![]() |
Sampah berserakan di seluruh pantai Kuta di Bali, Indonesia, pada 23 Januari. Foto: SCMP . |
Berbicara kepada para pemimpin lokal, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa ia telah menerima banyak keluhan dari kepala negara dan pejabat asing tentang tingkat polusi di Bali. Ia mengutip umpan balik yang blak-blakan dari mitra internasional bahwa "Bali sekarang sangat kotor, tidak lagi seindah dulu," menurut SCMP.
Presiden mengatakan bahwa ia menerima komentar tersebut sebagai kritik yang membangun dan merilis gambar pantai-pantai Bali yang dipenuhi sampah pada bulan Desember.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang besar, tetapi wisatawan menyaksikan kondisi kumuh, terutama di pantai-pantai terkenal Bali, yang dapat mengurangi daya tarik destinasi tersebut.
Prabowo menilai respons Gubernur Bali Wayan Koster terhadap masalah sampah sebagai "lambat," meskipun memiliki wewenang penuh untuk memobilisasi 4,5 juta penduduk pulau itu untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih.
Presiden bahkan memperingatkan bahwa ia akan mengerahkan militer untuk berpartisipasi dalam kampanye pembersihan rutin jika pemerintah daerah tidak memenuhi tuntutan tersebut, dan menyatakan "perang" terhadap sampah.
Menindaklanjuti peringatan Presiden, pemerintah Bali berjanji untuk membentuk gugus tugas dan secara rutin memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pembersihan. Dalam beberapa hari terakhir, polisi, militer, dan lembaga lingkungan hidup Bali telah berkoordinasi untuk membersihkan sejumlah pantai seperti Kuta dan Kedonganan.
![]() |
Puluhan tentara Indonesia dan relawan militer membersihkan pantai Kedonganan di distrik Badung pada 3 Januari. Foto: Komando Distrik Militer Udayana. |
Menurut para ahli lingkungan, "krisis sampah" di Bali berasal dari berbagai penyebab. Pemerintah Bali merupakan pelopor di tingkat nasional ketika melarang penggunaan plastik sekali pakai pada tahun 2018.
Tahun lalu, pulau tersebut melanjutkan larangan produksi, distribusi, dan penjualan botol air plastik di bawah satu liter, sebagai bagian dari tujuannya untuk menjadi "pulau tanpa sampah" pada tahun 2027. Penduduk, instansi pemerintah, bisnis, dan lembaga keagamaan juga diwajibkan untuk memilah sampah di sumbernya.
Namun, menurut Profesor Ni Luh Kartini dari Universitas Udayana, peraturan ini belum diterapkan secara efektif. Beberapa bisnis yang memproduksi minuman dalam jumlah kecil telah diberikan perpanjangan waktu untuk menjual persediaan mereka, sehingga larangan tersebut tidak dapat diterapkan segera.
Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa Bali menghasilkan sekitar 3.436 ton sampah per hari, dengan sampah organik menyumbang sekitar 65%. Menurut Ibu Ni Luh, jika sampah organik diolah di sumbernya dan diubah menjadi pupuk, jumlah sampah yang tersisa yang membutuhkan penimbunan atau pembuangan lainnya akan berkurang secara signifikan.
Namun, tempat pembuangan sampah Suwung, yang menerima sampah dari daerah padat penduduk seperti Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, kini mengalami kelebihan beban yang parah dengan tumpukan sampah mencapai ketinggian hingga 42 meter.
![]() |
Para wisatawan menunggang kuda melewati pantai yang dipenuhi sampah di Bali pada Januari 2019. Foto: Nyimas Laula/National Geographic . |
Agus Norman Saksono, pendiri organisasi nirlaba Bersih-Bersih Bali, mengatakan bahwa banyak rumah tangga telah memilah sampah mereka, tetapi sampah tersebut kemudian tercampur kembali selama proses pengumpulan.
Menurutnya, ini adalah kesalahan sistemik, yang berakar dari kesalahpahaman bahwa tempat pembuangan sampah hanyalah lokasi "pembuangan akhir" dan bukan fasilitas "pembuangan terpadu". Ia mengusulkan pengumpulan sampah harian terpisah untuk sampah organik dan anorganik guna menumbuhkan kebiasaan jangka panjang di masyarakat.
Pak Agus juga berpendapat bahwa peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada memburuknya krisis sampah, karena "semakin banyak destinasi wisata, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan."
Tahun lalu, Bali menyambut 6,9 juta wisatawan internasional, meningkat 9% dibandingkan tahun 2024. Pada tahun 2025, pemerintah Bali juga menerapkan langkah-langkah yang lebih ketat untuk mengatasi perilaku tidak pantas wisatawan internasional dan meningkatnya jumlah pelanggaran visa.
Sumber: https://znews.vn/bali-qua-ban-post1626311.html









Komentar (0)