Ekuador mengalami kekalahan pahit di pertandingan pembuka Piala Dunia 2026. Mereka tidak dikalahkan atau kewalahan oleh kekuatan lawan, tetapi malah runtuh setelah pertandingan di mana mereka tampaknya telah mengamankan poin.
Tim yang dipimpin oleh pelatih Sebastian Beccacece mengendalikan banyak momen krusial dan menciptakan lebih banyak peluang emas melawan lawan mereka dari Pantai Gading. Masalah Ekuador bukanlah pendekatan mereka terhadap permainan, melainkan momen-momen krusial mereka di depan gawang.

Statistik menunjukkan bahwa Ekuador memiliki tiga tembakan tepat sasaran. Kurangnya penyelesaian akhir yang klinis dan sedikit nasib buruk menyebabkan kekalahan yang disayangkan tersebut.
Gagal mengamankan kemenangan, Ekuador harus membayar mahal di momen yang paling menyakitkan. Pada menit ke-90, Amad Diallo mencetak satu-satunya gol, memberikan Pantai Gading kemenangan 1-0. Sebuah momen di menit-menit akhir, tetapi cukup untuk menghapus semua upaya Ekuador sebelumnya.

Pelatih Sebastian Beccacece tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebutnya sebagai "kekalahan yang tidak adil," karena Ekuador telah bermain dengan baik, menciptakan banyak peluang emas, dan memiliki alasan kuat untuk percaya pada hasil positif.
"Ketika Anda melakukan segala yang Anda bisa untuk menang, dengan atmosfer seperti itu, dan Anda tetap tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, itu sangat menyakitkan," ujar pelatih asal Argentina itu setelah pertandingan.
Rasa sakit itu bukan hanya tentang tiga poin yang hilang. Kekalahan melawan Pantai Gading juga mengakhiri rekor tak terkalahkan Ekuador selama 19 pertandingan, yang berlangsung sejak September 2024. Perjalanan panjang dan melelahkan itu dipersingkat oleh gol di menit-menit terakhir.
Pelatih Beccacece juga mengeluhkan keputusan wasit. Ia berpendapat bahwa bek Pantai Gading, Guela Doue, seharusnya menerima kartu kuning kedua setelah melakukan pelanggaran di babak kedua. Namun, sang pelatih mengakui bahwa itu adalah sesuatu yang di luar kendali Ekuador.
Yang bisa dikendalikan Ekuador adalah bagaimana mereka bereaksi setelah kekalahan tersebut. Mereka masih memiliki dua pertandingan lagi melawan Curaçao dan Jerman. Pintu menuju kualifikasi belum tertutup, tetapi dampak kekalahan di Stadion Philadelphia menjadi pengingat yang jelas bahwa terkadang bermain lebih baik saja tidak cukup.
Ekuador perlu lebih klinis dalam pertandingan mendatang. Karena ketika peluang terlalu sering disia-siakan, semuanya bisa berbalik melawan mereka dalam sekejap.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/cai-ket-nghiet-nga-cua-ecuador-post781657.html






