
Aku hampir bisa membayangkan di depan mataku nasi ketan dengan zaitun, daging babi rebus yang kaya rasa dan gurih dengan zaitun, acar zaitun asin yang membangkitkan cita rasa pedesaan... suguhan yang meninggalkan kesan mendalam di hatiku.
Cita Rasa Masa Kecil
Buah canarium yang matang, berbentuk belah ketupat, memiliki kulit berwarna ungu tua, halus, dan mengkilap, dengan ujung berwarna kuning kunyit yang masih tertutup lapisan tipis bubuk putih. Cara tercepat untuk memasaknya adalah dengan merebusnya sebentar dalam air panas sekitar 70°C hingga lunak dan siap dimakan. Dulu, anak-anak di desa saya dengan penuh antusias menunggu ibu mereka memisahkan daging buahnya, lalu mereka sendiri yang akan membelah bijinya, menggunakan tusuk gigi untuk mengeluarkan inti putih yang lembut, dan menikmatinya seperti makanan lezat.
Dahulu, orang menganggap buah canarium sebagai hadiah sederhana dan bersahaja, tetapi semakin sering Anda mencicipinya, semakin Anda menghargai keunikannya: gurih, kaya rasa, tidak biasa, dan memiliki khasiat mendinginkan dan mendetoksifikasi. Orang mengukus buah canarium dengan nasi ketan, butiran nasi ketan yang montok melapisi buah canarium yang harum dan gurih. Beberapa orang merebus ikan atau daging dengan buah canarium; kekayaan rasa daging berpadu dengan buah canarium yang lembut, membuat nasi putih menjadi sesuatu yang dapat Anda makan tanpa henti tanpa bosan. Buah canarium yang direbus dengan pisang hijau juga terkenal; rasa sepat pisang yang ringan berpadu dengan buah canarium yang kenyal dan gurih, menciptakan hidangan yang tak terlupakan. Tetapi penduduk Huong Son (provinsi Ha Tinh ) sangat bangga dengan buah canarium asin mereka, hadiah sederhana namun berkelas yang patut dihargai.
Metode pengawetan zaitun di Huong Son rumit sekaligus sederhana. Zaitun yang dipilih harus matang, dengan daging yang tebal, biasanya varietas yang ketan. Setelah dicuci, zaitun direndam dalam air hangat untuk melunakkannya, kemudian ditiriskan, kadang-kadang diiris tipis agar garam dapat meresap secara merata. Zaitun disusun dalam guci tanah liat, dilapisi dengan garam kasar, menggunakan perbandingan umum 1 kilogram zaitun dengan 250 gram garam. Guci ditutup rapat dan dibiarkan berfermentasi di tempat yang sejuk dan berventilasi selama 5-7 hari.
Saat buah berubah warna menjadi ungu tua, daging buah mengeras, dan gigitan pertama mengungkapkan rasa yang kaya dan lembut dengan sedikit rasa asin di lidah, berarti buah sudah siap. Buah canarium asin dapat langsung dimakan dengan nasi putih, dicelupkan ke dalam pasta udang, atau digunakan dalam hidangan ikan atau daging rebus; setiap hidangan menghadirkan aroma khas pedesaan. Semakin lama buah canarium asin dibiarkan berfermentasi, daging buah menjadi lembut dan kenyal, dengan rasa asam dan asin, sedikit rasa pedas dari cabai, dan rasa yang kaya dan lembut jika dicicipi dengan saksama.
Pohon "tabungan"
Namun, buah canarium lebih dari sekadar rasa. Buah ini juga merupakan "harta karun" bagi masyarakat pedesaan. Pohon canarium biasanya membutuhkan waktu 7 hingga 10 tahun untuk berbuah, dan semakin tua pohonnya, semakin melimpah buahnya dan semakin kaya rasanya. Selama beberapa generasi, masyarakat Huong Son telah terhubung erat dengan pohon canarium seolah-olah itu adalah mata pencaharian mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan telah berinvestasi besar-besaran dalam pengolahan zaitun asin menggunakan prosedur yang aman, mengemasnya dengan vakum dalam stoples, dan memberi label dengan informasi ketelusuran. Akibatnya, zaitun asin Huong Son telah menjadi produk OCOP bintang 3, merek yang dilindungi secara nasional. Zaitun lokal ini tidak lagi terbatas pada dapur-dapur kecil tetapi telah memasuki pasar, muncul di rak-rak toko khusus regional.
Zaitun hitam Huong Son memikat para penikmat dengan cita rasa alaminya, dan terlebih lagi, dengan kedalaman budaya dan sejarah wilayah tersebut. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, rasa zaitun yang kaya dan gurih tetap terhubung dengan kenangan dan identitas, membangkitkan rasa nostalgia bagi mereka yang jauh dari rumah.
Sumber: https://baodanang.vn/bui-thom-qua-tram-3328086.html






Komentar (0)