Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Photonics pada 13 Mei, para ilmuwan Tiongkok telah mengembangkan perangkat genggam mini yang dapat mendeteksi tanda-tanda awal kanker hanya dari setetes darah. Ini adalah terobosan yang dapat mengarah pada diagnosis yang lebih mudah dan tepat waktu.
Deteksi kanker biasanya membutuhkan peralatan yang besar, sehingga pengujian terbatas pada laboratorium penelitian atau rumah sakit. Untuk mengatasi hal ini, tim peneliti mengembangkan perangkat dengan mekanisme penginderaan baru yang memungkinkan seluruh sistem diperkecil menjadi bentuk genggam.
Perangkat baru ini bekerja dengan mendeteksi perubahan halus pada sifat cahaya, seperti panjang gelombang, yang disebabkan oleh keberadaan molekul tertentu. Menurut tim peneliti, perangkat baru ini berisi chip sensor yang bekerja dengan menentukan bagaimana molekul membengkokkan cahaya, bukan bagaimana molekul mengubah sifat cahaya. Perangkat ini menggunakan chip 3D yang terbuat dari material khusus yang mampu memanipulasi cahaya dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh material alami.

Perangkat baru ini menggunakan pemancar cahaya, penerima cahaya, dan material yang dirancang khusus, yang dibuat pada wafer berdiameter 20,3 cm dan kemudian diproduksi secara massal. Hal ini mengurangi biaya per chip menjadi sekitar $5. Menurut para peneliti, metode ini menggeser pengembangan sensor kanker dari perangkat laboratorium unit tunggal ke sistem deteksi di rumah yang berbiaya rendah.
Untuk menguji efektivitas praktis perangkat baru ini, para ahli berkolaborasi dengan Universitas Xiamen untuk mendeteksi vesikel ekstraseluler mikroskopis yang terkait dengan kanker paru-paru. Vesikel ini merupakan biomarker penting dalam teknik "biopsi cair". Namun, pada pasien stadium awal, jumlah vesikel yang ada dalam darah sangat rendah, sehingga sulit dideteksi menggunakan metode konvensional.
Pengujian menggunakan perangkat baru menunjukkan sensitivitas sekitar 10.000 kali lebih tinggi daripada tes ELISA saat ini dalam mendeteksi tanda-tanda awal kanker paru-paru. Dalam uji coba pada 171 sampel serum dari pasien kanker paru-paru, perangkat tersebut mencapai akurasi 94,9% dalam deteksi dini dan 92,1% dalam pemantauan pasca operasi. Sebaliknya, metode ELISA tradisional hanya mencapai 74,7%.
Oleh karena itu, para ilmuwan percaya bahwa teknologi baru ini tidak hanya membantu dalam pendeteksian kanker dini dengan biaya rendah, tetapi juga memiliki potensi aplikasi yang luas di banyak bidang bioteknologi dan pengobatan presisi.
Sumber: https://khoahocdoisong.vn/cong-nghe-moi-giup-phat-hien-ung-thu-som-tu-mot-giot-mau-post2149101741.html











Komentar (0)