Banyak keluarga, terutama di daerah pedesaan, masih menganut gagasan tradisional bahwa "laki-laki membangun rumah, perempuan membangun rumah tangga," yang berarti laki-laki membuat keputusan utama sementara perempuan terbatas pada memasak dan mengasuh anak. Jika pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak secara implisit dianggap sebagai "peran alami" perempuan semata, hal itu secara tidak sengaja menempatkan beban ganda pada mereka: bekerja untuk mendapatkan penghasilan sambil secara bersamaan mengelola semua pekerjaan rumah tangga. Seiring waktu, ini dapat dengan mudah menyebabkan kelelahan dan rasa kesal pada perempuan, yang mengakibatkan konflik. Sebaliknya, ketika suami secara aktif berbagi pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab pengasuhan anak, suasana keluarga menjadi jauh lebih santai. Anak-anak juga belajar untuk menghormati dan berbagi tanggung jawab antara kedua jenis kelamin.
Kesetaraan gender dalam keluarga bukan berarti membagi segala sesuatu secara mekanis menjadi dua, melainkan tentang kesepakatan, rasa hormat, dan tanggung jawab bersama. Setiap orang memiliki suara dalam keputusan penting seperti keuangan, pendidikan anak, atau merawat kedua orang tua, dan suara mereka harus didengar secara setara.
Keluarga adalah "sekolah" pertama untuk kesetaraan gender. Jika sejak usia muda anak laki-laki diajari memasak dan membersihkan, dan anak perempuan didorong untuk percaya diri, mandiri, dan mengejar impian mereka, maka ketika mereka dewasa, mereka tidak akan dibatasi oleh stereotip lama... Ketika perempuan tidak lagi harus diam-diam menanggung penderitaan, dan ketika laki-laki tidak lagi ditekan untuk menjadi "pencari nafkah" menurut model yang kaku, kebahagiaan keluarga akan lebih berkelanjutan. Pada titik itu, kesetaraan gender tidak lagi menjadi slogan, tetapi akan menjadi cara hidup alami dalam masyarakat.
Le Vy
Sumber: https://baodongnai.com.vn/dong-nai-cuoi-tuan/202603/binh-dang-gioi-bat-dau-tu-gia-dinh-0bc14eb/






Komentar (0)