Puisi-puisinya sangat sarat dengan kecintaan pada tanah kelahirannya. Tanah kelahiran dalam puisi Phùng Trung Tập dipenuhi dengan kenangan dan ingatan masa kecil. Tumbuh besar di pedesaan, penyair ini terhubung erat dengan Sungai Kinh Thầy yang puitis: "Tanah kelahiranku berada di lembah Sungai Kinh Thầy / Penuh hujan, penuh sinar matahari / Sinar matahari berbau pegunungan berbatu / Hujan berbau tanah aluvial ."
Gambaran puitis dipilih dan dipadatkan dengan cermat, menciptakan kembali pedesaan yang damai dengan alam yang harmonis, sungai, tanah, hujan, dan sinar matahari. Tanah air ini makmur sekaligus keras, dirasakan melalui berbagai indra. Seperti burung dengan sayap yang telah tumbuh sempurna, seseorang pergi jauh, tetapi hatinya selalu mengingat: "Gerbang desa telah ada sejak zaman dahulu kala / Labu panjang, labu bulat, lapuk oleh matahari dan hujan / Sumber bangsa Vietnam / Roh suci pegunungan dan sungai, cinta dan kesetiaan desa." Di sana, "gerbang desa" adalah struktur arsitektur budaya kuno, saksi pasang surut desa, sementara gambaran labu dan waluh membangkitkan kehidupan komunitas yang erat, ikatan keluarga, dan garis keturunan. Di sisi lain: "Tanah airku memiliki rumah komunal dan kuil / Rumah komunal desa telah ada selama ratusan tahun, mengalami suka dan duka seperti kehidupan itu sendiri... / Berkah leluhur kita masih terasa hingga hari ini, " mengingatkan diri sendiri dan generasi sekarang untuk melestarikan dan mempromosikan tradisi tanah air.

Hati yang penuh cinta dan rasa syukur kepada ibu. Ibu adalah orang yang melahirkan kita, memelihara kita dengan susu manis dan harum dari kentang dan beras, membesarkan kita hari demi hari. Melalui lagu pengantar tidur dan dongeng yang lembut, ia secara bertahap mengajari kita untuk memahami. Sambil bekerja di ladang untuk mencari nafkah, ia juga merawat anak-anaknya, menyediakan makanan dan memastikan mereka tidur nyenyak. Dalam puisi epik Phung Trung Tap, terdapat banyak bait tentang ibu, semuanya memiliki tema yang sama yaitu cinta dan rasa syukur yang tak terbatas. Misalnya, puisi "Tangan Ibu": "Memegang tangan Ibu, mendengarkan kata-katanya / Sepanjang hidupku aku merindukan nasihat Ibu / Tangan Ibu hangat dan lembut / Mengangkatku melewati suka duka kehidupan…" Di sini, tangan Ibu membangkitkan perlindungan, kenyamanan, dan cinta; tempat di mana anak menemukan kedamaian. Ajaran Ibu adalah sumber kehidupan dan semangat yang berharga yang tetap bersama anak sepanjang hidup mereka, memberi mereka kekuatan untuk mengatasi semua kesulitan.
Kerja keras sang ibu, yang bersusah payah dari subuh hingga senja, sangat menyentuh hati penyair : "Mengenang tahun-tahun yang lalu / Ibu - seperti bangau yang mengarungi ladang jauh dan dekat / Mengenakan pakaian tambal sulam / Tanpa alas kaki di ladang berlumpur, tangan kapalan karena lumpur / Menghitung dan mengukur setiap butir, matang dan mentah / Dengan hati-hati menyimpan setiap makanan untuk kehangatan anak-anaknya." Bait ini dengan jelas menggambarkan citra seorang ibu pekerja keras, yang kaya akan pengorbanan diri. "Ibu - seperti bangau" adalah metafora yang menunjukkan kehidupan berat sang ibu, yang bersusah payah untuk anak-anak dan keluarganya. Detail "pakaian tambal sulam," "tanpa alas kaki di ladang berlumpur," dan "tangan kapalan karena lumpur" dengan jelas menggambarkan kesulitan dan penderitaan sang ibu. Tidak hanya itu, ia juga "dengan hati-hati menyimpan setiap makanan" untuk menyediakan kebutuhan anak-anaknya. Terlepas dari "matahari dan hujan" dan memudarnya masa muda, ia tetap mampu, merawat keluarga menggantikan suaminya.
Puisi epik "Tanah Air" memuat banyak lagu tentang ibu, seperti "Topi Ibu," "Butir Beras Ibu," "Nampan Sirih Ibu," "Ibu Menanam Padi," "Mendengarkan Cerita Ibu," dan lain-lain. Dalam setiap bagiannya, penyair menemukan keindahan yang berbeda pada sosok ibu, semuanya membawa perasaan hangat dan damai karena kehadiran ibu. Dapat dikatakan bahwa puisi epik ini tidak hanya membawa makna pribadi tetapi juga merupakan simbol indah negara dan perempuan Vietnam.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/ban-giao-huong-thi-ca-dat-dao-tinh-me-tinh-que-238260413190328663.htm








Komentar (0)