Terletak di tengah perbukitan dataran tinggi Lung Van, terdapat sebuah pasar kecil yang masih rutin beroperasi setiap minggu, seperti yang telah dilakukan selama beberapa generasi.
Berbeda dengan pasar wisata yang ramai di wilayah pegunungan utara, pasar Lung Van mempertahankan tampilan pedesaan yang alami dan kaya akan identitas budaya masyarakat Muong.
Bagi masyarakat di dataran tinggi, pasar bukan sekadar tempat jual beli. Pasar juga merupakan tempat untuk bertemu dan bersosialisasi, tempat yang melestarikan ritme kehidupan komunitas dan nilai-nilai budaya yang telah ada selama beberapa generasi.
Sebuah pasar di "atap tanah Muong"
Terletak di komune Van Son, provinsi Phu Tho , Lung Van dikenal sebagai "atap tanah Muong" dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.
Lung Van adalah salah satu dari empat pusat kebudayaan Muong kuno yang terkenal, termasuk Muong Bi, Muong Vang, Muong Thang, dan Muong Dong. Di antara keempatnya, wilayah Muong Bi – tempat Lung Van berada – dianggap sebagai daerah yang paling jelas melestarikan nilai-nilai budaya tradisional masyarakat Muong.

Di tengah lanskap pegunungan, pasar Lung Van hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dataran tinggi. Pasar ini diadakan setiap Selasa pagi, sekitar pukul 6 pagi hingga 10 pagi, ketika kabut pegunungan masih menyelimuti rumah-rumah panggung.
Sejak subuh, orang-orang dari desa-desa terpencil membawa barang dagangan mereka ke pasar. Beberapa berjalan kaki berjam-jam menyusuri lereng gunung, sementara yang lain menempuh jalan berkelok-kelok dengan sepeda motor tua. Mereka membawa hasil bumi yang mereka tanam sendiri: seikat sayuran liar, seikat rebung, beberapa labu, seekor ayam kampung, atau sebotol anggur beras yang harum.
Yang membuat pasar Lung Van istimewa adalah sifat unik dan tulus dari masyarakat dataran tinggi.
Di sini, barang-barang tidak dijual secara komersial seperti di banyak destinasi wisata lainnya. Penduduk setempat menjual apa pun yang mereka miliki, terutama produk pertanian lokal dan hasil bumi musiman dari pegunungan.
Musim panas menghadirkan labu siam, sawi, jagung ketan, dan pisang liar. Musim gugur menghadirkan jeruk Nam Son dan jeruk mandarin kuno. Akhir tahun dipenuhi dengan rebung kering, daging asap, daun dong, dan berbagai kue tradisional Muong.
Ruang pasar ini juga jelas mencerminkan gaya hidup komunal penduduk dataran tinggi. Para penjual tidak mengganggu pelanggan, dan pembeli jarang menawar harga. Banyak orang datang ke pasar bukan hanya untuk membeli atau menjual, tetapi untuk bertemu dan bercengkerama setelah seharian bekerja di ladang.
Mungkin itulah sebabnya pasar di sini terasa begitu akrab dan tenang, sangat kontras dengan kehidupan serba cepat di dataran rendah.
Pameran pasar dan identitas budaya masyarakat Muong.
Mengunjungi pasar Lung Van juga merupakan kesempatan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan budaya masyarakat Muong.

Di tengah kabut pagi buta, terlihat sekilas para wanita Muong dengan rok hitam tradisional, selempang hijau, jilbab putih, dan membawa keranjang di punggung mereka, berjalan menuju pasar. Pakaian-pakaian ini, dengan pola brokatnya yang indah, masih dilestarikan oleh banyak orang sebagai bagian integral dari identitas etnis mereka.
Suara tawa, bahasa Muong yang bercampur dengan bahasa Kinh, menciptakan suasana khas pasar dataran tinggi. Tempat ini bukan hanya rumah bagi masyarakat Muong, tetapi juga berfungsi sebagai pusat perdagangan bagi banyak komunitas dari wilayah tetangga.
Kuliner juga merupakan bagian integral dari jiwa pasar ini. Pengunjung dapat menemukan hidangan khas daerah pegunungan, seperti nasi ketan yang dipanggang dalam tabung bambu, acar babi, daging kerbau dengan rempah liar, sayuran liar, dan anggur beras.
Anggur beras khas suku Muong dibuat dari beras ketan yang dipadukan dengan ragi daun tradisional, sehingga menghasilkan cita rasa unik khas pegunungan dan hutan di wilayah Barat Laut.
Selain sebagai tempat pertukaran barang, pasar juga berkontribusi dalam memelihara hubungan komunitas, sebuah unsur yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Muong kuno.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lung Van secara bertahap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang gemar menjelajahi budaya lokal.
Berbeda dengan banyak tempat yang telah dikomersialkan secara besar-besaran, Lung Van masih mempertahankan keindahan alaminya dengan rumah-rumah panggung yang terletak di lereng gunung, sawah bertingkat, dan jalan-jalan berkelok-kelok di tengah lautan awan.
Dengan demikian, pasar ini menjadi "titik sentuh budaya" khusus bagi wisatawan. Banyak orang datang ke sini untuk merasakan ritme kehidupan otentik di dataran tinggi, menikmati makanan lokal, dan mengobrol dengan penduduk setempat.
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/cho-phien-vung-cao-lung-van-noi-xu-muong-phu-tho-post1109787.vnp







Komentar (0)