak bensin campuran pada mesin adalah "tidak ilmiah." Indian Express, mengutip Kementerian Minyak dan Gas Alam, juga menegaskan bahwa efek ini "dapat diabaikan" dan dapat dikurangi dengan perawatan rutin.
Meskipun demikian, reaksi konsumen belum mereda. Bagi mereka, perubahan ini bukan sekadar perbedaan persentase, tetapi ancaman bagi dompet dan umur pakai kendaraan mereka. Oleh karena itu, banyak pakar kebijakan percaya bahwa untuk mewujudkan visi jangka panjang perluasan produksi etanol, India perlu beralih ke kendaraan yang menggunakan bahan bakar fleksibel.
Penggunaan jenis kendaraan ini masih sangat terbatas. Produsen mobil seperti Toyota menyatakan bahwa biaya produksi setiap FFV (Fuel Cell Vehicle) bisa lebih tinggi sebesar 50.000 hingga 100.000 rupee (US$570 hingga US$1.140). Sebagai perbandingan, untuk kendaraan roda dua, angka ini sekitar 25.000 rupee (US$285) karena kebutuhan untuk melengkapinya dengan komponen tahan korosi dan sensor yang sesuai.
Selain kekhawatiran tentang efisiensi, perluasan produksi etanol juga dipandang sebagai pemicu ketidakstabilan di masa depan dalam hal ketahanan pangan dan sumber daya air. Penggunaan bahan baku seperti tebu dan jagung – yang menempati sebagian besar lahan pertanian dan irigasi – dapat mendorong kenaikan harga pangan dan memperburuk kelangkaan air di negara bagian pertanian yang sudah kering seperti Maharashtra dan Uttar Pradesh.
Oleh karena itu, banyak ahli energi, termasuk Dr. Anil Kumar Sinha - kepala ilmuwan di Institut Perminyakan India - merekomendasikan agar India mempercepat pengembangan biofuel generasi kedua (2G) yang diproduksi dari limbah pertanian seperti jerami, sekam padi, dan biomassa yang tidak bersaing dengan tanaman pangan.
Mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
Ketika AS menaikkan tarif impor menjadi 50% sebagai respons terhadap pembelian minyak India yang terus berlanjut dari Rusia, New Delhi membalas dengan keras, menyebut tindakan itu "tidak adil dan tidak dapat diterima."
Dalam konteks ini, program EBP bukan lagi sekadar kebijakan lingkungan, tetapi menjadi alat strategis untuk membantu India mengurangi ketergantungannya pada impor minyak.
Menurut S&P Global (sebuah perusahaan multinasional yang menyediakan informasi dan data keuangan), pencapaian target E20 lebih cepat dari jadwal bukan hanya prestasi teknis tetapi juga menunjukkan upaya nyata India untuk meningkatkan kemandirian energinya.
Etanol bertindak sebagai "perisai" energi, membantu perekonomian menahan tekanan sanksi dan perubahan geopolitik yang tidak terduga.
Kembali ke topik
HATI DAN YANG
Sumber: https://tuoitre.vn/an-do-muon-xanh-hoa-bang-xang-pha-ethanol-2025081523475669.htm
Komentar (0)