Ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat pada awal Juni, seiring dengan serangkaian perkembangan militer dan ekonomi yang terjadi dengan cepat di Timur Tengah.
Menurut kantor berita Iran, Mehr, pada tanggal 3 Juni, beberapa ledakan keras tercatat di daerah Pulau Qeshm, lokasi strategis di Selat Hormuz. Penyebab ledakan tersebut belum ditentukan, tetapi perkembangan ini segera menarik perhatian di tengah potensi ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Pada saat yang sama, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan AS telah menetralisir sebuah kapal tanker minyak berbendera Botswana yang menuju Iran. Menurut CENTCOM, kapal tersebut gagal mematuhi peringatan dan instruksi dari pasukan AS selama pelayarannya, memaksa AS untuk menggunakan rudal Hellfire untuk menyerang ruang mesin kapal tersebut.

Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, pada 1 Juni 2026. (Foto: AP)
Situasi terus memburuk ketika Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya setelah serangan terhadap pangkalan yang menampung pasukan AS. Bahrain juga mengeluarkan peringatan dan memerintahkan evakuasi di beberapa daerah. CENTCOM kemudian menyatakan bahwa serangan Iran tidak mengenai sasaran dan mengumumkan bahwa pasukan AS telah melakukan serangan balasan di Pulau Qeshm.
Di bidang ekonomi, AS terus memperluas sanksi yang menargetkan sistem keuangan dan aset digital Iran. Departemen Keuangan AS telah menambahkan Nobitex dan beberapa bursa aset digital Iran lainnya ke daftar sanksinya, menuduh platform-platform ini memfasilitasi penghindaran sanksi.
Serangkaian perkembangan di berbagai bidang menunjukkan bahwa ketegangan AS-Iran meningkat dengan cepat. Dengan banyaknya kekuatan yang beroperasi secara bersamaan di Timur Tengah, risiko salah perhitungan dapat menyebabkan situasi menjadi di luar kendali.
Sumber: https://vtv.vn/cang-thang-my-iran-leo-thang-บน-nhieu-mat-tran-100260603143030925.htm









Komentar (0)