Sentimen investor semakin tertekan oleh peringatan pesimistis dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) tentang risiko resesi ekonomi, serta spekulasi tentang langkah selanjutnya dari Federal Reserve dalam memerangi inflasi.
Di AS, semua indeks utama Wall Street mengalami penurunan. Secara spesifik, Dow Jones Industrial Average turun 1,2% menjadi 50.687,07 poin. S&P 500 turun 0,7% menjadi 7.553,68 poin, sementara indeks teknologi Nasdaq Composite turun 0,9% menjadi 26.853,98 poin.
Di Eropa, indeks FTSE 100 London turun 0,4% menjadi 10.332,30 poin. Indeks CAC 40 Paris turun 0,7% menjadi 8.150,42 poin, dan indeks DAX 30 Frankfurt turun 1,3% menjadi 24.795,94 poin.
Tekanan terbesar pada pasar saham saat ini berasal dari risiko perlambatan pertumbuhan. Dalam laporan terbaru yang diterbitkan pada 3 Juni, OECD memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan merosot menjadi 2,8% tahun ini, bahkan dalam skenario paling optimis di mana ekspor energi dari Teluk pulih ke tingkat sebelum konflik pada kuartal ketiga.
Stefano Scarpetta, kepala ekonom OECD, menekankan bahwa semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar kerusakan ekonomi dan sosialnya. Secara khusus, OECD memperingatkan bahwa banyak negara berada di ambang resesi. Penurunan investasi, termasuk modal yang mengalir ke sektor kecerdasan buatan (AI) yang intensif energi, berisiko mendorong angka pengangguran lebih tinggi. Informasi ini segera berdampak pada sentimen investor, menyebabkan peningkatan tekanan jual di bursa saham.
Selain risiko geopolitik , pasar juga memantau dengan cermat indikator ekonomi AS. Satu titik terang yang jarang terjadi dan membantu meredakan aksi jual aset berisiko seperti saham adalah laporan terbaru yang menunjukkan ekspansi berkelanjutan di sektor jasa AS pada Mei 2026, sementara pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta melebihi ekspektasi.
Namun, data positif ini bagaikan pedang bermata dua. Investor kini menantikan laporan pekerjaan komprehensif AS yang akan dirilis pada 5 Juni. Angka-angka ini akan sangat penting dalam menentukan apakah The Fed akan terus mempertahankan suku bunga tidak berubah, atau bahkan mempertimbangkan untuk menaikkan biaya pinjaman guna menekan tekanan inflasi yang terus-menerus. Suku bunga tinggi yang berkepanjangan akan secara langsung mengurangi margin keuntungan perusahaan dan menurunkan daya tarik pasar saham.
Di Vietnam, VN-Index turun 7,46 poin (0,41%) menjadi 1.819,01 poin, sedangkan HNX-Index naik 2,69 poin (0,85%) menjadi 317,48 poin.
Sumber: https://baotintuc.vn/thi-truong-tien-te/chung-khoan-the-gioi-chim-trong-sac-do-20260604074727800.htm








Komentar (0)