
Mai Huu Phuoc bukanlah pengecualian. Dengan pengamatan yang cermat, ketenangan, dan pendekatan yang mudah dipahami dalam tulisannya, ia menciptakan "Touching Autumn" (Penerbitan Asosiasi Penulis Vietnam - 2024) dengan gaya uniknya sendiri: "Menyentuh musim gugur, jiwa menjadi bingung / Bayangan musim gugur menyelinap melalui jendela / Apa yang kau pegang / Mata musim gugur merindukan dengan sedih."
Saat menelusuri 99 puisi dalam kumpulan "Touching Autumn" di masa transisi ketika panas terik musim panas perlahan mereda, pembaca mengikuti penyair Mai Huu Phuoc kembali ke aroma dan warna musim gugur melalui empat bagian yang berjudul: "Warna Kehidupan"; "Nostalgia untuk Masa Lalu"; "Berkelana ke Sana Sini"; dan "Kenangan Hijau Segar". Setiap bagian merupakan sebuah perasaan tentang waktu, khususnya tentang musim gugur dalam nuansa uniknya masing-masing.
Musim gugur bukan hanya cerminan alam, tetapi juga seorang penyair yang memasuki masa senja hidupnya, mengalami pasang surut kehidupan, menyaksikan perubahan sifat manusia, perubahan dalam segala hal, dan hilangnya nilai-nilai tradisional di tengah kekacauan masa kini. Nostalgia akan cinta masa lalu, kerinduan akan orang-orang terkasih, kekhawatiran, dan kesepian yang luar biasa dalam menghadapi waktu dan ruang... semuanya tampak jelas dalam bait-bait lembut dan mendalam Mai Hữu Phước.
Mai Huu Phuoc adalah seorang pensiunan dokter dan penyair, saat ini anggota Komite Eksekutif Asosiasi Penulis Da Nang . Ia telah menerbitkan enam kumpulan puisi dan menerima banyak penghargaan sastra nasional.
Dari kumpulan puisi-puisinya sebelumnya, dimulai dengan "Terima Kasih, Sayangku" (2003), "Masa Sekolah" (2004), "Bisikan di Kota Kecil" (2006), "Selingan Perubahan Musim" (puisi dwibahasa, 2012), hingga "Dan Sejak Saat Itu" (puisi dwibahasa, 2019), para pembaca menyebut Mai Huu Phuoc sebagai penyair puisi cinta yang polos dan murni tentang masa sekolah: "Bersama kita bermain dan belajar / Mata kita saling bertukar pandangan penuh kasih sayang yang tak terhitung jumlahnya" ("Cinta di Masa Sekolah").
Namun dalam kumpulan puisi "Touching Autumn," di balik bait-bait tentang cinta terdapat momen-momen kesadaran yang mengejutkan, sebuah refleksi yang menyentuh hati tentang untung rugi dalam hidup: "Musim krisan telah berubah menjadi kuning, jauh dari jalan pohon phoenix / Seratus tahun tidak sinkron di cakrawala / Jalan mana yang mengarah bolak-balik di langit yang luas / Sebuah pertemuan, mendengar suara samar jatuhnya" ("The Purple Charm of You").
Nuansa musim gugur dalam puisi Mai Huu Phuoc paling terasa dalam puisi lima kata yang menjadi judul keseluruhan kumpulan puisi ini, "Menyentuh Musim Gugur." Puisi ini menggambarkan langkah ragu-ragu saat memasuki taman musim gugur, dan tiga bait pertama dipenuhi dengan emosi tulus sang penyair saat memasuki musim gugur: "Hatiku seperti penginapan kosong / Hari tanpa wajah-wajah yang dikenal / Musim gugur yang ragu-ragu menyebar / Sosok musim gugur di malam hari, seperti kaki burung - Ranting-ranting musim gugur keemasan, jalan kenangan / Apakah cinta musim gugur masih keemasan, sayangku? / Musim gugur di bumi dan langit, nektar manis / Musim gugur di hatiku, damai - Jejak langkah musim gugur sebelumnya / Menyentuh musim gugur yang berikutnya / Waktu seperti sungai / Mengalir melalui kehidupan satu sama lain" ("Menyentuh Musim Gugur").
Gambaran musim gugur, ranting, mata, dan emosi terjalin dalam setiap pikiran dan kata, dan terutama upaya sang penyair yang takjub namun mendalam untuk menyentuh musim gugur sebelum hukum waktu yang mengalir meninggalkan kesan mendalam di jiwa pembaca: "Waktu bagaikan sungai / Mengalir melalui kehidupan satu sama lain" ...
"Puisi pertama dan terutama adalah kehidupan, kemudian seni" (Belinski). Puisi berasal dari kehidupan, oleh karena itu selalu mengandung refleksi kehidupan, citra kemanusiaan.
Bagi penyair Mai Huu Phuoc, puisi adalah sarana untuk mengungkapkan semua kegembiraan, kesedihan, penderitaan, kegembiraan, dan gairah hati yang mencintai sepenuh hati. Selaras dengan perasaan sang penyair, kita mengenali suara puitis yang lembut dan mendalam; bentuk yang disukainya adalah baris lima dan tujuh kata, dengan ritme dan nada yang familiar, meskipun Mai Huu Phuoc masih secara sadar berupaya untuk menghadirkan kebaruan dan kemudaan.
Dengan sampul kuningnya yang menampilkan bunga aster liar, para pembaca selalu menaruh kepercayaan pada kumpulan puisi karya penyair Mai Huu Phuoc: "Touching Autumn" akan menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang mencintai puisi dan musim gugur, menuntun mereka pada pemahaman dan harmoni bersama.
Sumber: https://hanoimoi.vn/cham-thu-cung-mai-huu-phuoc-725257.html






Komentar (0)