
Ada kekalahan yang tidak membuat orang menangis, tetapi hanya membuat mereka terdiam, seperti menyaksikan Luka Modrić ambruk setelah peluit akhir berbunyi usai kekalahan 1-2 dari Portugal.
Tataplah mata Luka Modrić; itu bukan mata seorang pemain yang baru saja kalah dalam pertandingan. Itu adalah mata seorang pria yang telah menjalani hampir seluruh karier sepak bolanya.
Sedikit yang ingat bahwa sebelum menjadi legenda, Modrić hanyalah seorang anak gembala kambing kurus selama tahun-tahun perang di bekas Yugoslavia, yang kemudian menjadi Kroasia.
Masa kecilnya hanya dipenuhi dengan suara bom; ada kekosongan dan kehilangan yang terlalu besar untuk ditanggung oleh seorang anak.
Konon, anak-anak yang tumbuh di masa perang akan menua sebelum waktunya. Mungkin itulah sebabnya Modrić tidak pernah bermain sepak bola yang terencana. Ia bermain sebagai seseorang yang memahami bahwa sekadar berada di lapangan adalah sebuah anugerah.
Messi dipuji karena kejeniusannya; Ronaldo dikagumi karena tekadnya. Tetapi Modrić membangkitkan simpati karena ia lebih mirip tetangga yang ramah daripada seorang superstar.
Saya mengaguminya karena, meskipun telah memenangkan begitu banyak penghargaan dan trofi Ballon d'Or, dia tetap berlari seperti anak kecil yang takut tertinggal.
Terima kasih, Luka Modrić, bocah yang dulunya menggembala kambing ini akhirnya membuktikan bahwa terkadang kemenangan terbesar seseorang tidak diukur dari jumlah gol yang dicetak, tetapi dari bagaimana mereka bangkit setelah mengalami kemunduran, menyelesaikan perjalanan mereka, dan tersenyum mengetahui bahwa sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Terima kasih, Modrić, karena telah menunjukkan kepada dunia bahwa bahkan dari nol di tengah reruntuhan, Anda masih bisa mendapatkan rasa hormat dunia melalui kebaikan dan tekad yang tak tergoyahkan. Pagi ini, banyak yang menangis karena senyummu yang tak berdaya!!!
Sumber: https://baolamdong.vn/cam-on-modric-451562.html







