• Memastikan keselamatan kebakaran di area hiburan dan perbelanjaan.
  • Petani memasuki "arena digital"
  • Sekretaris Jenderal : Kita tidak boleh membiarkan mentalitas 'Januari adalah bulan untuk bersantai dan bersenang-senang' terus berlanjut.

Kaya akan semangat pedesaan

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kerajinan pembuatan sapu di dusun Chu Mia dengan tenang mempertahankan ritme uniknya sendiri. Di sana, setiap keluarga adalah "bengkel kecil," dan setiap penduduk adalah pengrajin yang tekun. Tangan yang kapalan karena kerja keras bertahun-tahun dengan teliti menyusun serat kelapa, mengikat erat setiap lingkaran tali, menciptakan sapu yang kokoh – barang rumah tangga yang familiar dan disayangi di banyak rumah.

Koperasi pembuat sapu di dusun Chu Mia, komune Khanh Hung, memiliki 17 anggota dan memasok puluhan ribu sapu kelapa ke pasar setiap tahunnya.

Tidak dibutuhkan teknologi canggih; orang-orang di sini hanya membutuhkan serat kelapa, benang nilon, dan tangan yang terampil. Di balik kesederhanaan ini terdapat kekayaan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap sapu bukan hanya sebuah produk, tetapi juga sebuah kenangan – kenangan masa kecil yang tumbuh di samping perkebunan kelapa, keringat para wanita pekerja keras, dan kehidupan yang sangat dekat dengan alam.

Dari masa-masa awal ketika bahan pembuatan sapu terdiri dari alang-alang yang tumbuh di sepanjang sungai dan kanal, hingga saat bahan baku menjadi langka, masyarakat secara fleksibel beralih menggunakan serat kelapa. Fleksibilitas ini tidak hanya menjaga kelangsungan kerajinan tersebut tetapi juga membuka jalan yang lebih berkelanjutan: sapu serat kelapa tahan lama, ramah lingkungan, dan semakin populer di pasaran. Dan dari dasar itulah, tangan-tangan terampil para wanita terus berkarya, menghidupkan setiap produk baru, seperti sapu yang terbuat dari batang daun palem, sebuah bukti vitalitas abadi dari kerajinan pedesaan.

Ibu Le Thi Mai, dari dusun Chu Mia, telah berkecimpung dalam kerajinan pembuatan sapu selama lebih dari 70 tahun.

Di usia 70 tahun, Ibu Le Thi Mai tetap berdedikasi pada keahliannya, menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Setiap tahun, ribuan sapu dibuat oleh tangannya, yang telah lapuk dimakan waktu. Baginya, ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga kegembiraan, cara untuk hidup mandiri, tidak bergantung pada anak atau cucunya. Sebuah sapu yang lengkap membutuhkan banyak langkah teliti: mulai dari mengupas dan mengeringkan sabut kelapa, memilih dan menyusun serat kelapa secara merata, mengikat setiap lapisan dengan erat, hingga membuat gagang dan menyelesaikan sapu. Semua ini membutuhkan kesabaran dan pengalaman. Sapu tersebut mungkin terlihat sederhana dan pedesaan, tetapi mencerminkan perhatian dan dedikasi sang pengrajin.

Melestarikan dan menyebarluaskan

Selain melestarikan nilai-nilai tradisional, kerajinan pembuatan sapu juga membuka mata pencaharian praktis bagi banyak pekerja pedesaan, terutama perempuan dan lansia. Tanpa meninggalkan kampung halaman dan tanpa tekanan waktu, mereka masih bisa mendapatkan penghasilan tambahan tepat di rumah.

Bagi Ibu Le Thi Hoc, kebahagiaan sederhana di usia tua adalah saat-saat santai membuat sapu untuk disewa. Setiap serat kelapa yang ia tangani menjadi sumber pendapatan kecil namun stabil, membantunya menjalani hidup yang lebih mandiri. "Kontribusi kecil akan bertambah," dan setiap bulan ia menghasilkan beberapa juta dong, bukan jumlah yang besar, tetapi cukup untuk menutupi pengeluaran sehari-harinya.

Ibu Le Thi Hoc secara rutin membuat sapu kelapa untuk disewakan kepada anggota Koperasi, dengan penghasilan 5.000 VND per sapu jadi. Beliau membuat 50 sapu per hari.

Faktanya, banyak keluarga di dusun Chu Mia telah meningkatkan taraf hidup mereka berkat profesi ini. Rata-rata, setiap pekerja dapat memperoleh 3-4 juta VND per bulan, tergantung pada jumlah produk. Lebih penting lagi, ini adalah sumber pendapatan berkelanjutan, yang cocok untuk kondisi pedesaan selama musim sepi.

Untuk mencegah kepunahan kerajinan ini, Serikat Wanita di komune tersebut mendirikan koperasi pembuatan sapu, yang menarik 17 anggota wanita dengan pengalaman bertahun-tahun dalam bidang ini. Koperasi ini tidak hanya mendorong kolaborasi tetapi juga mendukung para wanita dalam meningkatkan keterampilan mereka, mempromosikan produk mereka, dan menemukan pasar. Akibatnya, sapu kelapa tidak lagi terbatas pada dusun dan komune tersebut, tetapi secara bertahap menyebar ke lebih luas, ke banyak daerah lain.

Ibu Phan Cam Loan, Ketua Serikat Wanita Komune Khanh Hung, menyampaikan.

Di era produk industri yang praktis, sapu sabut kelapa masih memiliki tempat istimewa berkat daya tahannya, ramah lingkungan, dan familiaritasnya. Namun lebih dari sekadar alat, sapu sabut kelapa adalah produk yang mewujudkan ketekunan dan dinamisme perempuan, melestarikan jiwa pedesaan melalui hal-hal yang paling sederhana.

Dan setiap hari, di dusun Chu Mia, suara pengupasan daun kelapa dan pengikatan sapu terus bergema secara teratur, seperti penegasan yang tenang: ada nilai-nilai, betapapun sederhananya, yang cukup kuat untuk bertahan selama bertahun-tahun.

Kieu Nuong

Sumber: https://baocamau.vn/choi-cong-dua-sinh-ke-ben-bi-tu-hon-que-a127129.html