Kehadiran internet dalam kehidupan sehari-hari
Kita hidup di era di mana konektivitas global bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat untuk berfungsi. Di negara-negara yang mengalami digitalisasi pesat seperti Tiongkok dan Vietnam, akses internet telah mencapai 80% hingga hampir 90%. Cakupan yang luas ini menjadi dasar bagi pergeseran komprehensif: dari layanan publik, transportasi, belanja, dan perbankan hingga kebutuhan sehari-hari yang paling mendasar seperti memesan makanan atau check-in di hotel, semuanya kini diperkecil hingga hanya dengan sentuhan layar sentuh.
Kemudahan yang ditawarkan memang tak terbantahkan. Namun, sisi negatifnya adalah orang-orang semakin bergantung pada, atau bahkan terjebak dalam, dunia virtual yang dibentuk oleh algoritma. Ponsel pintar, yang dulunya merupakan alat yang bermanfaat, telah berubah menjadi pusat pengendali perilaku. Mulai dari lansia yang duduk berjam-jam di beranda rumah mereka tanpa berpikir panjang sambil menjelajahi media sosial, hingga anak-anak di tempat pangkas rambut pedesaan kecil yang terpaku pada video pendek yang berulang-ulang, internet diam-diam merebut waktu dan perhatian orang.
Realitas inilah yang mendorong Duong Hao, seorang seniman berusia 34 tahun yang baru saja meraih gelar PhD di Inggris, untuk melakukan eksperimen sosial yang berani: Beralih dari gaya hidup digital ke gaya hidup yang lebih primitif, untuk melihat seberapa jauh kehidupan dapat berjalan jika benar-benar terputus dari dunia digital.

Gambar tersebut adalah tangkapan layar dari trailer film dokumenter tentang perjalanan Duong Hao tanpa telepon, yang diedit oleh Lam Huy.
Hal yang mustahil
Setelah membuang ponsel dan data selulernya, barang bawaan Yang Hao untuk perjalanan hanya terdiri dari beberapa set pakaian, dua kamera, sebuah buku catatan, peta kertas, uang tunai, kartu ATM, dan beberapa kuas serta kertas untuk menulis surat. Sejak saat ia melangkah keluar pintu, ia menghadapi pertanyaan skeptis dari keluarganya sendiri, yang menganggap meninggalkan teknologi di zaman sekarang ini sebagai "lelucon" yang tidak berarti. Namun, baginya, tujuan terbesar perjalanan ini adalah untuk mengalami secara langsung sejauh mana dampak digitalisasi terhadap kehidupan.

Koper Yang Hao (kiri) dan foto dirinya saat berangkat dari Taiyuan , Provinsi Shanxi pada tahun 2023. Foto disediakan oleh subjek foto.
Tanpa internet, hal-hal yang dulunya sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari seketika menjadi tantangan. Di kota-kota besar dan modern, memesan kamar hotel langsung di konter menjadi tidak mungkin karena sistem mereka hanya menerima kode pemesanan online. Ketika ingin bepergian, alih-alih mengklik untuk memeriksa jadwal kereta, seseorang harus mengemas tas mereka, langsung pergi ke stasiun kereta, mencari kereta di papan informasi, dan kemudian menunggu kereta paling awal. Bahkan menukar tiket kereta secara manual di stasiun-stasiun kecil pun menuai keluhan dari para penjual tiket, yang terlalu terbiasa dengan sistem otomatis melalui aplikasi pintar.

Yang Hao sedang melihat peta kertas (kiri) dan peta yang digambar oleh resepsionis hotel untuk memandunya ke hotel tempat dia bisa memesan kamar secara langsung (kanan). Foto disediakan oleh subjek.
Namun bukan itu saja; gaya hidupnya yang bebas dari perangkat elektronik memicu skeptisisme mendalam dari orang-orang di sekitarnya dalam masyarakat yang telah menormalisasi identifikasi digital. Di sebuah stasiun bus di Mongolia Dalam, ketika ia tidak dapat menggunakan internet untuk menentukan kota tujuan yang tepat, Yang Hao dicurigai sebagai mata-mata oleh petugas stasiun, yang berpendapat, "Hanya mata-mata yang tidak menggunakan telepon karena takut dilacak." Di sebuah daerah kecil di Xinjiang, dengan hanya tersisa 6 yuan dan tidak ada ATM yang dapat ditemukan, ia harus pergi dari toko ke toko meminta pemiliknya untuk menggesek kartu banknya untuk mendapatkan uang tunai, sebuah tindakan yang sangat aneh sehingga penduduk setempat mencurigainya terlibat dalam jaringan pencucian uang.

Yang Hao terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita lanjut usia di Provinsi Yunnan pada tahun 2024. Foto disediakan oleh subjek foto.
Pulihkan nilai semula.
Yang Hao kembali ke rumah pada tanggal 9 April 2024, tepat 134 hari setelah berangkat. Dia mulai mengorganisir materi yang telah dikumpulkannya, termasuk catatan, foto, dan entri buku harian, dan kini telah menyelesaikan sebuah film dokumenter dan sebuah buku tentang perjalanan tersebut.
Terlepas dari menghadapi berbagai ketidaknyamanan dan kesalahpahaman yang tak terhitung jumlahnya, perjalanan 134 hari terputus dari dunia digital membuktikan satu kebenaran: kehidupan tanpa internet, meskipun lambat dan canggung, membuka ruang spiritual yang sangat kaya yang secara tidak sengaja telah dirampas oleh dunia digital dari umat manusia.
Tanpa suara notifikasi yang terus-menerus dari aplikasi, tanpa tekanan untuk segera membalas pesan, orang-orang memiliki kesempatan untuk kembali ke nilai-nilai asli mereka. Selama perjalanan, Duong Hao membaca sekitar 40 buku fisik tentang sejarah dan catatan perjalanan serta menulis lusinan surat tulisan tangan kepada keluarganya. Alih-alih bepergian dengan kereta cepat untuk menghemat waktu, ia memilih kereta tradisional yang lambat agar dapat sepenuhnya mengagumi pemandangan alam di luar jendela, dari ladang hijau yang subur hingga bukit-bukit yang tertutup salju.

Pemandangan perbukitan yang tertutup salju di tepi Gurun Taklamakan, Hotan, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur, pada tahun 2024. Foto disediakan oleh subjek foto.
Secara khusus, ketiadaan telepon memaksa orang untuk berinteraksi langsung satu sama lain alih-alih melalui layar. Karena tidak dapat mencari informasi sendiri, Yang Hao harus bertanya arah dan mengobrol dengan orang asing di kereta, mulai dari orang tua di Yunnan hingga penumpang lainnya. Melalui pertemuan langsung inilah pemahaman dan kebaikan antarmanusia dipupuk. Banyak orang, setelah mengetahui tentang eksperimennya, dengan antusias memberikan nomor telepon mereka untuk tetap berhubungan. Terputus dari dunia maya ternyata justru memperkuat hubungan dengan dunia nyata.
Keseimbangan di era digital
Merenungkan perjalanan terobosannya, Duong Hao dengan jujur berbagi: "Ketika saya mengasingkan diri dan jauh dari internet, saya bisa menikmati hal-hal yang selalu saya hargai, tetapi itu juga datang dengan biaya yang signifikan. Kereta lambat berarti pemandangan indah, tetapi efisiensi hidup rendah, dan perjalanan itu tentu tidak membawa manfaat ekonomi langsung. Tetapi yang penting adalah saya mengejar kehidupan yang paling saya nikmati secara pribadi."

Ini adalah surat pertama yang ditulis Yang Hao kepada orang tuanya selama perjalanannya, pada tahun 2023. Foto disediakan oleh subjek, diterjemahkan oleh Sixth Tone.
Jelas, meninggalkan internet sepenuhnya bukanlah seruan ekstrem untuk memberantas teknologi, karena mereka yang terlibat mengakui bahwa kecerdasan buatan (AI) dan kemajuan teknologi adalah sumber daya ampuh yang membantu membebaskan tenaga kerja manusia. Isu inti yang diangkat oleh perjalanan ini adalah seruan untuk menyadari hubungan antara manusia dan teknologi. Apakah kita menggunakan teknologi untuk melayani kehidupan kita, ataukah kita membiarkan teknologi memanipulasi dan menentukan kehidupan kita?
Setelah kembali ke kehidupan sehari-harinya, Yang Hao memilih pendekatan yang seimbang namun disiplin. Dia memasang Wi-Fi di rumah untuk bekerja tetapi sepenuhnya menonaktifkan data seluler di ponselnya. Ini berarti bahwa begitu dia melangkah keluar rumah, dia akan langsung offline, kembali sepenuhnya ke dunia nyata, ke suara klakson mobil, ke wajah-wajah asing yang tak terhitung jumlahnya di jalan, dan ke pikirannya sendiri.
Perjalanan Yang Hao selama 134 hari menjauh dari hiruk pikuk teknologi adalah bukti nyata bahwa hidup tanpa internet bisa menjadi normal jika orang memiliki keberanian dan pengendalian diri. Kehidupan yang tenang dan koneksi langsung yang tulus adalah anugerah yang mudah kita lewatkan ketika kita terlalu teng immersed dalam dunia maya. Kisah Yang Hao bukanlah nasihat ekstrem, tetapi hanya pengingat untuk membantu kita masing-masing menyesuaikan diri di dunia digital yang serba cepat ini.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/cuoc-life-will-be-what-if-there-is-no-internet-238260629191011949.htm








