Mulai dari kebutuhan anak-anak hingga tanggung jawab kota.
Semasa hidupnya, Presiden Ho Chi Minh menulis: "Anak-anak bagaikan tunas di dahan / Mengetahui cara makan, tidur, dan belajar adalah perbuatan baik." Dua baris puisi sederhana ini mengandung cinta mendalam Paman Ho kepada anak-anak, sekaligus mengingatkan orang dewasa akan tanggung jawab mereka untuk memelihara generasi penerus bangsa. Anak-anak tidak hanya perlu diberi makan dengan baik, berpakaian hangat, dan menerima pendidikan yang layak, tetapi juga perlu bermain dan hidup dalam lingkungan budaya yang sehat, aman, manusiawi, dan inspiratif.

Pada tanggal 1 Juni, saat merenungkan anak-anak Hanoi saat ini, kita seharusnya tidak hanya memikirkan kegiatan menyenangkan di hari libur ini. Lebih penting lagi, kita harus mempertimbangkan perjalanan mereka tumbuh dewasa di kota yang berkembang pesat. Hanoi semakin modern, dengan banyak kawasan perkotaan baru, jalan raya, gedung, dan pusat perbelanjaan yang dibangun. Namun bersamaan dengan itu, pertanyaan penting perlu diajukan: Apakah anak-anak di ibu kota memiliki cukup ruang untuk bermain, belajar, membaca, mengapresiasi seni, berolahraga, dan mengembangkan kemampuan kreatif mereka?
Pada kenyataannya, di banyak daerah pemukiman, terutama di daerah perkotaan baru, gedung-gedung tinggi bermunculan dengan cepat, dan populasi meningkat pesat, tetapi taman bermain, perpustakaan, taman kecil, dan ruang budaya untuk anak-anak belum mengimbangi pertumbuhan tersebut. Banyak anak, sepulang sekolah, kembali ke apartemen mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan telepon, tablet, dan televisi daripada dengan buku, taman bermain, museum, teater, atau kelas kreatif. Beberapa anak tinggal sangat dekat dengan pusat perbelanjaan yang terang benderang tetapi jauh dari perpustakaan anak yang layak, taman bermain umum yang bersih dan indah, museum dengan cerita-cerita yang menarik, atau teater khusus untuk anak-anak.
Ini adalah paradoks kehidupan perkotaan modern. Kota-kota mungkin menawarkan fasilitas yang semakin nyaman, namun anak-anak mungkin masih kekurangan ruang pribadi mereka sendiri. Mereka mungkin memiliki akses awal ke teknologi, tetapi hanya sedikit kesempatan untuk terhubung dengan alam, sejarah, seni, dan kehidupan komunitas. Mereka mungkin belajar banyak di sekolah, tetapi kekurangan tempat di mana mereka dapat dengan bebas berimajinasi, bertanya, bereksperimen, menjelajah , gagal, mencoba lagi, dan tumbuh.
Oleh karena itu, masalahnya bukan hanya kurangnya ruang bermain. Lebih mendasar lagi, ini adalah kebutuhan untuk membangun ekosistem budaya bagi anak-anak. Seorang anak membutuhkan lebih dari sekadar perosotan atau beberapa peralatan olahraga di halaman kompleks apartemen. Mereka membutuhkan perpustakaan untuk menumbuhkan kecintaan pada buku; taman untuk berlari, melompat, dan menyentuh pepohonan dan dedaunan; museum untuk memahami sejarah melalui emosi yang hidup; teater dan bioskop untuk memelihara jiwa estetika mereka; dan pusat sains, kreativitas, dan STEM untuk memicu pemikiran, imajinasi, dan semangat mereka untuk menemukan hal-hal baru.

Mengamati kehidupan anak-anak juga berarti mengamati kedalaman kemanusiaan di sebuah kota. Sebuah kota modern tidak hanya diukur dari jalan yang lebar dan gedung-gedung tinggi, tetapi juga dari tawa anak-anak di taman, jumlah anak yang membaca di perpustakaan, akhir pekan yang dihabiskan keluarga bersama di museum, kenyataan bahwa anak-anak penyandang disabilitas dapat mengakses taman bermain umum, dan kemampuan setiap anak, baik di pusat kota maupun pinggiran kota, untuk menikmati nilai-nilai budaya secara setara.
Sungguh menggembirakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Pemerintah Pusat dan Kota Hanoi terhadap anak-anak, serta terhadap sistem lembaga budaya, olahraga, rekreasi, dan pendidikan bagi generasi muda, semakin terlihat jelas. Resolusi 80-NQ/TW tentang pengembangan budaya Vietnam telah menempatkan budaya pada posisi sebagai landasan spiritual, sumber daya endogen, dan penggerak pembangunan nasional. Ketika budaya diakui sebagai pilar pembangunan, berinvestasi dalam lingkungan budaya bagi anak-anak berarti berinvestasi dalam masa depan bangsa dan dalam kualitas masyarakat Vietnam di era baru.
Secara khusus, Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menekankan perlunya mempersiapkan generasi anak-anak Vietnam yang lebih berkembang secara komprehensif, sehat secara fisik, berhati murni, berkemauan keras, berpengetahuan luas, terampil, berbelas kasih dalam gaya hidup mereka, dan percaya diri dalam berintegrasi. Ini adalah pesan yang sangat mendalam. Karena untuk memiliki generasi anak-anak yang berkembang secara komprehensif, kita tidak hanya dapat fokus pada nilai, sekolah, dan buku teks, tetapi juga harus memperhatikan ruang bermain, ruang budaya, ruang kreatif, dan ruang aman di mana mereka dapat menjadi diri mereka sendiri.
Hanoi juga telah melakukan banyak upaya yang patut dipuji. Kota ini telah berfokus pada investasi fasilitas budaya dan olahraga di tingkat akar rumput; mengembangkan taman dan ruang publik; dan meningkatkan fasilitas untuk anak-anak. Istana Anak Hanoi yang baru merupakan landmark penting, dengan skala modern dan berbagai fungsi yang melayani pembelajaran, seni, olahraga, sains, dan rekreasi anak-anak. Bangunan ini bukan hanya tempat untuk kegiatan anak-anak tetapi juga simbol kepedulian ibu kota terhadap generasi masa depan.

Namun, bahkan Istana Anak yang paling modern pun tidak dapat menggantikan jaringan ruang anak yang luas. Anak-anak membutuhkan ruang yang dekat dengan tempat tinggal mereka, dekat dengan sekolah mereka, dan dekat dengan komunitas mereka. Akses terhadap budaya, seni, sains, dan olahraga tidak dapat semata-mata bergantung pada keadaan keluarga, lokasi geografis, atau mobilitas. Sebuah ibu kota yang bahagia harus menjadi tempat di mana setiap anak, baik di distrik pusat maupun di pinggiran kota, baik di daerah perkotaan baru maupun di desa di pinggiran, memiliki kesempatan untuk bermain, belajar, berkreasi, dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang.
Untuk memberikan Hanoi lebih banyak ruang untuk menumbuhkan perkembangan anak.
Untuk menyediakan lebih banyak ruang bagi anak-anak, Hanoi harus terlebih dahulu menempatkan anak-anak sebagai pusat perencanaan dan pengembangan kota. Di setiap kawasan perkotaan baru, setiap kelurahan, setiap desa, dan setiap kelompok permukiman, perlu ada target khusus untuk taman bermain, taman kecil, perpustakaan komunitas, ruang olahraga, dan area untuk seni dan kegiatan kreatif bagi anak-anak. Ruang untuk anak-anak tidak boleh menjadi "sisa" setelah lahan dialokasikan untuk perumahan, perdagangan, transportasi, dan parkir. Sebaliknya, ruang tersebut harus dipertimbangkan sejak awal, dilindungi oleh perencanaan, dipelihara oleh pengelolaan yang bertanggung jawab, dan diperkaya oleh partisipasi masyarakat.
Kita perlu membayangkan setiap kawasan permukiman sebagai "desa masa kecil" di dalam kota. Di sana, anak-anak dapat berjalan kaki ke taman bermain yang aman; meminjam buku dari perpustakaan kecil; mengikuti kelas seni, musik, atau mendongeng; bermain olahraga sepulang sekolah; dan bertemu teman-teman di kehidupan nyata, bukan hanya melalui layar. Ruang-ruang ini tidak harus besar, megah, atau mahal. Yang penting adalah ruang-ruang tersebut mudah diakses, bersih, ramah, terorganisir secara teratur, dan benar-benar milik anak-anak.
Hanoi perlu memberikan perhatian khusus pada pengembangan perpustakaan dan budaya membaca untuk anak-anak. Kota yang mencintai anak-anak haruslah kota yang tahu bagaimana menyediakan buku bagi anak-anak. Perpustakaan anak-anak perlu direformasi agar tidak lagi menjadi tempat yang sunyi dan kaku, tetapi menjadi ruang yang hangat, penuh warna, dan imajinatif. Di sana, Anda akan menemukan buku-buku bagus, gambar-gambar indah, pojok baca keluarga, waktu bercerita, klub menulis kreatif, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan penulis, seniman, dan ilmuwan. Ketika seorang anak belajar mencintai buku, mereka tidak hanya memperoleh lebih banyak pengetahuan tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan, berimajinasi, berempati, dan hidup lebih dalam.

Bersama dengan perpustakaan, taman dan taman bermain umum harus dianggap sebagai "paru-paru masa kanak-kanak" kota. Anak-anak membutuhkan olahraga, sinar matahari, pepohonan hijau, dan permainan yang membantu mereka belajar kerja sama, berbagi, ketekunan, dan keberanian. Hanoi harus terus meninjau lahan publik, lahan kosong, dan ruang yang kurang dimanfaatkan untuk merenovasinya menjadi taman bermain kecil, kebun komunitas, dan fasilitas olahraga anak-anak. Setiap taman bermain perlu dirancang dengan aman, dengan peralatan yang sesuai usia, ruang untuk anak-anak penyandang disabilitas, pepohonan hijau, penerangan, dan pengawasan komunitas.
Museum juga harus menjadi tempat yang ingin dikunjungi anak-anak, bukan hanya tempat yang mereka kunjungi dalam tur wajib. Hanoi memiliki kekayaan warisan yang luar biasa: Benteng Kekaisaran Thang Long, Kuil Sastra, Kota Tua, desa-desa kerajinan tradisional, peninggalan revolusi, museum, dan ruang memori perkotaan. Tantangannya adalah bagaimana membuat situs-situs warisan ini menceritakan kisah dalam bahasa anak-anak. Diperlukan lebih banyak program berbasis pengalaman, seperti "sehari sebagai arkeolog," "anak-anak menceritakan kisah Thang Long," "perjalanan warisan Hanoi," dan "anak-anak menjadi pengrajin di desa-desa kerajinan tradisional." Ketika museum tahu cara bercerita, sejarah tidak akan lagi terasa jauh; warisan tidak hanya akan tetap berada di dalam etalase kaca, tetapi akan memasuki hati anak-anak sebagai sumber kebanggaan yang lembut.
Salah satu bidang yang sangat membutuhkan perhatian lebih adalah seni anak-anak. Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak memiliki jiwa yang indah jika mereka kekurangan kesempatan untuk mengalami keindahan. Hanoi membutuhkan lebih banyak drama, pertunjukan wayang, pertunjukan sirkus, musik, kartun, film anak-anak, dan program seni rakyat yang berkualitas yang dibuat dengan menghormati anak-anak. Kota ini dapat memesan pembuatan, pementasan, dan penyebaran seni anak-anak; mendukung seniman, teater, dan kelompok kreatif dalam mengembangkan program berkualitas; dan membawa seni kepada anak-anak di daerah pinggiran kota, anak-anak kurang mampu, dan anak-anak penyandang disabilitas.
Di era baru ini, di samping budaya membaca dan seni, anak-anak Hanoi sangat membutuhkan pusat sains, kreativitas, dan STEM. Ini adalah tempat di mana anak-anak tidak hanya belajar pengetahuan tetapi juga dapat mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan, merakit model, mengamati langit, memprogram robot, mendesain produk, dan menjelajahi lingkungan, energi, dan kecerdasan buatan dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Ruang-ruang seperti ini membantu anak-anak memahami bahwa sains bukanlah hal yang asing, kreativitas bukan hanya untuk para jenius, dan bahwa setiap anak dapat memulai dengan rasa ingin tahu.

Namun, membangun fasilitas baru hanyalah langkah awal. Yang lebih penting, ini tentang membuat lembaga-lembaga tersebut menjadi dinamis. Perpustakaan tanpa kegiatan yang menarik akan sepi pengunjung. Pusat kebudayaan yang kekurangan penyelenggara program akan menjadi sepi. Taman bermain yang tidak terawat akan cepat rusak. Museum yang tidak berinovasi dalam pendekatannya akan kesulitan mempertahankan pengunjung anak-anak. Oleh karena itu, Hanoi perlu melakukan inovasi drastis dalam cara mengoperasikan lembaga-lembaga budaya untuk anak-anak, mengukur efektivitas tidak hanya dari jumlah fasilitas yang dibangun, tetapi juga dari jumlah anak yang berkunjung secara teratur, dari kegembiraan mereka, dari kepuasan keluarga mereka, dan dari kebiasaan budaya positif yang terbentuk.
Penting juga untuk memperluas kemitraan publik-swasta dan partisipasi seluruh masyarakat. Negara memainkan peran kunci dalam pembuatan kebijakan, perencanaan tata guna lahan, investasi infrastruktur, dan memastikan akses yang adil. Dunia usaha dapat berkontribusi melalui tanggung jawab sosial: mensponsori taman bermain, perpustakaan, beasiswa kreatif, kelas STEM, dan program seni. Sekolah dapat memasukkan museum, perpustakaan, teater, dan taman ke dalam program pendidikan berbasis pengalaman. Keluarga dapat meluangkan waktu untuk membawa anak-anak mereka ke ruang budaya daripada hanya membeli lebih banyak perangkat elektronik. Masyarakat dapat bekerja sama untuk memelihara, melindungi, dan memperindah taman bermain anak-anak mereka.
Hari Anak Internasional pada tanggal 1 Juni mengingatkan kita bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan kasih sayang pada satu hari saja, tetapi juga perhatian dalam setiap kebijakan, setiap jalan, setiap taman, setiap perpustakaan, setiap teater, setiap museum, dan setiap halaman kecil di lingkungan mereka. Hadiah terindah yang dapat diberikan orang dewasa kepada anak-anak bukanlah sekadar mainan, permen, atau harapan, tetapi lingkungan hidup yang aman, manusiawi, dan kaya budaya tempat mereka dapat bermain, belajar, bermimpi, dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Karena di mata setiap anak, ada Hanoi masa depan. Dalam setiap tawa di taman bermain, setiap halaman yang dibuka, setiap pertunjukan yang menyentuh hati mereka, setiap eksperimen yang membuat mereka berseru kagum, kita melihat wujud ibu kota yang lebih bahagia, lebih manusiawi, dan lebih layak huni.

Pada tanggal 1 Juni, yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak Hanoi bukan hanya "Semoga kalian bahagia," tetapi juga sebuah janji yang serius: kita akan memberi mereka lebih banyak ruang untuk tumbuh, lebih banyak kesempatan untuk bermimpi, dan lebih banyak kasih sayang yang diwujudkan melalui tindakan nyata.
Sumber: https://hanoimoi.vn/de-tre-em-co-them-nhung-khoang-troi-tuoi-tho-976471.html








Komentar (0)