Menurut Bapak Tran Xuan Viet, seorang pejabat dari Dinas Kebudayaan dan Urusan Sosial komune O Dien dan juga penduduk desa Ha Mo: Daerah O Dien pernah memegang posisi penting dalam sejarah bangsa, terkait dengan ibu kota Van Xuan selama pemerintahan Ly Nam De pada abad ke-6. Lapisan tanah aluvial dari Sungai Merah, Sungai Nhue, dan Sungai Day telah membangun tanah "pegunungan dan gundukan pasir" ini, yang dulunya merupakan tempat pertemuan para Saudari Trung dan kemudian menjadi kediaman Pangeran Ly Bat Lang, putra Raja Ly Phat Tu.
Menurut legenda yang diwariskan oleh penduduk Ha Mo selama beberapa generasi, "cháo se" (sejenis bubur nasi) bermula ketika Pangeran Ly Bat Lang kembali dari medan perang. Melihat jatah makanan para prajurit yang sedikit, ia memerintahkan pasukannya untuk membuat hidangan baru menggunakan kaldu tulang dan beras yang mudah didapat. Para pengawalnya merancang metode menggiling beras menjadi bubuk halus, menguleninya dengan air hangat, lalu menggulungnya dengan tangan menjadi untaian kecil, yang kemudian dimasukkan ke dalam kaldu tulang yang mendidih. Untaian yang lembut dan lentur bercampur dengan rasa manis daging, dan tulang yang empuk membentuk "pola" alami. Setelah mencicipinya, sang pangeran memuji perpaduan harmonis antara kekayaan rasa ringan dari tulang, tekstur adonan yang sedikit kenyal, dan rasa daging yang lembut. Sejak saat itu, "cháo se" menjadi hidangan yang sangat diperlukan bagi para prajurit, dan penduduk Ha Mo mengingatnya sebagai simbol era kejayaan. Setelah kematian sang pangeran, penduduk desa mendirikan sebuah kuil dan melestarikan "cháo se" sebagai bagian dari warisan spiritual mereka.
Hingga kini, selama beberapa generasi, masyarakat Ha Mo masih mempertahankan tradisi memasak bubur nasi kental dan lengket selama festival pada hari ke-12 bulan pertama kalender lunar dan hari ke-12 bulan kedelapan kalender lunar, untuk memperingati dewa pelindung desa. Hidangan ini juga hadir dalam semua kegiatan masyarakat seperti pertemuan desa, acara lingkungan, rangkuman musim panen, dan pesta perayaan di acara keluarga. Bubur panas dan kental, harum dengan aroma tulang rebus dan tepung beras, telah menjadi simbol kebersamaan dan persatuan.
Dari Ha Mo dan O Dien, hidangan ini mengikuti penduduk setempat ke jalan-jalan di pusat kota, menjadi makanan khas lokal yang unik, lezat, dan menarik bagi para penikmat kuliner saat ini. Di tengah banyaknya sajian kuliner kota, bubur nasi yang sederhana dan bersahaja ini mempertahankan cita rasa aslinya, namun kaya akan kisah sejarah suatu daerah yang pernah menjadi ibu kota.
Sumber: https://hanoimoi.vn/chao-se-ha-mo-lan-toa-pho-phuong-726839.html







Komentar (0)