Sungai Cai sudah ada sejak saya masih kecil. Sungai ini mengalir melalui desa-desa dan dusun-dusun, bercabang menjadi kanal-kanal yang menuju ke kota dan kemudian ke laut. Bahkan hingga kini, sungai itu tetap tidak berubah, dengan tepiannya masih tertutup oleh dedaunan pohon nipa yang menjuntai, bersinar merah terang saat matahari terbenam.
Di mata masa kecilku, Sungai Cai seindah dan selembut ibuku. Rasanya seperti baru kemarin, di sore hari itu, perahu tua dari pasar provinsi bergegas kembali, mesinnya mengeluarkan asap putih di seberang sungai. Gambaran perahu yang meluncur perlahan di sungai, di bawah langit kemerahan – warna yang membangkitkan rasa kejayaan sekaligus kehancuran yang akan datang – pasti terukir di hati kita yang telah meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah.
Di masa kecilku, aku sering menunggu ibuku pulang naik kereta ini. Setiap beberapa minggu sekali, ibuku pergi ke pasar provinsi. Setiap kali pergi, ia membawa beban barang yang berat di pundaknya. Ia membawa sayuran hasil kebunnya sendiri untuk dijual. Saat matahari terbenam, ia akan kembali ke rumah dengan kereta, keranjangnya selalu berisi sesuatu untukku. Gambaran ibuku turun dari kereta ke dermaga di depan rumah kami di senja merah menyala tetap terpatri dalam ingatanku.
Setelah lama mengagumi sungai bersama ibuku, aku masuk ke dalam dan perlahan berbaring di ayunan gantung yang terbentang di antara dua pilar yang bernoda air. Ayunan itu kendur, berderit pelan. Sudah lama sekali aku tidak menikmati sore hari yang damai di pedesaan seperti ini. Di kejauhan, suara pompa air yang mengalirkan air dari sungai ke ladang bercampur dengan kicauan burung bangau yang melankolis. Suara itu tiba-tiba membuatku merasa seolah-olah aku tidak pernah meninggalkan tempat ini, mengembara di negeri asing.
Ibuku masih setia pada ladang dan kebun yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Punggungnya membungkuk karena usia. Dan setiap hari dia masih pergi ke sungai untuk menungguku pulang. Kali ini, karena proyek yang sulit, sudah beberapa bulan sejak aku berkesempatan pulang. Setelah berbulan-bulan jauh, melihat ibuku semakin kurus, mendengar batuknya yang parah, hatiku terasa semakin berat…
Di tengah sungai, deburan ombak menghantam pantai, dan aku mengatakan kepada ibuku apa yang sudah lama ingin kukatakan:
- Kenapa Ibu tidak tinggal bersamaku di kota saja? Ibu sangat khawatir Ibu sendirian di sini. Di sana, kita akan bersama, Ibu akan lebih tenang, dan Ibu tidak perlu menungguku setiap hari.
Ibuku terdiam. Sosoknya memudar ke dalam senja, setengah terang, setengah gelap…
Asap dupa mengepul dari altar ayahku. Ibuku dan aku menatapnya dengan saksama. Di senja hari, aku melihat kerinduan dan kesedihan di mata ibuku. Sepertinya dia sedang mengenang masa lalu. Aku tak akan pernah melupakan sore itu ketika ayahku bergegas menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah demi menghindari Topan Linda. Perahu terbalik. Ayahku tenggelam. Setelah badai berlalu, para tetangga membantu ibuku memperbaiki atap dan membangun kembali dapur. Aku ingat duduk meringkuk, memperhatikan semua orang, memperhatikan ibuku, dengan celananya digulung sampai lutut, membantu mereka membangun kembali kehidupan mereka, hatiku hancur berkeping-keping.
Waktu berlalu begitu cepat, dan ibuku membesarkanku seorang diri, mengikat hidupnya pada tepian sungai ini, pada matahari terbenam yang indah dan merah menyala sebelum malam tiba. Dia percaya bahwa ayahku masih berada di tepi Sungai Cai.
- Ibu punya begitu banyak kenangan indah di sini, bersamamu dan Ayah... Nanti, saat Ibu berumur seratus tahun, kamu bisa pergi melihat Sungai Cai saat matahari terbenam dan kamu akan melihat Ibu dan Ayah...
Aku duduk di ambang jendela, dengan lembut menangkup pipiku. Suara ibuku memudar dalam keheningan malam yang mulai turun. Asap dari eceng gondok kering di bawah papan lantai, yang digunakan untuk mengusir nyamuk, naik perlahan, tajam sekaligus sangat familiar dan memilukan hati… Aku menutup mata, menarik napas dalam-dalam menghirup aroma tanah, tanah aluvial, dan matahari terbenam di tanah kelahiranku. Besok, aku akan kembali ke hiruk pikuk kota, memulai perjuangan tanpa henti untuk bertahan hidup, tetapi aku tahu bahwa hatiku selalu memiliki jangkar yang kokoh. Tepian sungai ini, air ini, dan bayangan ibuku duduk di bawah matahari terbenam yang merah menyala… Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benakku: jika ibuku tidak bisa pergi, mengapa aku tidak bisa kembali ke sisinya?!
Cerita pendek: HOANG KHANH DUY
Sumber: https://baocantho.com.vn/chieu-buong-song-vang-a206523.html










