
Foto: Rumah Sakit Umum Duc Giang
Rumah Sakit Umum Duc Giang ( Hanoi ) menerima pasien BVT (18 tahun, dari provinsi Lao Cai) dalam keadaan gelisah, kulit dan selaput lendir pucat, denyut nadi cepat, tekanan darah rendah, dan gagal napas.
Hasil USG dan CT scan menunjukkan hemotoraks dan pneumotoraks bilateral, dengan dugaan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah utama. Menyadari ini sebagai kasus kritis yang mengancam jiwa secara langsung, rumah sakit segera mengaktifkan protokol siaga merah di seluruh rumah sakit.
Perlu dicatat, pasien tersebut dirawat tanpa didampingi anggota keluarga. Dengan memprioritaskan penyelamatan nyawa pasien, tim medis segera menerapkan prosedur darurat dan memindahkan pasien langsung ke ruang operasi.
Selama operasi, dokter mencatat adanya luka tembus di dada yang merobek parenkim lobus atas paru-paru kiri, merusak perikardium, dan merusak miokardium di ventrikel kiri, menyebabkan hemoperikardium parah.
Tim bedah toraks menjahit luka jantung, menangani cedera paru-paru, dan memasang drainase pleura. Secara bersamaan, tim anestesi dan resusitasi memantau hemodinamika dengan cermat menggunakan teknik canggih untuk memastikan keselamatan pasien selama operasi.
Setelah operasi, pasien dirawat dengan metode manajemen nyeri modern, termasuk blok saraf interkostal yang dipandu USG yang dikombinasikan dengan sistem analgesik yang dikendalikan sendiri. Hal ini secara efektif mengurangi rasa sakit, meminimalkan komplikasi pernapasan, dan memungkinkan pemulihan yang lebih cepat.
Hanya empat jam setelah operasi, selang endotrakeal pasien dilepas dan ia bernapas dengan stabil sendiri.
Menurut para dokter, keberhasilan kasus darurat tersebut merupakan hasil dari koordinasi yang mendesak dan tepat antara berbagai spesialisasi, serta efektivitas protokol siaga merah dalam menangani kasus trauma kritis.
Sumber: https://vtv.vn/bao-dong-do-cuu-nam-thanh-nien-bi-dam-thau-tim-100260530151012993.htm








Komentar (0)