Puisi-puisi lirisnya seperti "Ombak," "Perahu dan Laut," dan "Puisi Cinta di Akhir Musim Gugur"... telah teruji oleh waktu, dan memiliki tempat istimewa di hati para pencinta puisi.
"Perahu dan Laut" dan "Puisi Cinta di Akhir Musim Gugur," yang digubah menjadi musik oleh komposer Phan Huynh Dieu dan sukses dibawakan oleh banyak penyanyi, telah menjadi lagu-lagu abadi. Ia dianugerahi Penghargaan Negara untuk Sastra dan Seni secara anumerta pada tahun 2001 dan Penghargaan Ho Chi Minh untuk Sastra dan Seni pada tahun 2017.
Selama hidupnya, selain menulis untuk orang dewasa, ia juga menulis tujuh karya (puisi dan prosa) untuk anak-anak, termasuk "Langit di Dalam Telur," kumpulan puisi terbaiknya, dan salah satu dari dua karya yang menjadi dasar pemberian Penghargaan Sastra dan Seni Ho Chi Minh secara anumerta delapan tahun lalu.
Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa "Langit dalam sebutir telur" adalah metafora yang aneh, mirip dengan ungkapan selanjutnya " Dunia di telapak tanganmu," yang terdengar tidak logis tetapi sangat logis dalam puisi. Ini adalah kisah-kisah, pengakuan yang intim dan sederhana namun mendalam, yang ditulis di atas dasar cinta kepada anak-anak. Dengan kata lain: cinta inilah, kasih sayang seorang ibu, dan pengaruhnya yang menyeluruh yang menciptakan kekuatan tak tergantikan dalam puisi Xuan Quynh.
Pertama-tama, citra dalam puisinya sangat indah, hidup, dan murni: “Musim semi membawa kawanan burung / Seribu suara bernyanyi sejernih air / Rumput, yang tertidur di malam sebelumnya, / Bersinar terang dalam warna hijau” (“Apa yang tersisa untuk musim semi?”), “Suara ayam di siang hari / Membawa begitu banyak kebahagiaan / Di malam hari, aku bermimpi / Tidur semerah telur” (“Suara Ayam di Siang Hari”).
Kemudian, puisinya indah dalam cara berbicara dan berpikir: “Siang hari terbuat dari sinar matahari / Hijau terbuat dari pepohonan / Cabai terbuat dari rasa pedas... / Anak-anak terbuat dari cinta / Dari ayah dan ibu / Dari kakek dan nenek...” (“Penjelasan”). Dalam “Penjelasan,” terdapat empat baris: “Sungai membutuhkan keluasan / Laut telah ada sejak dulu / Ketika anak-anak belajar berjalan / Jalan telah ada sejak dulu,” kaya akan filsafat dan citra, yang mengungkapkan hubungan antara yang agung dan asal-usulnya.
"Sungai perlu mencapai keluasan / Laut telah ada sejak zaman dahulu kala" : Ini menunjukkan bahwa sungai pasti memiliki kerinduan akan keluasan untuk mencapai laut. Ini seperti perjalanan yang tak terhindarkan dari kecil menuju yang sangat besar. Laut telah ada sejak zaman dahulu kala, sebagai tujuan abadi, simbol keutuhan.
"Ketika anak-anak belajar berjalan / Jalan telah ada sejak hari itu" : Sebuah analogi yang sederhana namun mendalam. Jalan tidak hanya ada sebelumnya, tetapi tampaknya lahir dari langkah pertama umat manusia. Perjalanan individu menciptakan jalan yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Puisi ini berbicara tentang permulaan dan pertumbuhan segala sesuatu dan manusia, menggunakan gambaran sederhana yang berakar kuat dalam filsafat manusia.
Dua baris, "Kebaikan yang diberikan / Menjadi lebih baik lagi" ("Kebaikan Mí"), membangkitkan filosofi mendalam tentang tanpa pamrih dan nilai kebaikan. Kebaikan itu sendiri adalah kualitas yang berharga, tetapi ketika "diberikan"—yaitu, dibagikan dan ditawarkan kepada orang lain—nilainya meningkat, berlipat ganda, dan menjadi "lebih baik lagi." Puisi ini berfungsi sebagai pesan bahwa kebaikan dan kasih sayang hanya benar-benar lengkap ketika diberikan, dan moralitas terletak bukan pada menyembunyikan sesuatu, tetapi pada tindakan berbagi.
Puisi "Aku Mencintai Ibuku" menunjukkan bahwa Xuan Quynh sangat memahami psikologi dan perilaku anak-anak. Setelah membandingkan cinta kepada ibu dengan langit, Hanoi , sekolah, dan menyadari bahwa hal-hal ini terlalu luas dan agak jauh, anak itu tiba-tiba mengungkapkan perasaan menyenangkan yang unik bagi masa kanak-kanak. Puisi ini menemukan hal yang tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari ketika anak itu dengan polos berkata: "Ah, Ibu, ada jangkrik / Selalu di kotak korek apiku / Buka dan aku akan langsung melihatnya / Aku mencintaimu sama seperti aku mencintai jangkrik."
Ini juga merupakan akhir yang tak terduga dari "Aku Mencintaimu, Ibu".
Puisi Xuan Quynh tidak meniru atau menjiplak anak-anak. Dalam puisinya, ia sering "mentransformasikan dirinya," berbicara dalam bahasa anak-anak, menemani mereka dengan cara yang paling tulus dan jujur. Itulah mengapa puisinya memiliki dampak yang begitu kuat pada anak-anak.
Sumber: https://hanoimoi.vn/bau-troi-trong-qua-trung-704115.html






Komentar (0)