Risiko kontaminasi residu di dalam tanah harus dipantau dan ditangani dengan segera.
Industri durian Vietnam memasuki periode pertumbuhan yang kuat dengan luas lahan sekitar 195.000 hektar, produksi hampir 1,8 juta ton, dan pendapatan ekspor mencapai sekitar US$3,86 miliar pada tahun 2025. Namun, seiring dengan perluasan lahan dan pertanian intensif, tekanan untuk mengendalikan kualitas, terutama terkait residu logam berat, menjadi kebutuhan mendesak.

Tekanan untuk mengendalikan kualitas, terutama terkait residu logam berat, menjadi kebutuhan mendesak bagi industri durian. Foto: Minh Đảm.
Menurut penelitian awal oleh Institut Penelitian Buah Selatan, kadmium (Cd) telah ditemukan di beberapa daerah penghasil durian. Meskipun sebagian besar sampel tanah dan daging buah masih dalam batas aman menurut standar Vietnam, risiko melebihi batas kontrol pasar impor memerlukan pemantauan dan tindakan dini.
Secara khusus, pasar Tiongkok saat ini mengontrol kandungan kadmium dalam daging durian agar tidak melebihi 0,05 mg/kg. Hal ini dianggap sebagai salah satu hambatan teknis utama bagi ekspor durian.
Menurut Institut Penelitian Buah-buahan Selatan, kadmium dalam tanah pertanian dapat berasal dari berbagai sumber seperti pupuk anorganik, terutama pupuk fosfat, perlengkapan pertanian, limbah lingkungan, dan praktik budidaya yang berkepanjangan.
Survei tahun 2025 terhadap 63 sampel tanah kebun durian menunjukkan bahwa sekitar 60% sampel mengandung kadmium melebihi 0,05 mg/kg tanah. Namun, semua sampel masih jauh lebih rendah daripada standar tanah pertanian Vietnam menurut QCVN 03:2023/BNNMT, yaitu 4 mg/kg tanah.
Dari lebih dari 300 sampel daging buah durian yang dianalisis, hanya sekitar 5% yang melebihi batas 0,05 mg/kg yang dipersyaratkan oleh pasar Tiongkok. Hasil ini menunjukkan bahwa risiko tersebut telah muncul tetapi belum meluas.
Di provinsi Dong Thap , lembaga khusus melakukan survei terhadap 115 area penanaman durian yang telah diberi kode untuk menilai risiko residu kadmium dalam tanah. Dari jumlah tersebut, 17 area tidak menunjukkan adanya kadmium yang terdeteksi, 53 area memiliki kadar di bawah 0,1 mg/kg, 31 area memiliki kadar antara 0,1 dan 0,2 mg/kg, 10 area memiliki kadar antara 0,2 dan 0,3 mg/kg, dan 4 area memiliki kadar di atas 0,3 mg/kg. Namun, semua sampel masih menunjukkan kadar yang jauh lebih rendah daripada standar tanah pertanian saat ini.
Menurut tim peneliti, pH tanah memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan tanaman menyerap kadmium. Hasil survei menunjukkan bahwa semakin mendekati netral pH tanah, semakin rendah risiko penyerapan kadmium oleh tanaman. Hal ini dianggap sebagai dasar penting untuk mengembangkan solusi perbaikan tanah dan pengelolaan nutrisi yang tepat untuk daerah penghasil durian.
Menurut Dr. Vo Huu Thoai, Direktur Institut Penelitian Buah Selatan, untuk daerah penanaman durian yang baru dikembangkan, petani perlu bekerja sama dalam produksi sesuai dengan proses budidaya yang terpadu, terverifikasi, dan bersertifikat aman dan efektif. Dr. Thoai juga menyarankan petani untuk proaktif memeriksa kadar kadmium dalam tanah untuk mengambil tindakan dini jika terdeteksi risiko akumulasi kadmium.
Peta bahaya kadmium perlu segera dikembangkan.
Berdasarkan hasil penelitian, Institut Penelitian Buah Selatan telah mengusulkan beberapa solusi biologis dan ramah lingkungan untuk mengurangi penyerapan kadmium di tanah dan buah durian.

Sebuah delegasi dari Departemen Produksi Tanaman dan Perlindungan Tanaman mengunjungi model remediasi kadmium pada pohon durian di provinsi Dong Thap, yang diimplementasikan oleh Institut Penelitian Buah Selatan, pada awal tahun 2026. Foto: Minh Dam.
Solusi yang direkomendasikan meliputi peningkatan pH tanah dengan kapur, peningkatan penggunaan pupuk organik, pembatasan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, terutama pupuk fosfat, pengendalian kualitas input pertanian, dan penggunaan biochar untuk menyerap kadmium dalam tanah.
Selain itu, penerapan preparat mikroba yang mampu memfiksasi kadmium dan memperbaiki ekosistem mikroba tanah juga dianggap sebagai arah yang tepat untuk pengembangan pertanian ekologis dan rendah emisi.
Selain solusi teknis, para ahli merekomendasikan pengembangan dini peta risiko kadmium di wilayah penghasil durian utama, peningkatan pemantauan kandungan logam berat dalam tanah, air irigasi, pupuk, dan produk, serta perbaikan proses budidaya untuk mengurangi penyerapan kadmium melalui metode biologis dan rendah emisi.
Tim peneliti juga menyarankan penanaman tanaman penyerap kadmium seperti kangkung, bayam liar, sawi putih, eceng gondok, atau pakis air untuk mendukung remediasi tanah. Setelah setiap siklus penanaman, biomassa tanaman harus dikumpulkan dan diproses dengan benar untuk membatasi pelepasan kadmium kembali ke lingkungan.
Sumber: https://nongnghiepmoitruong.vn/can-giai-phap-thuan-thien-de-kiem-soat-cadimi-d813592.html










Komentar (0)