Namun, dari kebijakan hingga praktik, perjalanan mengintegrasikan "identitas ASEAN" secara mendalam ke dalam kehidupan masyarakat, terutama di daerah pegunungan, masih menghadapi banyak kesenjangan.
Di komune Cat Thinh, ketika ditanya tentang ASEAN, banyak warga tampak bingung.
Bapak Vu A Cho dari desa Khe Ken dengan jujur berbagi: "Meskipun saya telah terpapar ASEAN melalui media massa, jujur saja saya tidak memahaminya dengan baik dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan saya."
Jawaban ini sebagian mencerminkan realitas umum: ASEAN tetap merupakan konsep "makro", yang belum diwujudkan menjadi manfaat nyata dan praktis bagi masyarakat.
Pada kenyataannya, meskipun upaya propaganda telah dilaksanakan melalui berbagai saluran seperti konferensi, kursus pelatihan, dan sistem radio lokal, kontennya masih sangat teoritis dan kurang menarik secara visual serta dinamis. Target audiens utama masih pejabat dan pegawai negeri sipil, sementara masyarakat umum, yang merupakan pemangku kepentingan utama dalam proses integrasi, belum sepenuhnya terjangkau.
Sebagian besar komune telah melaksanakan kampanye propaganda yang direncanakan, tetapi materi yang digunakan sebagian besar berupa dokumen tertulis dengan isi yang agak membosankan, sehingga sulit untuk disampaikan kepada masyarakat, terutama kelompok minoritas etnis.

Menurut rencana provinsi, peningkatan kesadaran tentang ASEAN tidak hanya terbatas pada propaganda, tetapi juga harus dikaitkan dengan bidang-bidang praktis seperti pendidikan , kesehatan, lapangan kerja, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Namun, implementasinya di banyak tempat masih sangat birokratis dan kurang inovatif dalam pendekatannya.
Terlihat jelas bahwa kegiatan propaganda terkait ASEAN masih sebagian besar mengikuti model "dari atas ke bawah", seperti menyelenggarakan konferensi, menyebarluaskan dokumen, dan memasang spanduk serta slogan. Sementara itu, yang dibutuhkan adalah menciptakan interaksi, merangsang minat, dan mendorong partisipasi aktif dari masyarakat.
Dari perspektif pendidikan, meskipun ada rencana untuk mengintegrasikan konten ASEAN ke dalam kurikulum, implementasinya masih terfragmentasi. Banyak siswa hanya mengetahui tentang ASEAN melalui beberapa pelajaran umum, kurang memiliki pengalaman praktis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya integrasi regional.
Ibu Tran Thi Phuong, seorang guru di SMA Cam An di komune Bao Ai, mengatakan: "Pengajaran hanya berdasarkan buku teks menyulitkan untuk menumbuhkan minat siswa. Mereka perlu berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, pertukaran budaya, dan model pengalaman praktis untuk lebih memahami ASEAN."
Poin utama dari rencana tersebut adalah membangun komunitas yang "berpusat pada manusia dan berorientasi pada manusia." Namun, pada kenyataannya, di banyak daerah, masyarakat masih terpinggirkan dari proses implementasi.

Alasannya adalah metode penyebaran informasi tentang ASEAN belum mengaitkan konten dengan kebutuhan dan kepentingan spesifik masyarakat. Ketika masyarakat tidak melihat apa yang ASEAN berikan bagi mata pencaharian, pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan budaya mereka, sangat sulit bagi mereka untuk secara proaktif menunjukkan minat dan berpartisipasi.
Sebagai contoh, kebijakan yang mendukung pekerja yang pergi bekerja ke luar negeri, atau program kerja sama pendidikan dan pelatihan di kawasan ASEAN, jika dikomunikasikan secara spesifik dan dikaitkan dengan kisah nyata masyarakat, akan memiliki dampak yang jauh lebih kuat daripada pesan-pesan umum.
Untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan praktik, pendekatan baru jelas diperlukan dalam menyebarluaskan dan mengimplementasikan tujuan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.
Pertama dan terpenting, perlu ada perubahan besar dari propaganda satu arah menuju komunikasi yang beragam dan interaktif. Bentuk-bentuk seperti pertunjukan teater, komunikasi media sosial, video pendek, atau integrasi ke dalam kegiatan dan festival budaya lokal akan membantu membuat konten lebih mudah dipahami dan relevan.

Selain itu, perlu untuk mengkonkretkan ASEAN dengan kisah-kisah "nyata" seperti: pekerja yang memperoleh pendapatan stabil di negara-negara ASEAN; produk pertanian lokal yang diekspor ke pasar regional; atau program pertukaran budaya yang menyediakan kesempatan belajar bagi kaum muda... Contoh-contoh ini akan membantu masyarakat "melihat" ASEAN dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Secara khusus, peran tingkat akar rumput perlu dipromosikan secara kuat. Pejabat komune, desa, dan dusun tidak hanya harus menjadi penyampai informasi tetapi juga "jembatan" untuk membantu menerjemahkan kebijakan integrasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
Membangun Komunitas Sosial Budaya ASEAN bukanlah sekadar tugas lembaga administratif, melainkan sebuah proses yang membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Dalam proses ini, rakyat menjadi pusat sekaligus aktornya.

Ketika masyarakat memahami, mempercayai, dan melihat dengan jelas manfaat integrasi, mereka akan secara proaktif berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan ekonomi, budaya, dan sosial yang terkait dengan ASEAN. Sebaliknya, jika kesadaran tetap berada pada tingkat yang dangkal, maka kebijakan yang paling baik sekalipun akan sulit diterapkan dalam praktik.
Membawa "identitas ASEAN" ke akar rumput, pada akhirnya, bukanlah soal slogan atau target, melainkan soal kepercayaan, pemahaman, dan partisipasi tulus dari masyarakat. Ketika hal itu menjadi kenyataan, integrasi tidak lagi menjadi konsep yang jauh, tetapi akan menjadi bagian alami dari kehidupan masyarakat.
Sumber: https://baolaocai.vn/bat-dau-tu-nhan-thuc-cong-dong-post899750.html






Komentar (0)