Angka ini tidak hanya mengejutkan dalam skalanya, tetapi juga mengungkap paradoks yang sudah dikenal dalam ekonomi global: perang dapat menghancurkan banyak hal, tetapi bagi beberapa industri, perang justru menghadirkan peluang keuntungan yang sangat besar.

Keuntungan yang 'jatuh dari langit'

Menurut analisis terbaru, hanya dalam bulan pertama konflik, perkiraan total keuntungan tambahan bagi perusahaan minyak dan gas besar mencapai puluhan miliar dolar, atau sekitar 30 juta dolar per jam.

Ini bukanlah hasil dari inovasi teknologi atau perluasan produksi, melainkan apa yang dikenal sebagai "keuntungan luar biasa," yang timbul langsung dari lonjakan harga minyak.

Mekanisme di baliknya cukup sederhana: ketika perang pecah, risiko gangguan pasokan menyebabkan kecemasan pasar. Harga minyak langsung melonjak, dan perusahaan yang sudah memiliki produksi praktis dapat memperoleh keuntungan tanpa perlu melakukan apa pun.

Gambar 1 (11).png
Kenaikan tajam harga minyak di tengah ketegangan Timur Tengah telah menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan minyak dan gas global. Foto: Bloomberg

Selama krisis Timur Tengah tahun 2026, harga minyak sempat mendekati $100 per barel. Setiap tambahan dolar bukan hanya angka di layar elektronik, tetapi jutaan dolar keuntungan yang mengalir ke kantong perusahaan-perusahaan energi.

Para 'pemenang' yang sudah dikenal

Daftar penerima manfaat tersebut tidak banyak mengejutkan. Mereka adalah perusahaan-perusahaan minyak dan gas raksasa dengan jaringan produksi global, yang mendominasi pasar energi selama beberapa dekade.

Inti dari sektor ini adalah "perusahaan raksasa" seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, dan TotalEnergies, yang merupakan perusahaan komprehensif yang mengintegrasikan eksplorasi, transportasi, penyulingan, dan distribusi dalam skala global.