Menurut Letnan Kolonel Dr. Trieu Manh Tung - Wakil Direktur Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi (A05), Kementerian Keamanan Publik , ekonomi digital Vietnam mencatat tingkat pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, mencapai sekitar 20% per tahun. Setiap hari, sekitar 30 juta transaksi keuangan dengan total nilai hingga 900.000 miliar VND dilakukan, sebagian besar melalui perangkat seluler. Namun, seiring dengan perkembangan pesat ini, muncul pula peningkatan risiko penipuan daring, yang menyebabkan kerugian ribuan miliar VND setiap tahunnya.
Letnan Kolonel, Dr. Trieu Manh Tung - Wakil Direktur Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi (A05), Kementerian Keamanan Publik, mempresentasikan makalah di Forum Kepercayaan Digital dalam Keuangan.Patut dicatat bahwa metode para penjahat siber berubah dengan cepat. Jika di masa lalu serangan terutama menargetkan kerentanan teknis dalam sistem, sekarang target utamanya adalah manusia.
Dengan bantuan AI, pelaku dapat membuat video deepfake, memalsukan suara, dan menyebarkan malware, sehingga membangun "fasad kepercayaan" dengan skenario penipuan yang sangat kredibel untuk memanipulasi psikologi korban. Taktik ini sering menargetkan kepanikan, urgensi, atau harapan keuntungan untuk memengaruhi perilaku pengguna.
Tren ini menjadikan pengguna sebagai mata rantai yang paling rentan dalam ekosistem keuangan digital, bahkan ketika platform teknologi terus ditingkatkan dengan keamanan yang lebih baik.
Menurut para ahli, keamanan keuangan digital bukan lagi hanya masalah bagi bank atau infrastruktur teknologi. Risiko telah menyebar ke e-commerce, investasi online, dompet elektronik, dan banyak platform investasi digital lainnya.
Vietnam telah menerapkan berbagai solusi seperti memperbaiki kerangka hukum, memperkuat penanganan kasus penipuan, dan mempromosikan perlindungan data pribadi. Namun, masih banyak tantangan yang tersisa, seperti data yang tersebar, kurangnya mekanisme konektivitas antar sektor, dan laju pengembangan kebijakan yang belum sejalan dengan kemajuan teknologi.
Masalah lainnya adalah kejahatan siber semakin bersifat transnasional, sehingga investigasi dan respons terkoordinasi menjadi lebih sulit.
Dalam konteks ini, banyak ahli percaya bahwa Vietnam perlu mengubah pola pikir defensifnya di era AI. Alih-alih hanya berfokus pada perlindungan sistem teknis, fokus harus bergeser ke perlindungan pengguna dan mengidentifikasi tanda-tanda manipulasi perilaku.
Model keamanan keuangan digital berbasis AI generasi berikutnya melampaui sekadar memverifikasi akun atau memeriksa perangkat; model ini membutuhkan analisis perilaku transaksi, identifikasi konteks yang tidak biasa, dan deteksi risiko penipuan sejak dini.
Untuk mencapai hal ini, sistem perlindungan perlu dibangun dalam beberapa lapisan, termasuk meningkatkan kesadaran pengguna, peringatan penipuan secara real-time, aplikasi AI untuk mendeteksi anomali, dan memperkuat mekanisme koordinasi multi-pemangku kepentingan untuk merespons dengan cepat transaksi yang mencurigakan.
Para ahli juga mengusulkan pembangunan jaringan verifikasi informasi nasional di mana data keamanan keuangan dibagikan di antara para pemangku kepentingan. Dalam model ini, warga negara tidak hanya dilindungi tetapi juga berpartisipasi langsung dalam mendeteksi, melaporkan, dan memperingatkan risiko.
Masa depan keamanan finansial digital tidak akan bergantung semata-mata pada teknologi, melainkan pada kemampuan untuk membangun kepercayaan dan menghubungkan komunitas dalam lingkungan digital.
Sumber: https://doanhnghiepvn.vn/cong-nghe/bao-ve-an-ninh-tai-chinh-so-thoi-ai/20260513034035192








Komentar (0)