Dispnea (sesak napas) adalah gejala umum pada pasien gagal jantung, yang muncul mulai stadium 2 dan seterusnya. Pada stadium ini, pasien mengalami sesak napas saat melakukan aktivitas berat, yang biasanya membaik dengan istirahat. Pada stadium 3 dan 4, bahkan aktivitas ringan pun dapat menyebabkan sesak napas, dan ini seringkali tidak membaik dengan istirahat.
Sesak napas pada pasien dengan gangguan fungsi jantung dapat memburuk ketika pasien berbaring dengan kepala terangkat. Terkadang, sesak napas terjadi tiba-tiba di malam hari, membangunkan pasien dan mencegah mereka tidur karena sesak napas dan kesulitan bernapas. Mereka mungkin perlu menggunakan bantal tambahan untuk mengangkat tubuh bagian atas atau duduk tegak agar bernapas lebih mudah.
Salah satu gejala umum gagal jantung adalah sesak napas.
Pasien dengan gangguan fungsi jantung mungkin mengalami sesak napas selama berbagai aktivitas, baik siang maupun malam, dengan karakteristik sebagai berikut.
Sesak napas saat beraktivitas
Sesak napas saat beraktivitas adalah gejala gagal jantung yang paling umum. Pada tahap awal, pasien mungkin mengalami sesak napas dan nyeri dada saat melakukan aktivitas sedang: berjalan, menaiki tangga, berolahraga, atau aktivitas berat. Hal ini biasanya membaik dengan istirahat. Namun, pada tahap lanjut, sesak napas saat beraktivitas seringkali tidak membaik meskipun sudah beristirahat.
Kesulitan bernapas saat berbaring.
Gagal jantung adalah salah satu penyebab sesak napas saat berbaring. Pasien sering merasa sesak napas saat berbaring untuk menonton TV, membaca, atau selama pemeriksaan medis. Sesak napas biasanya mereda saat mereka berdiri atau duduk.
Sesak napas saat berbaring terjadi karena ketika berbaring telentang, darah dari kaki berkumpul di pembuluh darah paru-paru, menyebabkan cairan menumpuk di sekitar paru-paru dan tumpah ke alveoli, sehingga mempersulit pertukaran gas. Selain itu, sesak napas saat berbaring juga dapat menjadi tanda kondisi lain seperti hipertensi paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), edema paru, pneumonia berat, dan lain-lain.
Kesulitan bernapas di malam hari.
Sesak napas nokturnal terjadi saat tidur, menyebabkan sesak napas dan terbangun tiba-tiba setelah 1-2 jam tidur. Sesak napas nokturnal dapat disertai batuk, dan berhubungan dengan penumpukan darah di pembuluh darah paru-paru pada gagal jantung. Pasien merasa lebih nyaman bernapas setelah 10-15 menit duduk tegak.

Sesak napas adalah gejala umum pada pasien gagal jantung. (Gambar ilustrasi)
Faktor risiko sesak napas pada pasien gagal jantung.
Beberapa faktor berkontribusi terhadap peningkatan risiko sesak napas pada pasien gagal jantung, termasuk:
Efek samping obat: Obat-obatan tertentu, seperti obat untuk diabetes, tekanan darah tinggi, kemoterapi, gangguan darah, detak jantung tidak teratur, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), penyakit paru-paru, dan infeksi saluran kemih, dapat meningkatkan risiko masalah jantung dan menyebabkan sesak napas.
Anemia dan kekurangan zat besi: Kondisi ini dapat meningkatkan risiko sesak napas. Sel darah merah dalam darah berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke organ-organ tubuh, sehingga anemia berat menyebabkan pasokan oksigen yang tidak mencukupi ke tubuh, disfungsi ventrikel kiri, dan memengaruhi fungsi pemompaan jantung.
Gaya hidup kurang gerak: Kurangnya olahraga dengan mudah menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas, meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah. Aktivitas fisik telah terbukti efektif dalam melindungi kesehatan kardiovaskular, sehingga mengurangi gejala seperti sesak napas, kesulitan bernapas, dan nyeri dada.
Obesitas: Individu yang kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami sesak napas dibandingkan pasien dengan BMI normal.
Penyakit penyerta seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, pneumonia, dan emboli paru, jika dikombinasikan dengan gagal jantung, dapat meningkatkan tekanan pada jantung, meningkatkan resistensi saluran napas, menyebabkan hipoksemia, dan mengakibatkan sesak napas, yang mungkin disertai mengi, sehingga memperburuk kondisi.
Catatan: Untuk mengatasi sesak napas akibat gagal jantung, pasien harus melakukan perubahan gaya hidup untuk membantu mengendalikan dan memperbaiki gejala seperti: mengontrol asupan garam harian, menggunakan maksimal 2g garam/hari; mengonsumsi makanan kaya serat, omega-3, dan antioksidan: sayuran hijau, buah-buahan segar, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran akar berwarna gelap, dan ikan berlemak; membatasi konsumsi alkohol; mengganti daging merah dengan daging putih dari ikan, ayam, dan bebek (buang kulitnya); meningkatkan aktivitas fisik, berolahraga secara teratur dan secukupnya; berhenti merokok; mengontrol berat badan; menghindari stres berlebihan; memperbaiki lingkungan dan kualitas tidur…
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/dau-hieu-dac-trung-nhan-biet-kho-tho-do-suy-tim-169260331130520507.htm







