Cà Ná adalah tempat di mana daratan dan laut belajar untuk saling menyesuaikan diri. Daratannya kering, tetapi tidak keras; lautnya asin, tetapi tidak kejam. Di antara dua ekstrem ini, orang-orang hidup seperti benang penghubung: tahu bagaimana bertahan, bagaimana menghargai, bagaimana menunggu. Di sini, garam bukan hanya sebuah produk. Garam adalah kenangan akan matahari, upaya yang terkristalisasi melalui setiap butir putih, pelajaran kesabaran yang dikeringkan sepanjang musim berangin.
Di pagi buta, perahu-perahu kembali ke pelabuhan. Bahkan sebelum ikan-ikan mendingin karena angin laut, matahari telah mengeringkan pantai berpasir. Penduduk Ca Na terbiasa bersahabat dengan alam dengan cara yang sangat sederhana: mereka tidak menuntut banyak, hanya berharap hujan turun pada waktu yang tepat, angin pada musim yang tepat, dan ikan kembali ke jalur yang tepat. "Yang tepat" ini mengajarkan kita bahwa pembangunan bukanlah tentang memaksa alam untuk bergerak lebih cepat, tetapi tentang mengikuti irama bumi dan langit.
Jika kita memandang Ca Na sebagai masalah matematika, ini adalah masalah yang memiliki banyak nilai. Sebuah teluk membuka peluang pariwisata berbasis pengalaman; sebuah desa penghasil garam menceritakan kisah mata pencaharian berkelanjutan; sebidang lahan yang disinari matahari dan berangin mengundang energi terbarukan; sebuah dapur pedesaan melestarikan jiwa kuliner yang lezat. Setiap nilai berdiri sendiri, tetapi ketika disatukan, mereka membentuk ekosistem di mana ekonomi mendukung budaya, dan budaya mengangkat derajat masyarakat.
Cà Ná mengajarkan kita pelajaran sederhana: jika ingin pergi jauh, perlambat langkah dan dengarkan. Dengarkan angin yang bertiup melalui celah gunung, ombak yang menghantam bebatuan, langkah kaki orang-orang yang menjemur garam di halaman yang disinari matahari. Ketika Anda mendengarkan dengan cukup saksama, Anda akan tahu apa yang harus dilakukan dan di mana harus berhenti.
Saat Anda datang ke Ca Na, jangan terburu-buru mencari sesuatu yang megah. Carilah sebutir garam di ujung jari Anda, rasakan rasa asinnya yang sedang. Rasa asin itu mengingatkan Anda bahwa kebahagiaan tidak membutuhkan banyak kata; kebahagiaan hanya membutuhkan hidup dengan baik dengan tanah, laut, dan sesama.
LE MINH HOAN
Sumber: https://baokhanhhoa.vn/van-hoa/sang-tac/202512/cau-chuyen-ca-na-0215248/






Komentar (0)