Di tengah meningkatnya kekerasan di sekolah, PBS melaporkan pada bulan Mei bahwa pihak berwenang di beberapa negara bagian AS sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali kebijakan "toleransi nol", yang berarti skorsing dan pengusiran. Beberapa serikat guru mendukung tindakan tegas. Yang lain berpendapat bahwa skorsing dan pengusiran seharusnya hanya menjadi upaya terakhir untuk pelanggaran yang sangat serius, seperti perilaku kekerasan yang mengancam nyawa siswa.
Namun, menurut survei tahun 2021 oleh RAND Foundation, hanya 12% dari 1.080 kepala sekolah negeri di seluruh AS yang percaya bahwa skorsing dan pengusiran membantu siswa merenungkan atau belajar dari perilaku buruk mereka.
Berbagai negara di seluruh dunia menerapkan beragam tindakan disiplin yang positif.
Meskipun sekolah-sekolah di seluruh dunia menerapkan berbagai tindakan disiplin positif, ada beberapa kesamaan dalam penerapannya. Surat kabar Thanh Nien telah mengumpulkan beberapa contoh tindakan disiplin positif:
- Kegiatan pengabdian masyarakat: Sekolah bekerja sama dengan orang tua dan pemerintah daerah untuk mengajak siswa berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat.
- Tugas tambahan: Siswa ditugaskan untuk menulis esai penilaian diri tentang topik-topik seperti pengendalian emosi dan perilaku. Mereka didorong untuk menulis tentang perasaan dan pikiran mereka, bukan dalam bentuk kritik diri yang formal.
- Konseling sebaya: Beberapa siswa dilatih untuk menjadi konselor dan mediator sebaya untuk mendukung siswa yang melanggar peraturan sekolah.
- Pelatihan manajemen emosi: Sekolah menyelenggarakan sesi konseling individual (konseling sebaya atau konseling guru) untuk siswa/kelompok siswa yang berperilaku buruk.
- Formulir Komitmen Perilaku: Siswa menandatangani perjanjian perilaku dengan guru mereka, mencantumkan perilaku yang ingin mereka contoh, seperti menahan diri dari menghina atau mengancam teman sebaya mereka. Siswa dan guru menyepakati bentuk tindakan disiplin.
- Rencana pengembangan diri: Guru membimbing siswa untuk membuat rencana perubahan perilaku setelah melakukan pelanggaran, dengan menguraikan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk membantu mereka mengembangkan diri, seperti membaca lebih banyak buku, berpartisipasi dalam konseling sebaya, dan mencari dukungan dari konselor kesehatan mental.
Tautan sumber






Komentar (0)