Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan gambaran ibu saya yang dengan teliti menyiapkan persembahan untuk dibawa ke kuil pada hari ke-15 bulan ketujuh kalender lunar, betapapun sibuknya beliau, untuk berdoa memohon kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh keluarga. Setelah upacara, beliau dengan lembut menyematkan mawar merah muda pucat ke gaunnya, lalu dengan perlahan membungkuk untuk menyematkan mawar merah cerah ke gaun saya. Pada saat itu, saya merasakan kehangatan tangan ibu saya, dan kebahagiaan yang manis meluap di hati saya, perasaan yang tidak sepenuhnya saya pahami ketika saya masih kecil.
Saat melihat sekeliling halaman kuil, saya memperhatikan beberapa orang mengenakan mawar putih, wajah mereka tampak sedih. Karena penasaran seperti anak kecil, saya mendongak dan bertanya kepada ibu saya mengapa ada perbedaan seperti itu. Ibu saya tersenyum lembut, menepuk kepala saya dengan pelan, dan berkata pelan, “Mawar melambangkan rasa syukur, bakti kepada orang tua, dan penghargaan anak-anak kepada orang tua mereka. Mawar merah untuk mereka yang masih memiliki kedua orang tua, mawar merah muda untuk mereka yang hanya memiliki satu orang tua, dan mawar putih untuk mereka yang telah kehilangan kedua orang tua…”
Mendengarkan penjelasan ibuku, aku melihat sekeliling dengan kebingungan, pandanganku tertuju pada mereka yang diam-diam menyematkan bunga putih di dada mereka. Wajah mereka muram, mata mereka dipenuhi rasa kehilangan yang tak terungkapkan. Aku masih muda, belum sepenuhnya memahami rasa sakit itu, tetapi hatiku terasa sakit, seolah-olah kekosongan tak terlihat telah terbuka di hadapanku. Sebuah pikiran sekilas membuatku merinding: Suatu hari nanti, orang tuaku tidak akan lagi bersamaku, dan aku pun harus menyematkan bunga putih itu di dadaku. Dalam imajinasiku yang naif, aku membayangkan diriku duduk diam di sudut kuil, menangis karena kehilangan yang tak tergantikan. Pikiran itu mencekik hatiku, memenuhi diriku dengan kecemasan dan ketakutan, takut bahwa aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan semua cintaku, untuk membalas kebaikan tak terukur yang telah ditunjukkan orang tuaku kepadaku.
Sebagai seorang anak, saya hidup di bawah perlindungan orang tua saya tanpa pernah menghargainya. Saat itu, saya dengan naif berpikir bahwa semua yang mereka lakukan untuk saya adalah hal yang biasa, kewajiban mereka sebagai orang tua, melupakan bahwa di balik semua itu ada dunia cinta dan pengorbanan yang sunyi. Saya ingat saat-saat ketika saya keras kepala dan nakal, ibu saya hanya akan tersenyum lembut, kadang-kadang menegur saya dengan tegas, atau menghibur saya dengan lembut. Tetapi di balik senyuman itu ada air mata kesedihan, malam-malam yang tak terhitung jumlahnya penuh kekhawatiran dalam diam untuk anaknya yang menolak untuk tumbuh dewasa.
Sekarang setelah aku dewasa dan memiliki keluarga sendiri, setiap kali festival Vu Lan tiba, kenangan dari tahun-tahun lalu kembali membanjiri pikiranku. Gambaran ibuku yang dengan lembut menyematkan mawar merah cerah di gaunku masih terbayang jelas, tetapi pada saat yang sama, tatapan sedih mereka yang membawa bunga putih tahun itu tidak pernah pudar dari ingatanku. Inilah yang membuatku lebih menyadari kerapuhan hidup dan memahami bahwa orang tua tidak dapat bersama kita selamanya.
Di tengah kesibukan hidup, terkadang tanpa sengaja saya lupa bahwa orang tua saya semakin tua setiap hari, dan yang mereka butuhkan bukanlah sesuatu yang mewah, melainkan hanya perhatian sederhana dan kehadiran hangat anak-anak mereka. Setiap musim Vu Lan, saat menengok ke belakang, saya mengingatkan diri sendiri untuk menghargai setiap momen yang saya miliki bersama orang tua saya, sehingga nanti, ketika saya harus mengenakan bunga putih di dada saya, saya tidak akan menyesali hal-hal yang tidak sempat saya lakukan atau katakan.
Dan mungkin, itulah makna terbesar dari musim Vu Lan – bukan hanya waktu untuk mengingat rasa syukur kepada orang tua, tetapi juga pengingat bagi setiap anak untuk pulang, untuk melambat, dan untuk lebih mencintai selagi orang tua mereka masih ada. Saya mengerti bahwa mawar merah di dada saya hari ini bukan hanya sumber kebahagiaan, tetapi juga tanggung jawab, janji pribadi untuk memberikan rasa hormat dan cinta yang sebesar-besarnya kepada orang tua saya. Karena suatu hari nanti, ketika mawar merah itu layu, ketika saya terpaksa mengenakan bunga putih di dada saya, cinta dan bakti kepada orang tua itu akan tetap ada, bersinar terang di hati saya, seperti aliran tak berujung yang tak dapat dipisahkan oleh apa pun.
Ha Linh
Sumber: https://baodongnai.com.vn/van-hoa/202508/bang-khuang-mua-vu-lan-e8c0845/







Komentar (0)