Dalam kumpulan puisi sebelumnya, puisi Trang Thanh kaya akan feminitas dan musikalitas; namun dalam kumpulan ini, unsur-unsur kontemplatif, sosial, dan sugestif dieksplorasi lebih luas.

Dalam bagian "Kembali ke Dunia Manusia," pembaca menjumpai Trang Thanh yang tulus, peka terhadap hal-hal kecil dan akrab seperti bayangan burung, ikan, ladang, bunga, dan rumput, serta peka terhadap waktu seperti musim dingin, Oktober, dan malam... Inilah juga bagaimana ia kembali ke desanya, tempat nenek, ayah, dan ibunya tinggal, dengan kenangan yang tak terhitung jumlahnya. Tanah kelahirannya dalam puisi Trang Thanh muncul tidak hanya melalui hijaunya sawah, putihnya asap senja, dan birunya sungai, tetapi juga melalui keindahan tenang dari tangan-tangan yang kasar dan pekerja keras. Trang Thanh mengidentifikasi dirinya sebagai gadis desa, dari ladang dan sungai; semua gambaran ini menjadi sumber estetika dalam puisinya. Kumpulan puisi ini berisi baris-baris yang sangat menggugah: "Kita tumbuh dewasa dan belajar mencintai tanaman dan pohon / setiap sel dalam diri kita basah kuyup oleh keringat pakaian ibu kita / tanah menawarkan buah dan bunga yang manis" ("Menulis dari Ladang Ibu"); “Namun waktu terasa singkat / menuntut untuk bercermin dan menghitung helai rambut / tidak memanggil siapa pun kembali ke pelabuhan impian” (“Melihat ke Cermin”). Atau “Desa, zig-zag suka dan duka / ramai dengan atap jerami yang reyot / mata orang-orang berkaca-kaca / menunggu mata musim semi berkilauan dengan tetesan air mata” (“Akhir Musim Dingin”).
Dalam bagian "Rasa Sakit Menyebarkan Keharuman di Ranting Berduri," tersembunyi di balik bahasa yang kaya simbolis adalah rasa sakit, penderitaan, penyesalan yang terjalin dengan cinta dan gairah. Penulis tidak menghindari rasa sakit dan kehancuran emosional, tetapi memilih untuk menghadapinya, sehingga rasa sakit itu tidak menciptakan rasa kesengsaraan, tetapi diangkat menjadi sumber kreativitas, kerinduan, dan harapan. Pembaca dapat dengan mudah menemukan bait-bait melankolis yang indah: "Rambut melepaskan pakaiannya yang compang-camping di musim yang berganti / Kau pergi dengan gemerlap di malam yang sedih" ; "Teruslah menangis selagi hatimu masih gemetar / Di wajah kehidupan, sebuah giok yang bersinar" ("Air Mata"). Puisinya menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah kesedihan menjadi keindahan, kemalangan menjadi harapan. Banyak puisi Trang Thanh membangkitkan rasa lelah sebelum badai, tetapi mengandung kerinduan untuk berlabuh dan berlindung dalam cinta dan hubungan antarmanusia: "Teratai memulai musim budidayanya / Kehidupan yang fana mulai melepaskan diri / Batang teratai putih murni berdenyut dengan napas" ("Rasa Sakit Menyebarkan Keharuman di Ranting Berduri").
Dalam bagian "Rambutku Menulis di Awan," puisi Trang Thanh mengangkat banyak pertanyaan, menantang masa lalu, masa kini, dan hatinya sendiri. Puisi "Di Jalan Rambut" mengangkat suara feminis yang unik. Wanita itu tidak memilih jalan besar, beton, dan beraspal batu, tetapi memilih untuk berjalan di jalan rambutnya, di atas sesuatu yang rapuh dan kecil. "Wanita itu berjalan di malam yang gelap gulita di atas rambutnya / di jalan tak berujung yang terjalin dari untaian rambut yang tak terhitung jumlahnya yang jatuh / dari kepalanya yang mungil." Mungkin justru hal-hal kecil dan rapuh inilah yang memiliki kekuatan dan ketahanan tersembunyi?
Kumpulan puisi "Di Jalan Rambut" kaya akan simbolisme dan citra metaforis, membangkitkan imajinasi pembaca sekaligus membawa mereka ke dunia dialog dan kontemplasi tentang kondisi manusia. Melalui kumpulan ini, penulis menegaskan kembali bahwa memang ada penderitaan dan kesedihan yang indah. Jika tidak, bagaimana mungkin ada begitu banyak puisi sedih namun indah di dunia ini?
Sumber: https://hanoimoi.vn/co-nhung-noi-buon-rat-dep-730936.html






Komentar (0)