Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengar lonceng itu. Di tengah desiran angin pagi, suara sederhana lonceng kecil itu hampir tak terdengar, hanya bisa didengar oleh telinga yang tajam. Lonceng itu membangkitkan kenangan masa kecil yang terpendam dalam sudut kecil jiwaku.

Permen taffy membangkitkan kenangan masa kecil bagi banyak orang - Foto: HCD
Dulu, kami biasa berkumpul di jalan desa untuk bermain permainan anak-anak. Tiba-tiba, lonceng kuningan akan berbunyi, dan sebuah sepeda tua reyot akan mendekat dengan santai. Mata anak-anak akan membulat penuh kerinduan saat pengendara sepeda itu berteriak, "Permen dijual!"
Nama penjual permen itu adalah Thoi, dan kami biasanya memanggilnya "Paman Thoi si Penjual Permen." Usianya sekitar tiga puluh tahun, dan kami mendengar bahwa keluarganya sedang kesulitan karena ia memiliki banyak anak. Ia tinggi dan kurus, dengan wajah tirus dan bertulang yang sepertinya tidak pernah tersenyum; pada pandangan pertama, ia tampak cukup menakutkan. Setiap anak yang menangis akan diancam oleh ibu dan nenek mereka dengan "jual mereka kepada Paman Thoi si penjual permen," dan mereka akan langsung berhenti menangis. Tetapi begitu mereka mencicipi permennya, semua anak menjadi menyukai Paman Thoi. Terkadang, ia akan menghentikan gerobaknya, menyuruh salah satu anak masuk ke rumah untuk menuangkan secangkir teh untuknya, lalu ia akan memberi mereka sepotong permen.
Sepeda lelaki tua itu usang, berkarat, dan catnya mengelupas. Sebuah lonceng kecil berbentuk pangsit tergantung di setang. Saat sepeda itu melaju di jalan desa yang bergelombang dan penuh lubang, lonceng itu bergemerincing dan suara lelaki tua itu terdengar, "Permen dijual!" Suaranya begitu familiar sehingga terkadang dia bahkan tidak perlu berteriak; hanya gemerincing lonceng saja sudah cukup bagi anak-anak untuk tahu bahwa dia sedang menjual permen dari jauh.
Di belakang sepeda motor, di rak bagasi, terdapat sebuah kotak kayu berisi zat seperti permen berwarna putih, dibungkus dalam kantong plastik mengkilap dan lapisan kain tebal untuk melindunginya dari sinar matahari. Itu adalah sirup kental dan lengket, terbuat dari gula yang digiling halus, sebuah proses yang membutuhkan keahlian untuk membuatnya. Setelah menghentikan sepeda motor, pria itu menggunakan kain yang dililitkan di tangan kanannya untuk mengambil sepotong permen. Kemudian, tanpa diduga, ia mematahkan potongan itu, membungkusnya dengan selembar koran agar tidak lengket di tangannya.
Kami senang menyaksikan Paman Thoi menarik permen, terkadang bahkan tanpa uang untuk membelinya, kami tetap berkerumun untuk menonton. Tangannya lincah, menarik dan membelai secara bersamaan. Ketika dia menggoyangkan batang permen untuk memisahkannya dari bongkahan gula, dia akan menjulurkan lidahnya di dalam mulutnya, menghasilkan suara retakan yang renyah, seperti sesuatu yang pecah. Di dunia masa kecilku, penjual permen itu seperti seorang pesulap. Hanya dengan sedikit belaian, bongkahan gula putih akan membungkus kacang panggang yang sudah dikupas.
Anak-anak menyukai permen taffy; teksturnya yang manis dan kenyal serta kacang tanahnya yang renyah dan gurih merupakan suguhan yang menenangkan untuk masa kecil yang ditandai dengan kekurangan dan keinginan terus-menerus akan makanan manis. Terbuat murni dari gula dan kacang tanah, taffy sangat aman untuk gigi dan gusi anak-anak. Permen ini tidak mengandung pengawet, dan karena pada saat itu belum ada lemari es, penjual akan terlihat sedih jika ia tidak menjual semuanya hingga sore hari.
Mengonsumsi permen taffy membutuhkan kecepatan karena jika dibiarkan terlalu lama, permen akan meleleh dan menempel di tangan, jadi Anda harus mengunyahnya dengan rakus, meskipun tersangkut di gigi. Mengonsumsi permen taffy telah melahirkan sebuah idiom: siapa pun yang berbicara dengan manis sering digoda dengan ungkapan, "Mulutmu sehalus permen taffy."
Dahulu, sebatang permen taffy hanya berharga beberapa ratus dong, tetapi terkadang anak-anak masih bisa mendapatkan permen taffy tanpa perlu uang. Ini berkat penjual permen yang ceria dan murah hati yang dapat menukar barang-barang bekas dengan permen. Anak-anak cukup mengumpulkan botol kosong, kaleng, sandal plastik usang, batang besi berkarat, atau bulu bebek untuk ditukar dengan permen taffy. Dengan cara itu, kita bisa mendapatkan suguhan tanpa uang. Tampaknya tindakan-tindakan kecil ini menanamkan rasa ketekunan dan hemat pada anak-anak pedesaan.
Anak-anak sekarang memiliki semakin banyak pilihan camilan; permen dan kue-kue kini mudah didapatkan, sehingga pemandangan sepeda yang membawa permen untuk dijual menjadi semakin jarang dan telah menghilang sepenuhnya dari jalan-jalan desa. Paman Thoi sekarang sudah tua dan tidak lagi menjual permen dari rumah ke rumah. Saya masih ingat dengan jelas kata-katanya, "Pekerjaan ini melibatkan berkeliaran di bawah terik matahari dan hujan, sangat berat."
Namun tanpa diduga, pagi ini aku kembali mendengar suara kenangan, dan melihat lonceng tergantung di setang sepeda tua yang membawa permen kenyal untuk dijual. Kupikir anak-anak zaman sekarang tidak akan menginginkan permen seperti itu lagi. Tetapi dari gang dekat rumahku, seorang anak berlari keluar, berteriak, "Paman! Paman menjual permen kenyal!" Penjual permen itu buru-buru mengerem mendadak, seolah takut kehilangan sesuatu—bukan hanya penjualan permen, tetapi sesuatu yang lebih.
Hoang Cong Danh
Sumber






Komentar (0)