Harapannya adalah penilaian yang akurat dan pengurangan perbedaan skor.
Profesor Nguyen Ngoc Ha, Wakil Direktur Departemen Manajemen Mutu, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, dan Ketua Komite Ujian Kelulusan SMA 2026, menyatakan bahwa penerapan rubrik merupakan langkah dalam peta jalan untuk meningkatkan kualitas penilaian mata pelajaran berbasis esai.
Menurutnya, ciri khas unik dari mata pelajaran berbasis esai adalah bahwa hasilnya selalu dipengaruhi sampai batas tertentu oleh perspektif dan perasaan penguji. Hal ini telah menyebabkan masalah yang sudah berlangsung lama yaitu "penilaian longgar - penilaian ketat," dan perbedaan nilai antara penguji atau antara lokasi yang berbeda.
"Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan telah mulai menerapkan metode Rubrik pada bagian-bagian penting dari proses penilaian ujian Sastra. Ini adalah salah satu dari serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memastikan bahwa mata pelajaran berbasis esai dapat lebih baik membedakan dan mengklasifikasikan siswa," kata Bapak Ha.
Menurut perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, rubrik dapat dipahami sebagai sistem penilaian dengan kriteria spesifik untuk berbagai tingkat penyelesaian. Alih-alih mengevaluasi berdasarkan kesan keseluruhan, penguji membandingkan karya tersebut dengan kriteria yang telah dirancang sebelumnya untuk menentukan skor yang sesuai.
Dari perspektif teknis, Rubrik membantu mengubah penilaian kualitatif menjadi indikator yang dapat diamati dan dibandingkan. Untuk Sastra, di mana pemikiran pribadi, emosi, dan ekspresi selalu hadir, ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan objektivitas tanpa menghambat kreativitas. "Sederhananya, Rubrik seperti kunci jawaban yang lebih rinci. Penguji mendasarkan penilaian mereka pada setiap kriteria, bukan mengevaluasi berdasarkan perasaan umum," tegas Bapak Ha.
Salah satu kekhawatiran utama ketika mengubah metode penilaian adalah kemampuan adaptasi staf pengajar. Menurut Profesor Nguyen Ngoc Ha, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan telah mempersiapkannya terlebih dahulu dan tidak menerapkannya secara tiba-tiba. Konten tentang Rubrik telah dimasukkan dalam program pelatihan guru, dan beberapa daerah telah melakukan implementasi percontohan.
Dari perspektif penilaian, guru tidak membuat rubrik sendiri; mereka menggunakan alat yang sudah dirancang. Hal terpenting adalah memahami kriteria dengan benar dan menyepakati cara menerapkannya. Ini juga berarti bahwa rubrik tidak secara otomatis menciptakan keadilan. Keadilan hanya terjadi ketika semua penilai memahami standar penilaian yang sama.
Bersamaan dengan perubahan dalam penilaian, ujian Sastra tahun ini juga memicu banyak perdebatan karena penggunaan kisah Steve Jobs sebagai bahan untuk bagian komentar sosial. Menjelaskan masalah ini, Profesor Nguyen Ngoc Ha menegaskan bahwa seluruh isi ujian telah melalui proses peninjauan menyeluruh di dalam Komite Ujian. Menurutnya, dalam menyusun ujian, faktor regional, akses terhadap materi, dan kondisi belajar siswa yang beragam selalu diprioritaskan. Perwakilan Komite Ujian juga menekankan bahwa ini adalah pertanyaan yang dirancang untuk membedakan siswa, sehingga struktur penilaian dihitung untuk menghindari dirugikan oleh kandidat. Yang perlu diperhatikan, ujian tersebut tidak mengharuskan siswa untuk mengetahui biografi Steve Jobs atau informasi detailnya. "Yang perlu dinilai adalah kemampuan untuk bernalar secara sosial berdasarkan materi yang diberikan, bukan kemampuan untuk menghafal informasi," kata Profesor Ha.

Pertanyaan terbuka, jawaban terbuka, dan penilai juga harus "berpikiran terbuka".
Banyak guru juga percaya bahwa Rubrik tersebut sebenarnya bukanlah metode yang sepenuhnya baru, melainkan konkretisasi kriteria yang sudah ada dalam pedoman penilaian Sastra. Perbedaannya adalah bahwa penguji diharuskan untuk sepenuhnya mengevaluasi isi, bentuk, struktur, ekspresi, dan unsur-unsur kreatif esai, alih-alih hanya mengandalkan persepsi keseluruhan.
Profesor Bui Manh Hung, koordinator utama Dewan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Umum 2018, pernah mengusulkan pembuatan rubrik sebagai dasar untuk jawaban terbuka dalam mata pelajaran Sastra. Menurutnya, agar alat ini efektif, guru perlu pelatihan menyeluruh sebelum berpartisipasi dalam penilaian, dan sesi penilaian model harus diselenggarakan sesuai dengan kriteria yang seragam untuk meminimalkan perbedaan antar daerah dan antar penguji.
Salah satu aspek penting dari Rubrik ini adalah memperluas "ruang" bagi berbagai pendekatan dari siswa. Kandidat tidak diharuskan menulis sesuai dengan contoh jawaban untuk mencapai nilai tinggi; sebaliknya, esai dinilai berdasarkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dengan benar, berargumentasi secara logis, memberikan bukti yang tepat, dan mengungkapkan ide secara persuasif.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat inovasi dalam pendidikan umum: beralih dari pembelajaran hafalan ke pembelajaran melalui pemahaman, mendorong pemikiran mandiri, dan menumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan pendapat sendiri.
Namun, Rubrik tersebut juga menuntut standar yang lebih tinggi dari para penguji. Ketika kriteria evaluasi ditentukan pada beberapa tingkatan, para penguji harus diberikan panduan yang konsisten untuk menghindari setiap orang menafsirkan dan menerapkannya secara berbeda. Tanpa konsistensi, tujuan mengurangi subjektivitas mungkin tidak tercapai.
Senada dengan pandangan tersebut, Bapak Nguyen Trong Truong, Kepala Departemen Sastra untuk Siswa SMA di Sekolah Menengah Atas Phenikaa, percaya bahwa soal ujian terbuka hanya benar-benar bermakna jika metode penilaiannya juga mempertahankan semangat keterbukaan, artinya tidak membatasi siswa pada beberapa interpretasi atau cara ekspresi yang tetap.
Namun, "keterbukaan" tidak sama dengan subjektivitas. Menurut Bapak Truong, penilaian tetap harus didasarkan pada standar pengetahuan, pencapaian yang dibutuhkan, dan skala penilaian tertentu. "Para penguji seharusnya tidak mencari contoh esai untuk dibandingkan, tetapi lebih fokus pada kualitas argumentasi, kedalaman perasaan, kemampuan organisasi, dan daya persuasif sudut pandang," katanya.
Sebagian orang khawatir bahwa penggunaan rubrik akan membuat esai menjadi "mekanis," mengurangi nilai artistik dan dampak emosionalnya. Dari perspektif orang tua, Ibu Thanh Binh ( Hanoi ) percaya bahwa penerapan rubrik memiliki banyak keuntungan, seperti transparansi yang lebih besar dalam penilaian, dasar evaluasi yang jelas, dan keselarasan dengan arah reformasi terkini dalam pengujian dan penilaian. Namun, beliau juga mengungkapkan beberapa kekhawatiran tentang implementasi praktisnya.
Menurutnya, ketika kriteria penilaian terlalu spesifik, siswa mungkin cenderung menulis hanya untuk "memenuhi rubrik" alih-alih menulis secara alami dan emosional. Beberapa siswa bahkan mungkin ragu untuk menawarkan pendekatan baru karena takut menyimpang dari kriteria evaluasi. Sementara itu, emosi, kedalaman pemikiran, dan kualitas tulisan sulit diukur dengan skor spesifik. Banyak esai mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan "kerangka kerja" tetapi tetap menunjukkan pemikiran dan perasaan yang sangat baik.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Ibu Binh percaya bahwa hal terpenting bukan hanya membangun rubrik standar, tetapi juga kemampuan penguji untuk menerapkannya. Penguji perlu fleksibel dan menghargai emosi serta kreativitas siswa. "Jika soal ujian bersifat terbuka, jawabannya juga harus terbuka, dan penguji harus memiliki keahlian dan kepercayaan diri yang cukup untuk mengenali berbagai cara mengekspresikan ide. Jika tidak, mudah terjadi penyimpangan dari standar dan tidak adil bagi siswa dengan pemikiran independen dan kreatif," ujarnya.
Dari perspektif profesional, banyak guru percaya bahwa penerapan rubrik dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam cara pengajaran dan pembelajaran Sastra. Guru akan kesulitan untuk terus mengajar dengan gaya hafalan atau mendorong siswa untuk menulis esai yang panjang tetapi dangkal. Sebaliknya, siswa juga harus mengubah pendekatan belajar mereka ke arah membaca dengan cermat, memahami esensi masalah, dan mengembangkan keterampilan penalaran mereka.
Ketika nilai lebih dikaitkan dengan kompetensi aktual, siswa yang mampu menganalisis, mengekspresikan diri dengan jelas, dan mempertahankan sudut pandang mereka dengan argumen yang persuasif akan memiliki peluang lebih besar untuk diakui.
Meskipun demikian, efektivitas Rubrik tersebut masih sangat bergantung pada proses implementasinya. Memastikan konsistensi di antara para juri, menjaga objektivitas dalam penilaian, dan mengurangi tekanan untuk mencapai prestasi di tingkat lokal tetap menjadi tantangan utama.
Menurut banyak guru, aspek terpenting dari reformasi penilaian bukanlah tentang siswa belajar lebih banyak, tetapi tentang pemahaman yang lebih mendalam. Penerapan rubrik untuk menilai ujian Sastra mungkin dimulai dengan perubahan teknik penilaian, tetapi yang lebih mendasar, hal itu mewakili pergeseran pola pikir pengajaran dan pembelajaran: siswa perlu membaca, memahami, menulis, dan bertanggung jawab atas perspektif mereka sendiri alih-alih hanya mengulangi apa yang telah mereka hafal.
Apa itu rubrik?
Rubrik adalah alat penilaian yang umum digunakan dalam pendidikan yang secara spesifik menjelaskan kriteria dan tingkat pencapaian peserta didik untuk tugas tertentu.
Untuk bidang Sastra, Rubrik ini membantu penguji membandingkan esai berdasarkan kriteria seperti identifikasi masalah, argumentasi, bukti, ekspresi, dan daya persuasif, alih-alih terutama menilai berdasarkan kesan keseluruhan.
Rubrik biasanya hadir dalam dua bentuk: Rubrik Holistik: Penilaian keseluruhan karya berdasarkan berbagai tingkat kualitas.
Rubrik Analitis: Uraikan setiap kriteria menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk penilaian yang lebih rinci.
Menurut para ahli, rubrik tersebut tidak menggantikan intuisi atau kreativitas, tetapi berfungsi sebagai kerangka acuan untuk meningkatkan keadilan dan mengurangi perbedaan dalam penilaian.
Sumber: https://baophapluat.vn/cham-thi-ngu-van-bang-rubric-co-het-canh-cham-long-cham-chat.html







