Pohon crape myrtle di bulan Juni
BPO - Juni telah tiba.
Warna ungu, seperti bunga crape myrtle.
Bulan Juni selalu membangkitkan emosi pada para jurnalis. Namun, Juni kali ini, hati saya dipenuhi dengan perasaan campur aduk dan serangkaian perubahan yang luar biasa…
Sambil membolak-balik kenangan lama, saya membuka gulungan yang menguning itu, yang masih memuat goresan pensil saya yang tebal dan pudar dari lukisan asli pohon crape myrtle kuno yang bertengger dengan tidak stabil di lereng bukit.
Batang pohon tua itu telah menjadi bagian dari kenangan saya selama bertahun-tahun.
***
Bà Rá, sebuah bukit tenang yang terletak di tengah pancaran sinar matahari yang lembut, dulunya merupakan jantung siaran radio dan televisi, tempat kenangan terjalin dengan tenang membentuk ingatan yang tak terlupakan. Di sana, sebuah pohon crape myrtle kuno berdiri diam, menjadi saksi pergantian musim hujan dan angin yang tak terhitung jumlahnya.
Di hari-hari pertama menginjakkan kaki di bukit ini, saya terus memandangi pohon crape myrtle, dan hati saya dipenuhi rasa bangga. Batangnya yang kokoh menjulang di tengah kerasnya alam dengan ketahanan yang tak tergoyahkan, seperti kami – para " penjaga ombak" – teguh dan diam.
***
Sketsa oleh: Sy Hoa
Juni
Musim bunga crape myrtle.
Gugusan bunga ungu yang bergoyang lembut di bawah sinar matahari membangkitkan mimpi polos seorang sarjana miskin yang diam-diam jatuh cinta pada Putri Bang Lang, yang turun ke bumi dalam dongeng dari masa lalu.
Lalu musim berlalu, bunga-bunga berguguran, kelopak ungu mereka bergoyang lembut tertiup angin, seperti momen-momen yang dijalani sepenuhnya yang kini telah berlalu, meninggalkan gema yang tersisa dari masa yang gemilang.
Waktu terus berlalu.
Kita berubah, sama seperti pohon crape myrtle itu.
Ada kalanya cuaca badai di puncak Gunung Ba Ra melenyapkan semua suara lain, hanya menyisakan gemuruh guntur di tengah pegunungan dan hutan yang suram, seperti tantangan sebuah profesi yang dulu membuat kita merasa tidak yakin…
Waktu terus berlalu.
Lambat laun aku terbiasa dengan alam pegunungan dan hutan; akrab dengan kokokan ayam jantan liar di pagi hari dan suara-suara hewan serta tumbuhan di malam hari; menunggu angin, bermain dengan awan; menyambut matahari siang dan menunggu bulan bersinar di langit.
Saya terbiasa mendaki, membawa " gambar" dan " suara" melintasi setiap batu dan jalan yang menuju ke " gerbang menuju surga" dalam perjalanan saya untuk menjaga gelombang dan menghubungkan suara ke seluruh penjuru dunia.
Waktu terus berlalu.
Aku dan pohon crape myrtle itu akan selalu bersama. Warna pohon itu memberitahuku warna kehidupan dan waktu. Embun menguap lalu mengendap, angin berhenti lalu berhembus lagi, siang dan malam terus berganti.
Waktu terus berlalu.
Pohon crape myrtle juga telah terbiasa dengan hujan, angin, guntur, dan kilat, sama seperti kita telah belajar untuk berdiri teguh, menerima perubahan, dan dengan tenang melanjutkan perjalanan kita.
…Dan mungkin, di saat hening ini, kita telah meninggalkan jejak kecil dan kuno di lereng bukit yang penuh dengan nuansa ungu. Meninggalkan gunung itu, sebuah nada rendah dalam banyak lapisan simfoni kenangan.
***
Masa lalu…
Antena-antena yang tersebar secara acak di atap-atap bangunan itu menyerupai lengan yang terentang, mencari secercah warna dan kegembiraan kehidupan di udara.
Gambar dan suara dari televisi dan radio lama kini sunyi dan tak terdengar. Mereka membiarkan kenangan masa lalu membangkitkan nyanyian agung, lagu-lagu rakyat, dan melodi tradisional yang pernah dinantikan dengan penuh harap oleh generasi-generasi sebelumnya.
Masa lalu…
Kini, hanya jejak waktu yang samar, tegas, dan halus yang tersisa dalam lukisan pohon crape myrtle yang saya lukis bertahun-tahun lalu.
***
Bulan Juni telah tiba.
Pohon crape myrtle tua di lereng bukit itu, seiring waktu, menjadi tua dan cabang serta daunnya berguguran. Bunga-bunga ungu itu perlahan memudar, seperti kesedihan sang putri yang mengenang cendekiawan miskin di masa lalu. Apakah itu suara seseorang atau gemerisik hutan yang menggemakan kesedihan dan kehilangan itu…
Mungkin tidak!
Jauh di lubuk hati, itu hanyalah jeda, momen hening untuk transformasi.
Akar pohon crape myrtle telah menancap kuat di lereng bukit, menumbuhkan warna hijau baru. Di tempat cabang-cabangnya kering dan patah, tunas baru yang lembut tetap muncul, sebuah simbol kelahiran kembali.
Kenangan lama tidak memudar; mereka dengan tenang berbaur ke dalam ritme baru. Sama seperti kehidupan sebuah pohon: dari biji kecil, ia tumbuh, berbunga, dan berbuah, mengikuti jalur evolusi kehidupan.
Lalu tibalah hari ketika daun-daun layu, ranting-ranting mengering, bunga-bunga memudar, dan pohon itu seolah tunduk pada hukum alam, pada ketidakabadian hidup!
Sungguh menyedihkan, pohon crape myrtle kuno itu tak pernah berusaha bertahan hingga musim semi tiba, tak pernah melawan perubahan angin dan hujan. Pohon crape myrtle itu hidup sepenuhnya di setiap momen, mengumpulkan bunga-bunga yang tak terhitung jumlahnya dan semarak sepanjang hidupnya.
***
Bulan Juni telah tiba…
Aku ingat bunga-bunga ungu yang pernah memenuhi perbukitan dengan langit yang penuh kerinduan.
Ada saat-saat hening dan tenang di waktu-waktu tertentu. Tapi itu tidak hilang; seolah-olah perlahan-lahan berubah menjadi bentuk baru.
Dan…
Aku masih berharap suatu hari nanti, bukit tua itu akan kembali dipenuhi bunga ungu…
Pohon crape myrtle di bulan Juni!
Binh Phuoc , Juni 2025
Sumber: https://baobinhphuoc.com.vn/news/9/174161/bang-lang-thang-6






Komentar (0)