Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Monthly Notices of the Royal Astronomical Society menunjukkan bahwa cakram primordial galaksi Bima Sakti, tempat Bumi berada, sebenarnya hancur 11 miliar tahun yang lalu.
Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Matthew Orkney dari Universitas Barcelona dan Institut Penelitian Antariksa Catalonia (Spanyol) serta Dr. Chervin Laporte dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).

Menurut Menurut Sci-News , cakram galaksi adalah struktur raksasa yang berputar, terdiri dari bintang dan gas, dengan lengan spiral terang yang memanjang dari pusatnya.
Sebagian besar bintang di galaksi Bima Sakti—termasuk Matahari—terletak di dalam cakram ini, berputar di ruang angkasa dengan kecepatan melebihi 220 km/detik.
Selama beberapa dekade, para astronom telah mencoba untuk menentukan momen tepat kapan struktur raksasa yang berputar ini pertama kali muncul.
"Petunjuk kuncinya terletak pada pergerakan dan usia bintang-bintang: Pada suatu titik dalam sejarah awal Bima Sakti, bintang-bintang mulai bergerak dalam pola rotasi teratur, menandai titik dalam percepatan rotasi Bima Sakti," jelas para penulis.
Namun, Bima Sakti tidak berkembang secara terisolasi. Ia adalah "monster Frankenstein" dari alam semesta.
Beberapa bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya, Bima Sakti telah bergabung dengan sekitar 20 galaksi lain untuk mencapai struktur dan ukurannya saat ini.
Data dari misi Gaia Badan Antariksa Eropa (ESA) pada tahun 2018 mengungkapkan tabrakan besar yang diyakini terjadi sekitar 10 miliar tahun yang lalu, yang dikenal sebagai penggabungan Gaia-Sausage-Enceladus (GSE).
Dalam studi baru ini, para penulis menjalankan simulasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang tabrakan awal yang krusial ini.
Data baru menunjukkan bahwa peristiwa penggabungan GSE mungkin terjadi jauh lebih awal, sekitar 11 miliar tahun yang lalu, dan sangat dahsyat sehingga menghancurkan cakram bintang purba Bima Sakti, dan membentuknya kembali sepenuhnya.
Namun itu juga merupakan kabar baik, karena tabrakan itu sendiri memberikan lompatan dalam evolusi galaksi.
"Model penggabungan GSE memprediksi bahwa akan terjadi pertunjukan 'kembang api galaksi' setelah tabrakan, yang memicu pembentukan bintang dan memfasilitasi pembentukan gugus bola," kata Dr. Laporte.
Menurut Anh Thu (NLDO)
Sumber: https://baogialai.com.vn/dai-ngan-ha-nguyen-thuy-da-bi-pha-huy-post587886.html









Komentar (0)